#JK75 Cerita Tentang Kalla



Buku : #JK75 Cerita Tentang Kalla

Penulis : Tim Wartawan Wapres 2017

Editor : Adi Sulhardi & Buyung Wijaya Kusuma

Penerbit : Kompas

Tempat : Jakarta

Tahun : 2017

Jumlah Halaman : xvi+168

Ukuran : 14 cm x 21 cm

ISBN : 978-602-412-266-9

Menjelang hari ulang tahun ke-75 Jusuf Kalla atau yang akrab dipanggil pak JK, sekelompok wartawan yang khusus bertugas di kantor Wakil Presiden yang waktu itu dijabat oleh pak JK, menerbitkan buku ini. Ada 22 orang wartawan muda yang terkadang memanggil pak JK dengan panggilan “Opa” yang bertugas di kantor Wakil Presiden waktu itu. Keduapuluh-dua orang inilah yang menuliskan dan mengumpulkan pengalaman mereka selama berinteraksi dengan pak JK selama masa jabatan beliau sebagai Wakil Presiden pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Buku ini sangat menarik dibaca, karena berisi pengalaman pengalaman pribadi para wartawan dalam meliput semua kegiatan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ada pengalaman lucu, jenaka dan kadang mengharukan. Selain tulisan ringan para wartawan, juga ada kesaksian atau testimony orang dekat beliau. Ada ulasan dari Husain Abdullah, juru bicara pak JK, ada juga tulisan dari Najwa Shihab dan Rosiana Silalahi, keduanya merupakan Jurnalis Televisi.

Terdiri dari 5 bagian utama, diawali dengan sepatahkata dari penulis dan dari jurnalis televisi. Kemudian kelima bagian utama tersebut yaitu :

ü  -Masa Lalu Seorang JK

ü  -JK Bersama Keluarganya

ü  -JK dan Gaya Hidupnya

ü  -Kala JK di Pemerintahan

ü  -Dari JK untuk Indonesia dan Dunia

Dari setiap bagian inilah ada tulisan para wartawan Istana Wakil Presiden. Ada kisah tentang pak JK ketika masih muda kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada tahun 1960an dan menjadi asisten dosen dari pak Ambar, sementara itu pak Ambar, adalah asisten dosen dari pak Muhammad Hatta (Bung Hatta) yang waktu itu sudah tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden.

Peran pak JK dalam mengatasi berbagai konflik ditanah air dan dunia juga ada dikisahkan dalam buku ini. Mulai dari konflik Ambon, Poso, dan persoalan  Aceh dengn GAM-nya. Pengalaman menjadi host sebuah Talk-Show di salah satu stasiun Televisi, yang berjudul “Talk Show Jalan Keluar” juga dibahas dalam buku ini. Ada juga tentang persahabatan beliau dengan mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Najib bin Tun Abdurrazak yang berdarah Makassar.

Muhammad Jusuf Kalla akan selalu jadi tokoh paling menarik untuk diwawancarai dalam situasi apa pun. Bukan saja karena jejek pengalamannya tetapi karena gayanya yang ringan dan apa adanya.” Itulah kata kata Najwa Shihab dalam buku ini.

Muhammad Jusuf Kalla, orang Bugis dan tokoh dari Sulawesi Selatan, seorang pengusaha yang menjadi Wakil Presiden dua kali dengan Presiden yang berbeda. Pernah menjadi juru runding untuk mengatasi konflik konflik, baik di negeri sendiri maupun dinegara tetangga. Sampai sekarang masih menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesi (PMI) dan kegiatan sosial lainnya.

Buku ini diakhiri dengan nama dan foto para penulis (wartawan) yang menyumbangkan tulisannya di buku ini, dan juga ada indeks yang disusun secara alphabetis sesuai topik yang dibahas. Indeks ini memudahkan pembaca dalam mencari topik apa saja yang ingin dibaca dalam buku ini. Buku ini juga dilengkapi dengan foto illustrasi berwarna berbagai kegiatan pak JK selama menjabat sebagai Wakil Presiden.

 

 




Sultan Hasanuddin Menentang VOC




Buku : Sultan Hasanuddin Menentang VOC

Penulis : Sagimun M.D.

Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Tempat : Jakarta

Tahun :  1985

Jumlah Halaman : v + 298

ISBN : –

Buku ini merupakan salah satu buku dari seri Pahlawan Nasional yang dilaksanakan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) pada Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.  Prof. Dr. Haryati Soebadio Direktur Jenderal Kebudayaan mengharapkan penerbitan buku ini akan menambah sarana penelitian dan kepustakaan yang diperlukan untuk pembangunan bangsa dan Negara, khususnya pembangunan kebudayaan.

Terbagi menjadi 5 bagian atau bab, buku ini diawali dengan sambutan Dirjen Kebudayaan, kemudian bab pertama yang membahas Serba Serbi Sulawesi Selatan. Pada bab pertama ini diuraikan tentang Susunan pemerintahan kerajaan Gowa, bagaimana pemilihan dan pengangkatan seorang raja, bagaimana pelantikan dan penobatan raja Gowa, tingkatan dalam masyarakat Bugis – Makassar dan juga pemberian nama dan gelar pada orang orang Makassar.

Selanjutnya bab kedua membahas Kerajaan Gowa sampai Sultan Hasanuddin Naik Tahta. Pada bagian ini, dibahas pula masa masa sebelum adanya Tumanurung di Tamalate sebagai raja pertama Gowa, juga tentang Gallarang – gallarang yang membentuk Batara Gowa dan silsilah anak keturunan raja raja Gowa.

Bab ketiga adalah inti pokok pembahasan buku ini yaitu Sultan Hasanuddin melawan VOC. Pada bagian ini diuraikan tentang bagaimana perdagangan antara negeri negeri di nusantara dengan VOC dan aturan aturan yang telah ditetapkan. Juga konflik antar kerajaan kerajaan yang ada di bagian timur nusantara yang melibatkan VOC. Pada bagian ini juga dibahas tentang Perjanjian Bungayya dengan pasal pasalnya yang banyak merugikan kerajaan Gowa.

Bagian keempat adalah Pertempuran Seru memperebutkan Benteng Somba Opu. Bagian terakhir adalah penutup dan Daftar Pustaka dimana pembaca bisa melihat buku buku rujukan dalam penyusunan buku ini. Ada 28 buku rujukan dalam penyusunan buku ini, termasuk beberapa diantaranya  berbahasa Belanda.

Buku ini cukup lengkap dan detail dalam menguraikan sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin. 




Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Selatan





Buku : Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Selatan

Penulis : Tim Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Sulawesi Selatan (Drs. Abu Hamid, Drs. M. Johan Nyompa, Drs. Ambo Gani, A. Jalaluddin)

Penerbit : Pusat Penelitian Sejarah Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Tempat : Jakarta

Tahun  : 1977

Jumlah Halaman : xiv + 142

ISBN : –

Sulawesi Selatan adalah salah satu dari 10 daerah (provinsi) yang menjadi tempat pelaksanaan penelitian pencatatan kebudayaan, yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Sejarah Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1976-1977. Pada waktu itu yang diteliti dan dicatat pada 10 daerah yang telah ditentukan adalah : sejarah daerah, adat istiadat, cerita rakyat daerah, ensi musik/tari daerah dan geografi budaya daerah.

Buku ini salah satu hasil penelitian dan pencatatan cerita rakyat daerah Sulawesi Selatan. Ada anggota tim yang datang kedaerah daerah di Sulawesi Selatan, mewawancarai, merekam dan mendokumentasikan orang orang untuk berkisah tentang cerita rakyat yang mereka ketahui. Hasil rekaman kisah cerita rakyat itu kemudian dikumpulkan dan dicetak menjadi satu buku.

Dalam buku ini ada 20 cerita rakyat yang berhasil dikumpulkan. Setiap kisah atau cerita dilengkapi dengan nama informan, pengumpul, peneliti, dan penerjemah, yaitu nama, umur, pendidikan, asal, alamat, bahasa dan tanggal pelaksanaan wawancara.  Kedua puluh cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut adalah:

  1. La Mellong
  2. La Sallomo
  3. Bebengnge
  4. Cindea (Alat Kerajaan Gowa asal Pattallassang)
  5. Sulengkaya (Alat Kerajaan Gowa asal Maros)
  6. La Pallaoruma
  7. Cerita Nabi Sulaeman
  8. Arase Sapadilla
  9. Bakka Maroe
  10. Manurungnge ri Matajang
  11. Mangiwang
  12. Daung Kace
  13. Polopadang mengikuti istrinya kelangit
  14. Asal mula negeri Bajeng
  15. Asal Usul Orang Wajo (Serta hubungannya dengan penamaan Pulau pulau Sembilan di kabupaten Sinjai
  16. Masapi di Bejo
  17. Terjadinya Lima Sungai Besar di Sulawesi Selatan (Sungai Walanae, Sungai Cenrana, Sungai Tangka,  Sungai Apareng, Sungai Jeneberang)
  18. La Pettu Galanna
  19. Istri Nachoda yang Setia
  20. Mengkhianati Kawan

Buku ini ditutup dengan daftar bahan bacaan (daftar pustaka) dan lampiran peta Sulawesi Selatan.



Terjemahan Memorie Van Overgave Controleur Tana Toraja 1946-1947



Buku : Terjemahan Memorie Van Overgave Controleur Tanah Toraja 1946 – 1947

Editor : Drs. H. A. Ahmad Saransi, M.Si.

Penerbit : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun : 2015

Tempat : Makassar

Jumlah Halaman : xii + 208

ISBN : –

Memorie Van Overgave adalah Memori Serah Terima Jabatan pada masa pemerintahan kolonian Belanda. Setiap Controleur (Kontrolir) atau semacam kepala daerah pada masa pemerintahannya membuat catatan berbagai kegiatan pemerintahan. Ada catatan tentan batas wilayah, luas, jumlah penduduk, iklim, sungai dan danau, etnografi, mata pencarian penduduk, strata sosial, tingkat pendidikan, kondisi kesehatan,  masalah hukum, sejarah dan lain lain.

Bentuk asli memori serah terima jabatan yang ada di unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan adalah dalam bentuk arsip arsip tua yang berbahasa Belanda. Mengingat betapa pentingnya sebuah memori serah terima jabatan bagi suatu daerah, maka dibentuklah suatu tim yang menerjemahkan dan kemudian menerbitkan kumpulan memori serah terima jabatan tersebut dalam bentuk buku.

Buku ini adalah terjemahan memori serah terima jabatan oleh J. M. Van Lijk, Controleur Tana Toraja pada periode pemerintahan 23 Juli 1946 – 23 Juni 1947. Memori Serah Terima Jabatan dalam bentuk aslinya yaitu Khazanah Arsip Statis Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Nomor Register 59. Pemustaka ataupun peneliti yang memerlukan Arsip aslinya dapat mencatat nomor registrasi dan Khazanah arsip tersebut dan berkunjung pada ruang Baca Arsip di Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 146., KM 12 Tamalanrea Makassar.

Terdiri dari 6 bagian (Bab) diawali dengan sambutan kepala Dinas, dan editor yang juga adalah kepala Bidang Pembinaan dan Pelayaan Kearsipan waktu itu. Selanjutnya adalah Pendahuluan pada bab pertama, disusul ulasan tentang Penduduk dan Etnografi pada bab kedua. Mata Pencarian penduduk dibahas pada bagian selanjutnya. Gejala Sosial pendidikan, Kesehatan, Masalah Hukum, Pemerintahan dan Sejarah adalah topik topik lain yang dibahas dalam buku ini.

Buku ini sangat bermanfaat terutama bagi para pemustaka, peneliti, pelajar, mahasiswa, para akademisi atau pun masyarakat umum yang ingin mengetahui tentang daerah Tana Toraja pada tahun 1946 – 1947.





Kampung Gantarang Lalang Bata


Dusun kecil dan terisolasi Gantarang Lalang Bata, terletak di Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar.
Untuk mencapai kampung kecil ini, memerlukan usaha tersendiri, karena harus melewati jalan sempit ditepian jurang, perbukitan, dipantai timur kabupaten kepulauan Selayar.

Kabupaten kepulauan Selayar dapat dicapai dengan perjalanan laut dengan kapal ferry selama 2 jam dari pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba. Dari kota Benteng kita menuju ke arah timur melewati jalanan kabupaten yang sempit dan menanjak. Dari jalan utama, memasuki jalan desa yang sebelah kiri dan kanan jalan terdapat jurang dan hutan kelapa. Di ujung jalan desa yang terjal, kita harus mendaki tangga yang juga terjal untuk sampai ke kampung ini. 



Memasuki perkampungan kita disambut dengan pemandangan langsung ke pekuburan tua dimana mana, dan juga rumah panggung penduduk yang berjejer. Ditengah tengah terletak mesjid tua yang juga dikelilingi oleh pekuburan tua. Perkampungan ini sangat terpencil. Penduduk yang bermukim disini juga memiliki sepeda motor yang disimpan di tempat parkir khusus sebelum naik tangga.

Perkampungan Gantarang Lalang Bata adalah sebuah perkampungan kecil dan tua yang sangat terpencil. Jumlah rumah yang ada dikampung itu sekitar 20an, dan disekitarnya dikelilingi kuburan tua yang kalau dilihat dari batu batu nisannya mungkin sudah mencapai 300 – 400an tahun. Kampung ini dikelilingi oleh jurang terjal dan satu satunya akses kesini adalah tangga dari jalan desa. 

Pusat segala kegiatan dari kampung ini adalah mesjid tua yang menurut sejarah dibangun oleh Datu Ribandang dalam perjalanannya pulang dari Kepulauan Buton. Mesjid tua di Gantarang ini tiang utamanya konon terbuat dari kayu pohon cabe (lombok) raksasa. Tiangnya terdirir dari 17 buah melambangkan jumlah rakaat dalam shalat. Disamping mesjid tua, ada satu meriam tua yang tergeletak begitu saja, kemungkinan peninggalan Perang Dunia ke-2. Kalau anda berkesempatan ke Kepulauan Selayar, silahkan kunjungi kampung ini, dimana anda akan menemukan suasana lain… suasana relijius, klasik, suasana kampung yang sepi dan sedikit mistik…

Tempat parkir motor warga sebelum naik tangga



 



 

Tiang tengah masjid 





Meriam peninggalan Perang Dunia ke-2







 Gambar: foto koleksi pribadi







#JK75 Cerita Tentang Kalla

Buku : #JK75 Cerita Tentang Kalla Penulis : Tim Wartawan Wapres 2017 Editor : Adi Sulhardi & Buyung Wijaya Kusuma Penerbit : Kompa...

Popular Posts