Perlawanan Rakyat Balanipa Mandar


Buku : Perlawanan Rakyat Balanipa – Mandar
Penulis : Muhammad Yusuf Naim
Penerbit : Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir, Makassar 2013
Jumlah Halaman : xi + 117
ISBN : 978-602-17316-6-6

Mungkin tidak banyak diantara kita yang mengetahui tentang perjuangan yang terjadi di Balanipa Mandar dimasa-masa perjuangan. Buku ini yang mengulas tentang perjuangan rakyat Balanipa Mandar ini bisa dijadikan sumber informasi tentang sejarah perjuangan di Sulawesi Barat. Balanipa adalah satu kerajaan yang pernah ada di wilayah Mandar (Sulawesi Barat sekarang). 

Terdiri dari 5 bagian, buku ini diawali dengan kata kata pengantar dari penerbit dan penulis, serta daftar isi dan daftar singkatan. Bagian pertama mengupas banyak hal tentang sejarah Balanipa Mandar. Mulai dari asal usul nama Balanipa, masa masa sebelum berdirinya kerajaan atau disebut juga masa Tomakaka, serta masa kerajaan hingga masuknya masa penjajahan Belanda. Juga disebutkan wilayah yang masuk kerajaan (Amaraq’dian) Balanipa sekarang ini, serta strata sosial dan budaya masyarakat Balanipa. 

Bagian kedua masa pendudukan Jepang. Ternyata masyarakat kerajaan Balanipa, awalnya menyambut gembira kedatangan bangsa Jepang yang dianggapnya sebagai “sang pembebas” dari penjajahan Belanda. Propaganda tentara Jepang yang selalu menganggap Indonesia sebagai saudara karena sama sama Asia, juga menarik simpati masyarakat Balanipa. Namun lama kelamaan, mulai timbul konflik antara rakyat dan tentara Jepang. Banyak kisah perlawanan rakyat Balanipa didalam buku ini. 

Masa Proklamasi Kemerdekaan dibahas dibagian ketiga, dimana tentara Belanda masih tetap ingin berkuasa di berbagai daerah di Indonesia, termasuk daerah Balanipa. Ada kisah yang menarik pada bagian ini, yaitu kisah “Robin Hood” dari Mandar, yang bernama Uak Ase’ Anggacong, yang merampas semua kain hasil kerja Jepang yang disimpan di Istana kerajaan, lalu membagikannya kepada rakyat Balanipa. Dan kisah kisah menarik lainnya.

Kedatangan sekutu/NICA (Tentara Belanda) yang masih ingin berkuasa di Indonesia. Di Balanipa, terbentuk organisasi yang namanya KRIS MUDA yang bertujuan untuk berjuang membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda (sekutu) kembali. Dua tokoh KRIS MUDA adalah Riri Amin Daud dan A.R. Tamma. Selain KRIS MUDA ada juga lasykar GAPRI 531. KRIS MUDA adalah Kebaktian Rahasia Islam Muda. Sedangkan GAPRI 531 adalah Gabungan Pemberontak Rakyat Indonesia Kode 531. Satu lagi kelasykaran yang juga berjuang mempertahankan kemerdekaan adalah ALRI PS. Ketiga organisasi kelasykaran inilah yang bersatu padu mengusir tentara NICA yang hendak menjajah kembali Indonesia, sehingga pada akhirnya kemerdekaan benar benar dirasakan oleh rakyat Indonesia. 

Terakhir adalah epilog, daftar pustaka, tentang penulis.
Buku ini sumber sejarah perjuangan raktyat Balanipa – Mandar yang bisa dijadikan referensi dan catatan sejarah perjuangan bangsa, khususnya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. 

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. 


Toraja Warisan Dunia


Buku : Toraja Warisan Dunia
Penulis : Muhammad Natsir Sitonda
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2007
Jumlah Halaman:  viii + 96
ISBN : 979-3570-15-6

Toraja dengan segala keunikan adat istiadatnya adalah pokok bahasan buku ini. Keunikan adat istiadat Toraja ini sudah sangat terkenal di Nusantara bahkan sudah mendunia dan menjadi World Heritage (Warisan Dunia). Penulisan buku ini dimaksudkan sebagai bahan sumber informasi bagi siapa saja yang berminat mengetahui adat dan budaya Toraja.

Diawali dengan asal usul ethnic Toraja, tentang kedatangan leluhur merka dari selatan melalui Sungai Saddang. Pada bagian ini, penulis mengutip hasil penelitian ahli Antropologi Budaya dari Universitas Hasanuddin Makassar, C. Salombe tentang asal muasal suku Toraja, dari sumber cerita rakyat dan tradisi lainnya. 

Pada bagian selanjutnya, penulis membahas bagaimana suatu daerah, suku, situs atau adat budaya bisa menjadi Warisan Dunia (World Heritage) dengan mengajukan kriteria tertentu sehingga layak disebut warisan dunia.  Juga dibahas contoh warisan dunia yang ada di Indonesia misalnya Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, Sangirang, Borobudur, Prambanan dan lain lain.

Peninggalan budaya, situs dan monumen sebagai bagian dari suatu warisan dunia. Peninggalan leluhur Toraja, misalnya bangunan Rumah, lumbung padi, tempat persemayaman mayat, menhir, patung, rante (tempat upacara), dan upacara adat. 

Pada bagian akhir, dibahas tentang upacara adat Rambu solo dan prosesnya. Dimulai dari pertemuan keluarga, pembuatan pondok upacara, persediaan peralatan upacara, petugas upacara, perataan upacara pemakaman, termasuk kegiatan yang dilaksanakan selama 4 hari perkabungan.

Buku ini bisa menjadi sumber inforamasi yang tepat bagi siapa saja yang tertarik meneliti tentang adat budaya Toraja, terutama tradisi kematian (Rambu Solo) yang unik. 

Buku koleksi Perputakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. 


Kapitalisme Bugis


Buku : Kapitalisme Bugis, Aspek Sosio-Kultural dalam Etika Bisnis Orang Wajo
Penulis : Ahmadin
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2008
Jumlah Halaman : xii + 94
ISBN : 979-3570-85-7

Kapitalisme Bugis menurut penulis buku ini adalah paham kemodalan , yakni orientasi usaha atau produksi yang mengejar keuntungan atau bentuk kehidupan bersendikan modal. Suku Bugis yang dimaksud dalam buku ini adalah Bugis Wajo, yang terkenal sebagai pedagang diberbagai daerah di Indonesia. 

Buku ini dibagi dalam 7 (tujuh) bagian, dimana bagian pertama adalah pembahasan tentang generalisasi kapitalisme dan spesifikasi kebugisan. Pada bagian ini dijelaskan defenisi kapitalisme, konsep dan sejarahnya, juga batasan ruang lingkup kajiannya. Pada bagian ini ada penjelasan tentang perbandingan antara kapitalisme di daerah Bugis dengan kapitalisme di Eropa. 

Pada bagian kedua, dibahas tentang profil Bugis Wajo, mulai dari sejarah awal asal mula orang Bugis Wajo. Salah satu versi mengatakan bahwa orang Wajo sesungguhnya adalah mereka yang berdomisili dilingkungan tempat tinggal We Taddampali yang disimbolkan dengan pohon Bajo atau Wajo’E, sehingga lama kelamaan disebutlah Wajo. Ada pula pembahasan Struktur Spasial Wajo, yaitu keadaan daerah Wajo, sebagaimana digambarkan dalam Lontara Sukkuna Wajo. Warisan sejarah dan budaya Wajo juga dijelaskan, mulai dari situs Tosora, Gua Nippong, Saoraja Mallangga, beberapa makam raja raja zaman dulu. Stratifikasi sosial dan sistem kekerabatan, kesusastraan dan seni juga dibahas pada bagian ini. 

Pada bagian ketiga, pokok bahasannya adalah falsafah hidup sebagai sumber motivasi. Ada pembahasan tentang Pangngadereng atau adat istiadat dalam masyarakat Bugis, masuknya pengaruh Islam dalam pangngadereng dan kemampuan merespon perubahan zaman oleh orang Bugis, pesan pesan Puang Ri Maggalatung dan kesan kesan negatif dalam diri orang Bugis. 

Bagian keempat yaitu makna Siri’ sebagai spirit usaha dan motivasi kerja. Siri’ disini dijelaskan secara luas, termasuk juga Passe atau Pesse. Makna hidup bagi orang Bugis, fungsi kerja, kemapaman ideal, dasar keberhasilan usaha dan penggunaan uang lebih juga dibahas secara ringkas pada bagian ini. 

Bagian kelima adalah merantau sebagai modal peluang dan strategi ekonomi dan bagian keenam  tentang eksistensi dan prospek jiwa kapitalis, serta bagian ketujuh adalah penutup. 


Lontara Soppeng


Buku : Lontara Soppeng
Penulis : Drs. Nonci, S.Pd
Penerbit : CV. Aksara, Makassar (Tanpa Tahun)
Jumlah Halaman : iv + 52
ISBN : -
Bahasa : Indonesia dan Bugis

Buku ini disusun berdasarkan naskah naskah Lontara dalam rangka pelestarian nilai nilai budaya Bugis. Banyak naskah Bugis kuno yang ditulis, disusun, dikumpulkan oleh para cendekiawan zaman dulu di Sulawesi Selatan. Di Soppeng ada Arung Bila yang banyak menulis kumpulan pappaseng (pesan pesan) atau kearifan lokal. Di Bone ada Kajao Laliddong, di Wajo ada Amanna Gappa dan Puang Ri Maggalatung, di Luwu ada To Acca dan lain lain. 

Terdiri dari 3 bagian, pertama adalah tentang To Manurung. To Manurung itu biasanya dianggap manusia setengah Dewa yang turun dari langit untuk menjadi pemimpin (pertama) disuatu daerah. Bagian kedua adalah Lawadeng Arung Bila mengisahkan tentang asal usul pribadi Lawadeng, Arung Bila, tentang keluarganya, tentang wejangannya (Nasehat nasehat) dan lain lain,dan bagian terakhir adalah Pappasenna Arung Bila (Wasiat). Pesan pesan  Arung Bila, ada tentang adat istiadat, ada tentang politik (bagaimana menjadi penguasa suatu daerah, 

Ketiga bagian dalam buku semuanya dilengkapi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Sangat bermanfaat bagi orang yang ingin mengkaji pappaseng toriolo (pesan orang dulu). Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.  


Dances in Toraja


Buku : Dances in Toraja
Penulis : Beatrix Bulo
Penerbit : Percetakan Intisari, Makassar 1989
Jumlah Halaman : xii + 98
Bahasa : Inggris
ISBN : -

Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris oleh Beatrix Bulo, membahas tentang tari tarian Toraja. Tujuan utama penulisan buku ini untuk pelestarian budaya lokal Toraja dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Disadari sepenuhnya bahwa dokumentasi tentang tari tarian Toraja masih sangat kurang, sehingga dengan adanya buku ini, bisa setidaknya menambah wawasan kita tentang kesenian khususnya tari tarian Toraja, dan sekaligus menjadi bahan rujukan bagi para peminat seni tari. 

Terdiri dari 3 bagian utama, dimana bagian awal ada kata pengantar dari penulis, dari Gubernur (waktu itu) Ahmad Amiruddin, Wakil Gubernur Zainal Basri Palaguna, dan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. Aminuddin Machmud, serta Bupati Toraja, A. Yacobs. Pembahasan selanjutnya tentang masyarakat Toraja, asal usul penduduk dan bahasanya, kelas kelas sosial masyarakatnya, dan agama para leluhurnya. 

Pada bagian kedua, berisi deskripsi tentang tari tarian Toraja. Ada 5 (lima) tarian Toraja yang dibahas disini yaitu : Tari Bone Ballaq, tari Gelluq Pangalaq, Paqranding, tari Burake dan tari Dao Bulan. Masing masing tarian dijelaskan tentang asal usulnya, ornament yang digunakan, music instrument yang mengiringi, lirik lagunya, gerakan gerakannya, pengenalan jika ada unsure baru, dan klasifikasi tarian. 

Arti simbolis tari tarian Toraja selanjutnya dibahas dalam bagian ketiga. Kelima tari tarian yang dijelaskan dibagian kedua juga dibahas dibagian ketiga. Yang dibahas pada bagian ini adalah arti simbolis ornament-nya, music instrumennya, gerakan gerakan tariannya, lirik lirik lagu pengiringnya, dan lagu lagunya.

Sebagai penutup, ada bagian Kesimpulan, ada daftar pustaka yang digunakan, ada appendix dan sedikit riwayat hidup penulisnya. 

Buku koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.  


Selayar Meretas Kemiskinan Nelayan


Buku : Selayar Meretas Kemiskinan Nelayan
Penulis : Nur Aswar Badulu
Pengantar : Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA
Penerbit : Fahmis Pustaka, Makassar 2008
Jumlah Halaman : xx + 100
ISBN : 979-155974-0

Pokok bahasan utama pada buku ini adalah bagaimana masyarakat di Selayar menggunakan segala bentuk potensi lokal dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mengentaskan kemiskinan dalam kehidupan mereka sehari hari terutama yang didaerah pesisir. Penulisnya adalah seorang yang berpengalaman dalam pendampingan dan observasi Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) sejak tahun 2003 – 2007. Buku ini diterbitkan atas kerjasama antara LP2MT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Selayar. 

Buku ini diawali dengan Prakata oleh penulis, Sambutan Kepala Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Selayar, dan Kata Pengantar oleh Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA., Catatan dari Penerbit dan Abstraksi. 

Dibagi menjadi 6 (enam) bagian, dimana bagian pertama membahas tentang Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, termasuk latar belakang masalahnya, filosofi pemberdayaan, kelembagaan sarana pemberdayaan, dan alasan mengapa buku ini ditulis. 

Pada bagian kedua, dibahas tentang Masyarakat Pesisir Berbasis Kearifan Lokal.  Bagian ini terdiri dari Prinsip pemerberdayaan masyarakat pesisir, strategi penggalangan  pemberdayaan masyarakat, program pengembangan komunitas nelayan, dan Kearifan lokal pemulihan nelayan tradisional.

Kemiskinan Nelayan selanjutnya dibahas pada bagian ketiga. Berbagai permasalahan dan penanggulangan kemiskinan, rezim kemiskinan nelayan, miskin dilaut, kiprah pemberdayaan masyarakat pesisir, konsep pemberdayaan ekonomi, sasaran program PEMP, kapita selekta pendampingan Program PEMP, metode holistic, kemandirian lokal, metode Participatory Local Social Development, kondisi sosial ekonomi, kondisi kelembagaan masyarakat pesisir, aspek pengetahuan dan keterampilan, aspek kesehatan, dan Perubahan pendapatan nelayan.

Sosial kebudayaan masyarakat pesisir dijelaskan pada bagian keempat. Penjelasannya meliputi: kebudayaan masyarakat pesisir, profil singkat lokasi Program PEMP, modal sosial pemberdayaan, Koperasi LEPP M3, Organisasi Sosial Nelayan, Organisasi Sosial mewujudkan impian.

Pada bagian kelima pokok pembahasannya adalah Arah pengembangan kawasan terpadu pesisir (tata ruang pesisir), potensi dan masalahnya, revolusi bahari, melawan dominasi, program mitra bahari. 

Sebagai penutup, ada kesimpulan dan saran, kemudian terakhir adalah daftar pustaka, tentang penulis dan hikayat. 

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


1001 Kisah Baharuddin Lopa


Buku : 1001 Kisah Baharuddin Lopa
Penyusun : Tim Litbang SAUDAGAR
Editor  : Alif We Onggang
Penerbit : Majalah Saudagar, Jakarta 2001
Jumlah Halaman : vii + 264
ISBN : 979-96690-0-6

Ketika Baharuddin Lopa wafat di Saudi Arabia tahun 2001 lalu, begitu banyak kenangan akan kejujuran dan kehebatan beliau dalam memberantas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme di negeri ini, dibahas di berbagai media cetak dan elektronik. Harian Suara Pembaruan waktu itu menulis, “Masih sangat segar diingatan kita berbagai pertanyaan dan sikap tegasnya untuk menggulung habis segala bentuk KKN beberapa hari sebelumnya. Tidak heran apabila kemudian berkembang optimism dalam masyarakat, pelaku KKN terutama yang tergolong “kakap” satu persatu akan terseret ke meja hijau. Gebrakannya menegakkan hokum dan keadilan masih terngiang-ngiang di telinga kita”.  Sedangkan ibu Ana, salah seorang penjual kue di Pondok Bambu, Jakarta mengatakan, “Saya tak punya hubungan apa apa dengan beliau, namun saya tahu betapa hebat dan bersih pak Lopa”. 

Buku ini bukanlah biografi atau perjalanan hidup Baharuddin Lopa, tetapi sesuai judulnya, sekumpulan kisah kisah menarik, menggelitik dan mengharukan Baharuddin Lopa selama menjadi pejabat publik di berbagai daerah di Indonesia. Beliau banyak disebut sebagai “Pendekar Hukum” oleh media.

Terdiri dari 4 bagian, bagian pertama “Pendekar dalam Laku dan Kata” yang membahas tentang figure Baharuddin Lopa yang bersahaja, berani, jujur, lurus baik dalam  perilaku maupun dalam kata katanya. Ada kisah misalnya ketika beliau terpaksa meminjam sepatu ajudannya karena terburu buru ke Senayan untuk mengikuti acara KTT G-15, beliau kelelahan dan tidak sempat memakai sepatu sebelum berangkat karena mengira ajudannya yang membawakan, ternyata ajudannya juga terburu buru. Dan banyak kisah lainnya.

Bagian kedua “Bertarung  Lewat Pena” berisi tulisan tulisan Baharuddin Lopa di berbagai media cetak nasional yang pernah dipublikasikan. Misalnya tulisan dengan judul “Bebas dari Rasa Takut” yang membahas tentang the four freedom yang pernah dicanankan oleh Presiden Amerika Serikat Roosevelt 1941. Keempat kebebasan itu adalah kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat (freedom of speech and expression), kebebasan menganut agama (freedom of every person to worship God in his own way), kebebasan dari kekurangan (freedom from want) dan kebebasan dari rasa takut (freedom from fear). Dan berbagai tulisan lainnya. 

Pada bagian ketiga, “Menakar Jurus Pendekar” membahas tentang tanggapan, testimony, pengakuan para tokoh dan masyarakat umum lainnya tentang Baharuddin Lopa.  Ada Adi Sasono, Adnan Buyung Nasution, Achmad Ali, Albert Hasibuan, AM Fatwa, Anhar Gonggong, Bismar Siregar, Laica Marzuki, Hendardi, Mochtar Pabottingi, Rahman Arge dan lain lain. 

Bagian ke 4 yaitu “Arena Bebas” berisi ucapan ucapan para tokoh dan anggota masyarakat lainnya tentang sosok Baharuddin Lopa. Juga ada kata kata Baharuddin Lopa sendiri yaitu, “kalaupun esok langit akan runtuh, maka saya akan berusaha untuk menegakkan hukum”.  Ada juga perempuan bernama Titin Dewi, seorang public relations di Jakarta mengatakan, “Penerangan itu kini padam, dengan kepergian pak Lopa, sungguh menyedihkan”. Sementara itu Muhammad Yusuf Kalla yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat waktu itu, mengatakan, “Meninggalnya Lopa berarti menguapnya sebuah harapan penegakan hokum” Ada juga beberapa ulasan kesaksian dari beberapa media cetak tentang Baharuddin Lopa pada bagian akhir ini. 

Sangat menarik dan informative untuk dibaca. Buku ini koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 


Masa Depan Warisan Luhur Kebudayaan Sulawesi Selatan

Buku : Masa Depan Warisan Luhur Kebudayaan Sulawesi Selatan
Penulis : Shaff Muhtamar
Penerbit : Pustaka Dewan Sulawesi
Jumlah Halaman : ix + 156
ISBN : -

Tujuan utama penulisan buku ini adalah bagaimana menjawab tantangan kebudayaan dimasa depan yang akan dihadapi oleh generasi selanjutnya, ditengah zaman yang semakin modern saat ini. Diawali dengan Prakata dan Ucapan Terimakasih dari ketua Dewan Sulawesi sebagai pencetus penulisan buku ini. Diharapkan oleh team penulis bahwa buku ini akan bermanfaat bagi pembacanya dan berharap pula bahwa kebudayaan Sulawesi Selatan bisa bangkit lagi dan merebut kembali tempatnya dihati sejarah kehidupan. 

Terdiri dari 6 bagian, diawali dengan bagian pertama yaitu Warisan Luhur Kebudayaan Sulawesi Selatan. Pada bagian ini dibahas tentang kebudayaan keempat suku utama di Sulawesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Juga dibahas tentang nilai universal Siri dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Pada bagian tentang Orang Bugis, dikatakan bahwa Orang Bugis telah mewujud dari zaman ke zaman dengan polah tingka lakunya terbentuk secara komulatif sejak zaman lampau. Juga disinggung tentang Lontara yang menjadi referensi utama masyarakat Bugis yang digunakan untuk menelusuri watak khas masyarakat Bugis dan sifat kebudayaannya. Ada pula mitos tentang To Manurung di Bone, Soppeng, Wajo, Luwu dan daerah lainnya.  Dijelaskan pula tentang nilai nilai budaya Bugis yaitu kejujuran, kecendekiaan, kepatutan, keteguhan dan usaha. 

Bagian kedua tentang Akar Nestapa Kebudayaan. Pembahasannya adalah bahwa kebudayaan kerap kali dianggap penghambat kemajuan dan perkembangan. Ada beberapa pembahasan pada bagian kedua ini  yaitu : Imperialisme dan Kolonialisme, dan developmentalisme Negara. Selain itu ada juga dijelaskan tentang teori teori pembangunan  ekonomi. Kemudian ada kapitalisme dan positivism pendidikan.

Ketiga adalah Sulawesi Selatan dalam Dinamika Arus Perubahan Zaman. Pada bagian ini dibahas tentang bagaimana faktor faktor modernisme yang telah menguasai hampir semua belahan dunia, yang juga membawa pengaruh pada kebudayaan Sulawesi Selatan sehingga menimbulkan perubahan pula pada manusia Sulawesi Selatan. 

Pada bagian keempat, Sejenak Menimbang Nilai. Pada bagian ini dibahas tentang fase kehidupan masyarakat yaitu fase tradisionil, fase modern dan fase Post-modern. 

Bagian kelima, Melihat Ulang Warisan Kebudayaan Kita. Dijelaskan bahwa penting bagi kita melihat kebelakang, ke masa lalu warisan kebudayaan kita Sulaewesi Selatan, karena disitu ada nilai nilai yang tersimpan yaitu nilai nilai universal yang tak lekang dimakan zaman. Penetrasi budaya luar (barat) sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti akan menyingkirkan budaya lokal kita. Di buku ini dijelaskan bahwa kita harus bersinergi agar kedua budaya, budaya lokal Sulawesi Selatan dan budaya modern tetap berkembang dalam kehidupan masyarakat.
 
Bagian terakhir, Sebuah Simpul Akhir. Pada bagian ini, dijelaskan tentang bagaimana peradaban modern yang gemerlap telah menggeser potensi potensi tradisional sampai ke titik ekstrem. Sepertinya tidak ada upaya serius dalam melakukan perlawanan budaya terhadap negatifitas kebudayaan modern.

Buku ini sangat tepat dijadikan bahan rujukan atau referensi dalam pengkajian budaya lokal Sulawesi Selatan dan pengaruh budaya moderen.  Buku Koleksi Perputakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Selatan. 


Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan


Buku : Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan
Penulis : Drs. H. Hannabi Rizal, M.Pd., Zainuddin Tika, SH., Drs. M. Ridwan Syam
Penerbit : Yayasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan (YAPIP) Makassar 2002
Jumlah Halaman : 183
ISBN : -

Generasi muda di Sulawesi Selatan banyak yang tidak mengenal para tokoh pejuang daerahnya sendiri. Bahkan dari pelajaran sejarah di sekolah, mereka lebih mengenal pahlawan nasional dari daerah lain sementara pahlawan lokal sendiri tidak diketahui. Hal ini disebabkan karena kurangnya buku buku sejarah yang membahas tentang para kehidupan para pejuang, raja dan pahIawan daerah. Inilah tujuan utama penulisan buku ini, yaitu untuk memperkenalkan para pejuang Sulawesi Selatan kepada generasi muda.

Buku ini diawali dengan Sekapur Sirih dari penyusun, kemudian Sambutan dari Gubernur Sulawesi Selatan waktu itu H.Z.B. Palaguna. Kemudian para raja /ratu dan pejuang Sulawesi Selatan dibahas satu persatu, berdasarkan daerah asalnya. Ada 84 nama pejuang dan raja yang dibahas dalam buku ini dengan rincian sebagai berikut : 

Gowa

1.      Tumanurung Baineya, Raja Pertama Gowa
2.      Tunatangkalopi, Pendiri Kerajaan Kembar Gowa – Tallo
3.      Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna, Pendiri Benteng Somba Opu
4.      Karaeng Tanijallo, Pertama Kali Bangun Masjid
5.      Karaeng Tunipallangga Ulaweng, Pertama membuat Senjata Mutakhir
6.      I Taji Barani, Raja yang hanya 40 hari Bertahhta
7.      Sultan Muhammad Ali, Tumenanga ri Jakarta
8.      I Malingkaang Daeng Nyonri, Raja Pertama Bergelar Sultan
9.      Sultan Alauddin, Raja Pertama Melakukan Jihad
10.  Syech Yusuf, Penyebar Islam Kaliber Internasional
11.  Sultan Malikussaid, Pembawa Zaman Keemasan
12.  Karaeng Pattingalloang, Cendekiawan dari Timur
13.  Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur
14.  Karaeng Bonto Marannu, Pimpin Kontingen Pertama ke Jawa
15.  Araeng Karunrung, Anti Penjajah Sampai Titik Darah Penghabisan
16.  I Fatimah Daeng Takontu, Garuda Betina dari Timur
17.  Daeng Jowa, Pembebas Rakyat Timor
18.  Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, Pimpin Pasukan Prancis
19.  Encik Amin, Perancang Naskah Perjanjian Bongayya
20.  I Tolo Daeng Magassing, Pejuang dari Parapa
21.  Baharuddin Sarro, Sisa Lasykar Lipang Bajeng

Makassar

1.      Andi Pangerang Petta Rani, Pemimpin yang Manunggal dengan Rakyat.
2.      Menelusuri Jejak Perjuangan Andi Mattallatta
3.      Najamuddin Daeng Malewa, Pendiri Partai Celebes Selatan
4.      Wolter Mongisidi, Setia Hingga Akhir dalam Keyakinan
5.      Emmy Saelan, Memilih Mati dari pada Menyerah
6.      Srikandi Wanita Pejuang Sulawesi Selatan.

Takalar

1.      La Patiroi, Penemu Takalar
2.      Syech Jalaluddin, Perintis Maudu di Sulawesi Selatan
3.      Ranggong Daeng Romo, Panglima Perang LAPRIS
4.      Pajonga Daeng Ngalle, Karaeng Polong Bangkeng
5.      H.M. Yasin Limpo dan Karaeng Temba, Taklukkan Belanda di Bulukunyi

Jeneponto :

1.      Karaeng Binamu, Gugur di Gunung Sitoli

Bantaeng

1.      Karaeng Mannapiang, dari Partai Celebes
2.      Karaeng Gantarangkeke, Perintis Pesta Adat Pajjukukang

Bulukumba :

1.      Sultan Daeng Raja, Pejuang dari Gantarang

Sinjai :

1.      Baso Kalaka, Panglima Perang dari Sinjai
2.      Tosoja, Pemersatu Kerajaan Tellu LimpoE
3.      Sumapa Daeng Mannajai, Pimpinan Pasukan Bayo dari Sinjai

Selayar

1.      I Pangali Sultan Patta Raja, Raja Pertama Selayar Memeluk Islam
2.      Aruppala, Pejuang dari Tanadoang

Maros

1.      Karaeng Loe ri Pakere, Raja Pertama Maros

Pangkep

1.      Karaeng Manisei, Tak Mau Takluk pada Sekutu Belanda
2.      La Maruddani dan Samenggu Daeng Kalebbu, Bantai Pimpinan Pasukan Belanda

Barru

1.      Puang Ri Bulu Puang Ri Campa, Raja Pertama Barru
2.      Datu GollaE, Pembawa Kemakmuran Rakyat Barru

Pare-Pare :

1.      I Daeng Ri Pare Pare
2.      Andi Abdullah Bau Massepe, Pertama Pimpin Afdeling Pare-pare

Pinrang

1.      La Paleteang, Penemu kota Pinrang
2.      La Sinrang, Bakka Lolona  Sawitto
3.      Andi Makkasau, Pejuang Dari Suppa

Sidrap

1.      La Panaungi, Pendiri Toani Tolotang di Amparita
2.      A.R. Malaka, Pejuang dari Genggawa

Bone

1.      Benri gau, Srikandi Kerajaan Bone
2.      Sultan Adam, Raja Bone Pertama Memeluk Islam
3.      Karaeng Rappocini, Bangsawan Bone yang Anti Belanda
4.      Andi Baso Pangilingi, Petta PonggawaE Kerajaan Bone
5.      Andi Mappanyukki, Potret Patriot Sejati

Soppeng

1.      To Manurung, Tonggak Sejarah Soppeng
2.      BeowE, Raja Soppeng Pertama Memeluk Islam
3.      Andi Mahmud Petta Penghulu, Pimpin Gapis Melawan NICA

Wajo :

1.      Latenribali, Batara Pertama Wajo
2.      Sangkuru Patau, Arung Matowa Wajo Pertama Memeluk Islam
3.      La Maddukkelleng, Perantau Yang Berbekal Falsafah “TIGA UJUNG”
4.      Latenrilaik, Pejuang Yang Tak Kenal Menyerah
5.      Daeng Sitebba, Persiden Pertama Republik Aristokrat Samarinda
6.      Sultan Muhammad Idris, Lahir di Rantau Berjuang di Tanah Leluhur

Luwu

1.      Batara Guru, Peletak Dasar Kerajaan di Sulawesi Selatan
2.      Opu Daeng Manambung, Bangsawan Luwu jadi Raja di Mempawa Kalimantan Barat
3.      Opu Daeng Marewa, Raja Muda Johor
4.      Andi Jemma, Patriot Sejati dari Luwu
5.      Andi Tadda, Tak Kenal Kompromi dengan Belanda

Enrekang

1.      Tomanurung dari Bambapuang

Tana Toraja

1.      Pong Tiku, Pejuang dari Toraja
2.      Pong Simping, Pejuang dari Pentilang

Mandar (Polmas, Majene, Mamuju) : 

1.      I Calo Ammana Wewang, Pahlawan dari Tanah Mandar
2.      Hj. Andi Depu, Panglima KRIS MUDA Mandar
3.      I Manynyambungi Todilaling, Maradia Balanipa Pertama
4.      Daeng Rioso Todi Polong, Tomatindo di Marica
5.      Daeng Matande, Pemberani dari Pitu Ulunna Salu
6.      Aco Ammana Adang, Pimpin Pasukan Mamuju melawan Belanda
7.      Tokaleang, Raja Pertama Binuang
8.      Parinding Bassi dari Sumarorong

Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts