Siri' dan Pesse, Harga Diri Orang Bugis, Makassar, Mandar, Toraja


Buku : Siri’ dan Pesse, Harga Diri Orang Bugis, Makassar, Mandar, Toraja
Editor : Moh. Yahya Mustafa, A. Wanua Tangke, Anwar Nasyaruddin
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2003
Jumlah Halaman : xv + 84
ISBN : 979-96732-2-7

Buku ini adalah kumpulan tulisan tentang Siri’ Pesse, Etos Kerja, Were,  yang ditulis oleh para tokoh Sulawesi Selatan yaitu: H. Abu Hamid, H. Zainal Abidin Farid, H. Mattulada, H. Baharuddin Lopa, dan C. Salombe. Kata Prof. Dr. H. Zainal Abidin Farid, Siri’ adalah suatu sistem nilai sosial-kultural dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Sementara itu Prof. Dr. H. Abu Hamid berpendapat bahwa Siri’ itu merupakan taruhan harga diri, maka harga diri tersebut harus diangkatmelalui kerja keras, berprestasi, berjiwa pelopor, dan senantiasa berorientasi keberhasilan.

Ada 5 karya tulis dalam buku ini:
1.       Siri’ dan Etos Kerja oleh H. Abu Hamid
2.       Siri’ Pesse dan Were, pandangan hidup orang Bugis
3.       Siri’ dalam Masyarakat Makassar oleh H. Mattulada
4.       Siri’ dalam Masyarakat Mandar, oleh  H. Baharuddin Lopa
5.       Siri’ dalam Masyarakat Toraja oleh C. Salombe 

 Buku ini sangat cocok dijadikan rujukan bagi anda yang sedang meneliti tentang Siri’, etos kerja orang SUlsel atau were. Dari ke-5 penulis semua membahas tentang Siri’ pada berbagai ethnis di Sulawesi Selatan. Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid daeng Lurang, DPK Sulsel. 




Sejarah Islam di Sulawesi Selatan




Buku : Sejarah Islam di Sulawesi Selatan
Penulis : Suriadi Mappangara dan Irwan Abbas
Penerbit : Lamacca Press, Makassar 2003 (Bekerja sama dengan Biro KAPP Setda Provinsi Sulawesi Selatan)
Jumlah Halaman : viii + 201
ISBN : 979-97452-5-X

Buku ini terdiri dari 6 bab, dimana pada bagian atau bab pertama hanya berupa pengantar, yang membahas tentang latar belakang penulisan buku, tujuan dan manfaat penulisan dan kerangka konseptual.

Kebudayaan dan Kepercayaan Pra-Islam dibahas pada bagian ke-2. Pada bagian ini ada pembahasan tentang suku bangsa dan bahasa, religi masyarakat yang terdiri dari: kepercayaan Toani Tolotang, Patuntung, dan Aluk Todolo’. Penulis juga menjelaskan tentang pranata keagamaan,  dan bentuk ibadah kuno dan tata  cara penguburan. Bentuk ibadah kuno misalnya penyembahan Dewa Matahari dan Bulan, pemujaan terjadap Kalompoang, Arajang, Saukang. Dan Stratifikasi Sosial.

Bagian ke-3 merupakan inti pembahasan buku ini, yaitu asal mula masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Diawali dengan pembahasan tentang masuknya orang Melayu dan bangsa asing di Sulawesi Selatan yaitu  bangsa Portugis, Belanda dan Inggris. Orang Melayu inilah yang kemudian dianggap berjasa dalam pengembangan Islam di Sulawesi Selatan. Disebutkan bahwa ada 3 mubalig dari Minangkabau (Melayu) yang menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan yaitu : 

1. Abdul Makmur Khatib Tunggal Dato Ibadah (Dato Ri Bandang)
2. Sulaeman Khatib Sulung atau (Dato Patimang)
3. Abdul Jawad Khatib Bungsu atau (Dato di Tiro). 

Kemudian dijelaskan tentang penyebaran Islam di Kerajaan Luwu, daerah Tiro di Bulukumba, dan kerajaan Gantarang di Pulau Selayar. Disebutkan pula dalam buku ini bahwa Kerajaan Gowa adalah yang dominan dalam penyebaran Islam diantara sekian kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan dan bahkan menjadi pusat pengembangan dan penyebaran Islam didaerah lain di Sulawesi Selatan. 

Bagaimana proses penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, dibahas pada bagian ke-4. Pertama yaitu penyebaran Islam di Gowa, kemudian masuknya Islam dikerajaan TellumpoccoE, serta di Lita Mandar. Banyak kisah menarik pada bagian ini. Misalnya, sebelum anggota kerajaan Gowa masuk Islam, ternyata, di Cikoang (wilayah Takalar sekarang) yang merupakan daerah kekuasaan Gowa, sudah memeluk Islam. Islam di Cikoang dibawa oleh mubalig Sayyid Jalaluddin Al Aidid. Selain Cikoang, Sayyid Jalaluddin juga meng-Islamkan Laikang dan Turatea. 

Setelah raja raja dan petinggi kerajaan Gowa memeluk Islam, kemudian satu persatu kerajaan di Sulawesi Selatan di Islamkan. Dimulai di kerajaan Soppeng pada tahun 1609, kemudian Wajo (1610) dan Bone (1611). Bahkan dalam Lontara Bilang ada disebutkan tanggal masuk Islamnya para pemimpin kerajaan Bone yaitu pada tanggal 23 November 1611. 

Bagian ke-5 dijelaskan tentang corak Islam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, mulai dari sistem sosialnya, kebiasaan masyarakatnya, model kepemimpinan, birokrasi pemerintahan, sastra dan bahasa, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Salah satu kebiasaan lama masyarakat Sulawesi Selatan sebelum masuknya Islam adalah makan babi dan minuman beralkohol, juga berpakaian hanya menutup area vital saja. Setelah masuknya Islam, semua itu ditanggalkan.
Bagian terakhir adalah kesimpulan, daftar pustaka dan daftar singkatan. 

Bagi anda yang membutuhkan informasi tentang sejarah Islam di Sulawesi Selatan, penyebaran Islam, kehidupan pra-Islam, kedatangan orang Eropa di Sulawesi Selatan, maka buku ini layak sebagai referensi. 


Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar


Buku : Kisah Tertembaknya Kahar Muzakkar di Sungai Lasolo
Editor : A. Wanua Tangke & Anwar Nasyaruddin
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2006
Jumlah Halaman : vii + 104
ISBN : 979-3570-18-0

Satu lagi buku yang membahas tentang Kahar Muzakkar (Qahhar Mudzakkar). Diawali dengan catatan Penerbit. Benarkah  Kahar Muzakkar telah meninggal dunia? Kahar Muzakkar  pemimpin DI/TII yang pernah bergerilya di hutan hutan belantara Sulawesi Selatan selama 15 tahun (1950 – 1965) telah menimbulkan mitos itu. Banyak yang beranggapan dan meyakini bahwa Kahar Muzakkar belum meninggal dunia sampai sekarang. Bahkan di group group media sosial seperti di Facebook, seringkali ada anggota group yang berdebat dengan anggota lainnya tentang status kematian Kahar Muzakkar. 


Buku ini dengan judul yang sangat jelas, kisah tertembaknya Kahar Muzakkar di Sungai Lasolo berusaha mengungkap tentang fakta sebenarnya. Diawali dengan kisah Pertemuan Bonepute, antara Kahar Muzakkar dan pasukannya dengan Kolonel Muhammad Yusuf dan rombongan Kodam XIV Hasanuddin. Untuk pelaksanaan pertemuan ini, Kahar Muzakkar mengutus istrinya Corry Van Stenus untuk menemui Kolonel Muhammad Yusuf untuk membicarakan kesediaan Kahar Muzakkar melakukan pertemuan di Bonepute (Luwu). Ada juga sosok Nurdin Pisok, sosok pemberani yang bergabung dengan pasukan DI/TII. Sosok kepercayaan Kahar Muzakkar lainnya yaitu B.S. Baranti yang mengumumkan lewat RRI Seruan kepada ke-34 komandan dan pasukannya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Ada pertemuan antara pasukan TNI dengan pasukan Kahar Muzakkar di kampung Burung-Burung di sebelah timur Sungguminasa. 


Selanjutnya ada pembahasan tentag sosok Andi Selle Mattola, dan operasi penumpasan pemberontakan DI/TII di wilayah Sulawesi Selatan. Operasi Kilat penumpasan Gerakan DI/TII ada dua, yaitu Operasi Tekad I untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Operasi Tekad II untuk wilayah Sulawesi Tenggara. Operasi pencarian jejak Kahar Muzakkar di sekitar Gunung Latimojong. Ada beberapa pasukan Kahar Muzakkar yang ditangkap dan diinterogasi namun tetap saja informasi tentang keberadaan Kahar Muzakkar tidak didapatkan.

Jejak persembunyian Kahar Muzakkar mulai tercium oleh pasukan TNI pada tahun 1964. Kahar Muzakkar memisahkan diri dan pasukannya dari istrinya Corry Van stenus bersama anaknya Abdullah. Di puncak bukit Kambiasu, Sulawesi Tenggara mereka berpisah. Kemudian seorang petinggi DI/TII bernama Djunaed Suleman menyerahkan diri di daerah Pakue, dekat Sua-Sua.
Kisah pengejaran Kahar Muzakkar berlanjut sampai ke tepian sungai Lasolo, dan ditempat inilah akhir dari pengejaran itu. Angota Pasukan TNI yang bernama Kopral Sadeli yang berhasil menembak mati Kahar Muzakkar ditepian sungai Lasolo dekat dari gubuk gubuk pasukan DI/TII. 

Kisah selanjutnya bisa anda baca pada bagian terakhir buku ini. Buku ini dapat and abaca dan pinjam di Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang DPK Sulsel di Sungguminasa. 



Sulawesi Selatan Berdarah



Buku : Sulawesi Selatan Berdarah
Penulis : Zainuddin Tika dkk. (Mas’ud Kasim, Muhammad Iqbal, Basri, Zainuddin)
Penerbit : Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan, Makassar 2016
Jumlah Halaman : vi + 100
ISBN : 078-602-14794-4-5

Buku berjudul “Sulawesi Selatan Berdarah” ini membahas tentang peristiwa berdarah yang menelan korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan atau dikenal dengan nama peristiwa Korban 40.000 jiwa. Rangkaian peristiwa ini dimulai pada tanggal 11 Desember 1946. Tentara Belanda (Pasukan Westerling) melaksanakan operasi militer, dengan mengumpulkan semua laki laki remaja dan dewasa disebuah lapangan tidak jauh dari Istana Andi Mappanyukki. Mereka semua diinterogasi, yang mana yang extrimis, teroris, perampok. Mereka semua kemudian diberondong peluru dan mati seketika itu dengan lumuran darah yang memenuhi tanah lapangan itu.  Operasi militer itu berlanjut kedaerah lainnya di Sulawesi Selatan sampai korbannya mencapai 40.000an orang. 

Pembahasan buku ini diawali dengan kata kata “Sekapur Sirih” dari para penulis, kemudian sambutan Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan, Dr. H. Andi Suryadi Culla, MA.  Kisah awal peristiwa berdarah ini mulai dari awal kekalahan Belanda pada Perang Dunia II, perlawanan rakyat Sulawesi Selatan, bagaimana Belanda berhasil mengelabui Hadat Tinggi Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Selatan dinyatakan SOB. Kemudian peristiwa yang disebut oleh penulis “Desember Kelabu”, pemuda pemuda yang dianggap extremis dibunuh, lalu saat Westerling meninggalkan Makassar, perlawanan rakyat Gowa terhadap pasukan Westerling, dan terakhir “Konferensi Paccekke”.

Pembahasan selanjutanya adalah para tokoh pejuang yang menjadi korban Westerling di Sulawesi Selatan, diantaranya: Andi Abdullah Bau Massepe, Andi Makkasau Datu Suppa,  Andi Muis Tenridolang, Ranggong daeng Romo, dan Wolter Monginsidi. 

Selanjutnya bagaimana TRIPS (Tentara Republik Indonesia Pesiapan Sulawesi) membantu perjuangan rakyat Sulawesi Selatan, ekspedisi TRIPS ke Sulawesi Selatan, dan gerilyawan “Rambo” Andi Mattallatta dari Tanah Makassar. Pebahasan buku ini ditutup dengan Daftar Pustaka dan data diri penulis buku.

Buku ini adalah sumber informasi yang bagus tentang peristiwa Korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan. Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, DPK SULSEL. 




Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts