Perlunya Alih Media


Istilah Alih Media mulai muncul ketika kertas tidak lagi menjadi satu satunya media penyimpanan dan perekaman informasi. Ketika Perang terjadi perang antara Rusia dan Prancis pada abad ke-19 (1870), tentara Prancis menggunakan teknologi fotografi mikro untuk menyelamatkan dokumen dokumen penting saat kota Paris mulai dikepung oleh tentara Rusia. Foto foto dokumen dalam bentuk mikro tersebut lebih aman dibawah tanpa takut ketahuan oleh tentara Rusia.  Awal abad ke-19 (1839) teknologi fotografi mikro (microfilm) ditemukan oleh Benyamin Dancer dan itulah yang dimanfaatkan oleh tentara Prancis untuk menyelamatkan dokumennya. Microfilm ini mampu menyimpan informasi baik berupa tulisan maupun gambar yang tidak bisa dibaca dengan mata telanjang. Informasinya hanya bisa diakses dengan menggunakan microfilm reader (mesin pembaca microfilm). Konon, microfilm yang digulung kecil itu dikirim melalui kurir burung merpati antara post yang satu ke post yang lain ditengah medan perang.  

Jadi pada awalnya, istilah alih media itu dimaksukan adalah mengalihkan media informasi dari kertas ke microfilm. Namun, seiring perkembangan zaman, microfilm kemudian mulai juga mengalami keusangan. Teknologinya sudah mulai ditinggalkan dan dialih-mediakan lagi ke teknologi yang lebih baru. Di Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan di Tamalanrea, Makassar, teknologi Microfilm masih digunakan, terutama untuk akses informasi naskah naskah lontara kuno (manuscript), koran tua, atau arsip rapuh yang telah dimicrofilm-kan.  Ada 3 mesin microfilm reader yang ada di ruang baca arsip, 2 mesin reader manual dan 1 mesin yang reader digital. Yang digital bukan hanya untuk membaca (reader) tapi juga bisa untuk mencetak (printer), namanya microfilm reader printer.  

Naskah naskah Lontara adalah yang paling banyak dialih-mediakan ke Microfilm. Ada 4029 judul naskah Lontara yang tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan yang semuanya sudah dimicrofilmkan. Pengguna, peneliti atau pemustaka hanya bisa mengakses informasi naskah tersebut lewat media microfilm. Kecuali jika penelitian membutuhkan fisik naskahnya, barulah naskah aslinya diperlihatkan, itupun harus dengan kehati-hatian, karena sifat naskah Lontara yang sangat fragile (mudah rusak, sobek, dan lain lain).

Mengapa lembaga lembaga yang mengelola Informasi harus melakukan Alih Media? Setidaknya ada 4 alasan penting perlunya alih media arsip, koran, buku, dan dokumen lainnya. 


         Mengatasi kurangnya ruang penyimpanan
Tidak semua organisasi atau institusi memiliki ruang penyimpanan dokumen, arsip atau buku yang luas. Dokumen dokumen kertas memerlukan ruang yang luas untuk menyimpannya. Arsip arsip konvensional dalam arti masih berupa kertas, biasanya dimasukkan kedalam dos atau box arsip lalu disusun dilemari arsip. Jika arsip sudah dimicrofilmkan, maka tempat penyimpanannya tidak perlu luas. Satu rol microfilm dapat memuat 2400 lembar arsip / dokumen ukuran A, atau sekitar 1200 lembar untuk dokumen ukuran A3. Ruang penyimpanan yang dibutuhkan untuk rol rol microfilm itu yang kecil saja, yang penting suhu ruang harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristik media microfilm agar awet dan tahan lama.

         Mencegah kerusakan dokumen yang sering diakses
Arsip arsip kertas, dan buku atau dokumen kertas jika sering diakses, digunakan lama kelamaan akan rapuh, dan bisa dengan cepat rusak, baik karena faktor internal maupun eksternal. Apalgi jika pengguna menggunakannya dengan tidak hati hati, arsip bisa sobek, kotor, basah, kena tinta pulpen dan lain lain. Hal hal ini semua tidak perlu terjadi jika arsip yang dilayankan kepada pengguna, pemustaka, peneliti adalah arsip dalam format microfilm. Pengguna dapat membaca informasi lewat microfilm reader, tanpa perlu lagi menyentuh arsip aslinya. Tentu hal ini akan semakin memperpanjang usia arsipnya. Begitu pula buku buku yang telah dialihmediakan, dapat dilayankan kepada pemustaka dalam bentuk media baru (microfilm, atau digital). Arsip digital juga enak dibaca karena jika huruf hurufnya kecil, maka kita dapat men-zoom-nya agar huruf hurufnya nampak lebih besar dan mudah dibaca.

         Melestarikan dokumen/koleksi langka
Arsip arsip yang sudah masuk kategori permanen, koran koran tua yang langka, buku buku muatan lokal atau yang juga masuk kategori langka adalah yang perlu diprioritaskan untuk alih media. Jika dokumen, arsip, koran, buku buku sudah dialihmediakan, maka dokumen aslinya disimpan saja untuk pelestariannya. Arsip yang tidak sering disentuh manusia, tidak sering berada diruang dengan suhu udara yang berbeda beda akan tahan lebih lama. Arsip foto yang sering dipegang pegang oleh pengguna, lama lama fotonya akan rusak, karena selain kena atau dipegang tangan manusia, juga kadang kadang kena sinar matahari, atau kena asam kertas, lama lama akan menimbukan warna kekuning-kuningan pada dokumen tersebut. Jika dokumen telah dialihmediakan maka dokumen dokumen tersebut akan tersimpan saja dengan aman, dan hanya digitalnya atau microfilmnya saja yang digunakan.   

         Perkembangan Teknologi Informasi
Perkembangan teknologi juga penting menjadi pertimbangan alih media dokumen. Dulu banyak arsip arsip suara yang tersimpan dan terekam pada pita kaset, dan juga banyak arsip pandang-dengar (audio-visual) yang terekam pada video kaset dan open-reel. Sekarang, alat pembaca atau pemutar jenis arsip itu sudah langka bahkan mungkin sudah tidak ada. Arsip arsip suara dan arsip pandang-dengar harus segera dialihmediakan ke media terkini yang paling baru.

Pada masa masa awal munculnya computer, kita banyak menggunakan floppy disk untuk menyimpan informasi. Sekarang ini, semua computer dan laptop tidak lagi menyediakan slot floppy disk didalamnya. Juga sempat beredar media penyimpanan CD (Compact Disk), dan itupun juga sudah using, dan tidak ada lagi. Para pengelola informasi pada lembaga lembaga pemerintah maupun swasta, perlu segera mengalihmediakan semua dokumen yang dimilikinya, agar selain mudah dilestarikan media kertasnya, juga mudah diakses media elektronik atau digitalnya. Kita seakan akan berpacu dengan teknologi agar informasi yang kita simpan tetap up to date. Tapi tentu saja, media penyimpanan apapun, yang baru maupun yang lama, yang mutakhir maupun yang kuno, selalu saja ada kekurangan dan kelebihan masing masing. Nothing’s perfect, right?

Gedung Multimedia, 28 Juli 2020.



Kedatuan Luwu, Persfektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi


Buku : Kedatuan Luwu, Persfektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi
Editor : Iwan Sumantri
Penerbit : Jendela Dunia berkerjasama dengan Pemda Luwu Timur
Jumlah Halaman : 324
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 978-979-15705-0-3

Luwu termasuk salah satu kerajaan (Kedatuan) tertua dan terbesar di Sulawesi bagian selatan dan termasuk daerah yang cukup banyak dijadikan obyek penelitian, baik oleh sejarawan, ahli arkeologi, dan ahli antropologi. Buku ini salah satu dari sekian banyak buku yang membahas tentang Kedatuan Luwu ditinjau dari berbagai sudut pandang keilmuan. Buku ini merupakan edisi kedua, setelah sebelumnya edisi pertama diluncurkan pada tahun 2000 silam. Tujuan utama penerbitan buku ini menurut Bupati Luwu Timur, H. Andi Hatta Marakarma, adalah untuk memberikan wacana kesejarahan bagi masyarakat Luwu Timur yang kemungkinan besar telah mulai memudar dari ingatan kolektif masyarakat.

Buku ini adalah kumpulan karya tulis ilmiah (makalah, paper) dari berbagai pakar sesuai disiplin ilmu masing masing. Keseluruhan karya tulis dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Persfektif Arkeologi, Persfektif Sejarah, dan Persfektif Antropologi. Buku diawali dengan kata Sambutan Bupati Luwu Timur, H. Andi Hatta Marakarma, kata Sambutan Ketua DPRD Luwu Timur, H. Andi Hasan Opu To Hatta, dan Sekapur Sirih edisi Pertama dan Kedua oleh Iwan Sumantri dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Buku ini tercipta berkat kerjasama Pemda Luwu Timur dengan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Bagian pertama adalah Kedatuan Luwu ditinjau dari persfektif Arkeologi, terdiri dari 7 (tujuh) karya tulis ilmiah yaitu :

1.      Menelusuri Jejak Lahirnya keberagaman Masyarakat Sulawesi Selatan: Persfektif Arkeologi, oleh Iwan Sumantri
2.      Laporan Ringkas Penelitian OXIS Project 1998, oleh David F. Bulbeck, Bagyo Prasetyo dan Iwan Sumantri.
3.       Investasi Arkeologi Atas Legenda Luwu di Pesisir Timur Teluk Bone, oleh Budianto Hakim dan M. Irfan Mahmud.
4.      Peranan Komunitas Berbudaya Toraja sebagai Penyangga Kedatuan Luwu, oleh M. Nur.
5.      Kompleks Benteng Wotu Tua di Desa Lampenai Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur: Suatu Tinjauan  Arkeologi.
6.      Benteng Wotu: Persfektif Arkeologi Pascaprosessual, oleh Supriadi.
7.      Re-Interpretasi Arkeologi Terhadap Dinamika Peradaban Luwu, oleh M. Irfan Mahmud, Tanwir L. Wolman, dan Iwan Sumantri.

Kedatuan Luwu dari Persfektif Sejarah:

1.      Kerajaan Luwu dalam Persfektif Sejarah Sulawesi Selatan, oleh Edward L. Poelinggomang.
2.      Kerajaan Luwu, oleh Yunus Hafid.
3.      Melacak Jejak Nenek Moyang Orang Wotu, oleh Amrullah Amir
4.      Beberapa Catatab Kultural Sistem Pemerintahan “Kerajaan Luwu” Prakolonial Dipandang Dari Dimensi Birokrasi: Sebuah Refleksi Sejarah, oleh Andi Ima Kesuma.

Kedatuan Luwu dari Persfektif Antropologi:

1.      Negara Kesejahteraan Dalam Pemikiran Maccae Ri Luwu, oleh Anwar Ibrahim.
2.      Sistem Perkawinan Adat Luwu yang Relevan dalam Transformasi Kebudayaan Nasional, oleh Andi Ima Kesuma.

Buku ini ditutup dengan riwayat hidup Penulis secara alfabetis.



Penciptaan Sejarah Makassar di Awal Era Modern


Buku : Penciptaan Sejarah Makassar di Awal Era Modern
Judul Asli : Making Blood White: Historical Transformation  in Early Modern  Makassar
Penulis : William Cummings
Penerjemah : Windu Jusuf
Penerbit : Ombak, Yogyakarta, 2015
Jumlah Halaman : xiv +339
Ukuran : 15 x 23 cm
ISBN : 978-602-258-059-1

Satu lagi buku bagus tentang Makassar. Buku yang ditulis oleh William Cummings ini banyak menggunakan Manuskript atau Naskah naskah sebagai sumber informasinya dan sekaligus informasinya itu sendiri. Bahkan Anthony Reid, Direktur Centre of Southeast Asian Studies, UCLA mengatakan bahwa penulis buku ini telah menguasai berbagai macam naskah kronik, silsilah dan buku buku harian dalam bahasa yang sulit dipahami. Hasil kajian penulis sangat signifikan, bukan hanya pada level regional, atau nasional, tetapi juga pada level internasional. Sementara itu, John Bowen, Professor Antropologi Universitas Washington, AS, menyatakan bahwa buku ini sangat penting dan relevan bagi kajian kajian Asia Tenggara secara umum dan sudah semestinya menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa yang menggeluti sejarah, juga bagi mahasiswa yang tertarik dengan hubungan antara Sastra dan Politik di Asia era pramodern.

Buku yang terdiri dari dua bagian utama dan masing masing bagian terbagi lagi menjadi 3 sub-bagian, diawali dengan ucapan terimakasih, pemgantar penerbit, catatan pengantar dari Basri Amin dengan judul “Membaca ‘Karakter’ Sejarah Makassar”. Kemudian Pendahuluan dengan judul sama dengan judul buku ini yaitu “Menciptakan Sejarah Makassar di awal Era Modern”.

Bagian pertama “Penciptaan Sejarah” dengan sub-bagian :
1.      Makassar di Awal Era Modern dan Konteks yang Melingkupinya
2.      Budaya dan Penciptaan Sejarah
3.      Transformasi Persepsi Masa Lalu Makassar

Bagian kedua dengan judul “Mencipta Sejarah”, dengan sub-sub bagian yaitu :
1.      Literasi Sejarah dan Penciptaan Hierarki Sosial
2.      Literasi Sejarah dan Gowa Sebagai Pusat Makassar
3.      Literasi Sejarah dan Budaya Makassar    

Pada bagian akhir ada kesimpulan buku, lampiran berupa daftar penguasa Gowa dan Talloq di awal era modern, ada glossarium yaitu penjelasan kata kata atau istilah asing atau daerah yang sulit dipahami, daftar pustaka yang digunakan penulis dalam menyusun buku ini, indeks yang memudahkan pembaca dalam menemukan topik yang diinginkannya. Terakhir adalah uraian singkat tentang penulis buku. 


Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah


Buku : Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah
Penulis : Mattulada
Penerbit : Ombak, Yogyakarta, 2011
Jumlah Halaman : xxvi + 219
Ukuran : 15 x 23 cm
ISBN : 978-602-8335-72-x

Makassar adalah salah kota di Nusantara yang telah melintasi masa ratusan tahun dengan segala dinamika yang dilewatinya. Makassar juga termasuk salah satu kota yang banyak menjadi obyek penulisan dan penelitian oleh para ilmuwan, sejarawan, ataupun buadayawan. Buku ini salah satu diantaranya. Ditulis oleh seorang Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof. Mattulada. Buku ini sebenarnya adalah penerbitan ulang, karena pernah diterbitkan sebelumnya yaitu pada tahun 1982 di Makassar.

Buku yang terdiri dari 5 bab ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, Penulis, Glossarium (penjelasan dari kata kata asing (Belanda) atau kata bahasa daerah (Makassar dan Bugis)), dan Kata Pengantar dari Dias Pradadimara (Dosen Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin) yang membahas tentang penulis buku Prof. Mattulada sebagai Sejarawan, Makassar dalam Penulisan Sejarah, dan Mattulada dalam Penulisan Sejarah.

Bab satu adalah Pendahuluan dijelaskan tentang Makassar dengan segala dinamikanya selama berabad abad dan juga sejarahnya. Ada pembahasan tentang Lintasan Peristiwa dalam Sejarah Gowa dimana nama Makassar  disebut sebut namanya dalam naskah naskah kuno Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca. Suma Orientale adalah catatan Tome Pires, adalah catatan sumber Eropa tertua yang mencatat tentang Makassar. Pada bagian ini juga dibahas tentang konsepsi dan pengertian Makassar, kelompok etnis dan sebutan Kerajaan  Gowa – Tallo, dan ibukota kerajaan.

Bab kedua, adalah Makassar, ibukota kerajaan Makassar. Letak geografis Makassar yang strategis, dari sudut pandang geopolitik, Makassar  sebagai kota bandar niaga dan pangkal pertahanan kerajaan Makassar. Selanjutnya dibahas masa masa pemerintahan pada raja Makassar ; Tumapa’risi’ Kallona (±1510-1546), Tunipallangga (±1546-1565), Tunibatta (±1565-1575), Tunijallo (1575-1590), Tunipasulu’ (1590-1593), Sultan Alauddin (1593-1639), Sultan Malikussaid (1639-1653), Sultan Hasanuddin (1653-1669). Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, dijelaskan tentang penerimaan Islam sebagai agama kerajaan. Juga ada pembahasan tentang penyebaran Islam ke seluruh Sulawesi Selatan. Selajutnya ada pembahasan tentang kontak kontak awal dengan VOC (Belanda). Banyak konflik dan perang antara pasukan Sultan Hasanuddin dengan pasukan Belanda dalam bab ini, misalnya penyerangan tentara Belanda di pulau Buton. Dibahas pula tentang Cappaya Ri Bungayya, atau lebih dikenal dengan nama Perjanjian Bungayya.

Bagian ketiga adalah Makassar dalam Peralihan. Masa masa ini adalah masa terberat bagi kerajaan Makassar yaitu Gowa dan Tallo. Akibat perjanjian Bungayya ini, hampir semua sendi kehidupan dikerajaan Gowa dan Tallo diambil alih oleh kompeni Belanda, misalnya Benteng Ujungpandang diambilalih dan diubah namanya menjadi Fort Rotterdam dan kampung kampung disekitarnya dinamai Stad Vlaardingen. Pada masa peralihan ini, juga disebutkan bahwa orang orang Melayu-lah yang menjadi warga Makassar yang terkemuka dibanding dengan warga Makassar atau Bugis.

Bab keempat adalah Makassar Sebagai Mata Rantai (Dalam) Pergolakan Nusantara. Pada bagian ini  kembali dibahas tentang asal mula munculnya kerajaan Makassar (Gowa dan Tallo), kemerosotan Kerajaan Majapahit, pandangan hidup baru yang dibawa oleh agama Islam, anak anak Makassar melanjutkan perjuangan ke tanah Jawa, tentang Syech Yusuf di Jawa Barat. Pembahasan lain yang menarik adalah tentang Semangat kebangsaan  dan kebebasan Nusantara berhadapan dengan Semangat Imperialisme Eropa.

Bagian terakhir membahas tentang Determinasi Waktu dan Tempat Kehadiran Makassar Dalam Menyejarah. Pada bagian ini ada tentang tempatnya dalam babakan waktu sejarah, penilaian data untuk menjadi tonggak terpenting, 9 November 1607 tonggak peristiwa kehadiran Makassar, dan  Dari Makassar ke Makassar.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto foto hitam putih, ada foto Lambang Kota Praja Makassar dari Nederland Scheepvaartmuseum Amsterdam, foto Makam Syech Yusuf di Katangka, Gowa, foto Cornelis Speelman, Fort Rotterdam, Pulau Makassar di Buton (Sulawesi Tenggara), Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka, Makam Dato’ Ri Bandang, Makam Sultan Hasanuddin dan Raja Raja Gowa lainnya, Masjid Katangka, dan lain lain. Juga ada beberapa peta sebagai pelengkap buku ini.

Pada bagian akhir buku, ada Indeks yang memudahkan pembaca mencari kata kunci topik yang diminati dan ingin dibaca, dan juga ada daftar pustaka dimana penulis menggunakan beberapa bahan pustaka rujukan dalam penulisan buku ini. Daftar pustaka ini juga dapat dicari dan digunakan oleh pembaca untuk dijadikan bahan rujukan dan penelitian.

        


Kisah Sebuah Buku Diari


Suatu sore sepulang dari kantor, saya menemukan sebuah buku diari teronggok ditempat sampah depan rumahku. Diari bersampul kuning dengan tulisan besar ‘UNSW Union Diary 2004’ disampul depannya. Sejenak saya membiarkannya saja, karena buku itu memang sudah penuh dengan tulisan. Selain tulisan kegiatan selama kuliah di UNSW, juga sebagian besar berisi coret-coretan dan gambar gambar anakku yang berusia 4 tahun. Tetapi kemudian saya berpikir, saya harus menyimpannya. Terlalu banyak kisah dibuku diari itu, yang indah untuk dikenang, yang bisa menjadi pelajaran untuk kehidupan selanjutnya, dan yang bisa kutulis dalam blog pribadiku.

Sebenarnya buku diari kampus ini hanya sebagian kecil dari sebuah buku ‘pintar’ kampus UNSW. Buku ini dapat dikatakan buku petunjuk dari A-Z tentang kehidupan kampus. Buku yang memuat semua informasi tentang kampus di UNSW, dan kehidupan mahasiswa. Mulai dari lokasi gedung gedung perkuliahan, toko, resto, café, gym, lapangan olahraga dan lain lain. Tidak banyak kegiatan yang kutulis dalam buku diari kampus ini. Hanya ada beberapa tulisah peristiwa yang tidak begitu penting sebenarnya. Misalnya :

Friday, 27th February (2004)
-working my project from 10 a.m – 1.00 p.m., producing the guide, classification, and a guide for portrait photographs
-Jum’ah Prayer at Sam Cracknel Building
-Meet Yong, he gives me a CD of Josh Groban entitled “Closer”.
-With Edwin, visiting the house that he plan to rent, but he cancel it.  

Buku diari (agenda) dari kampusku dulu di University of New South Wales, Sydney, Australia, bersampul kuning dengan ring binder (jilidan cincin), tiap awal tahun akademis (tahun pengajaran) dibagikan kepada mahasiswa atau para akademisi UNSW lainnya kalau mereka mau. Sebenarnya bukan dibagikan, karena ribuan buku diari diletakkan bertumpuk didepan tempat2 strategis didalam kampus. Mahasiswa atau siapa saja yang lewat bisa ambil, dan mau ambil 1 atau 2, 3 atau 4 tidak akan ada yang melarang. Jika tumpukan buku diari itu mulai berkurang, akan datang  petugas yang menambahkan lagi. 

Penerbitan buku ini dikelola oleh Union atau senat mahasiswa. Pembiayaannya saya perkirakan dari para sponsor, karena banyak iklan didalam buku diari ini. Ada iklan operator telepon seluler, restoran, café, barber shop, dinas transportasi, bank, perkumpulan perkumpulan dalam kampus, koran dan majalah, minuman ringan, dan banyak lagi yang lain. Selain itu juga banyak voucer belanja yang bisa digunting, misalnya, dengan membawa guntingan voucer minuman ringan ditoko tertentu, kita bisa beli 1 dapat 2 kaleng minuman ringan. Ada juga potongan harga 10% pada toko penyewaan pakaian wisuda jika kita membawa potongan voucer dari buku diari ini.

Lalu apa saja isi buku diari ini. Selain halaman bergaris yang telah dibagi perhari / tanggal untuk menuliskan kegiatan atau apa saja, juga banyak informasi lainnya yang ada dalam buku ini. Di awal halaman, ada member detail, yaitu data data pribadi si pemilik buku diari. Ada kata kata sambutan dari Presiden Union (Ketua Senat Mahasiswa), visi misi Union, hiburan yang ada di kampus, resto dan café, program untuk mahasiswa dari senat, penerbitan majalah, jurnal dan koran kampus,  dan info penting tentang fasilitas kampus.

Ada juga informasi berbagai macam assosiasi dan club mahasiswa, jumlahnya sekitar 250. Misalnya, ada club bulutangkis, tennis, rugby, tennis, ada perkumpulan mahasiswa Indonesia, Inggris, USA, Thailand, ada juga perkumpulan mahasiswa pencinta binatang, pencinta robot, pencinta komik manga, perkumpulan agama dan kepercayaan. Informasi tentang transportasi ke dan dari kampus UNSW juga tersedia. Ada informasi jadwal perkuliahan selama 2 semester, peta kampus, kalender akademik, dan juga sanksi sanksi yang bisa diterima jika melakukan pelanggaran.

Seperti itulah gambaran suatu buku diari kampus, buku diari yang cukup tebal dan gratis untuk mahasiswa di kampus.


Sinrilikna Kappalak Tallumbatua


Buku : Sinrilikna Kappalak Tallumbatua
Editor : Aburaerah Arief dan Zainuddin Hakim
Redaktur Ahli : Roger Tol
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1993
Jumlah Halaman : x + 330 halaman
Ukuran : 21 x 14 cm
ISBN : 979-461-155-7

Sinrilik adalah salah satu karya sastra lisan dari Makassar yang sampai sekarang masih sering dipentaskan atau dipertunjukkan pada beberapa kesempatan. Kegiatan pertunjukkan Sinrilik sering laksanakan pada hari kemerdekaan, atau hari jadi suatu kota kabupaten di Sulawesi Selatan. Dulu seingat saya pada zaman TVRI sebagai satu satunya stasiun TV di Sulawesi Selatan, setiap pekan ada pertunjukan Sinrilik di TV lokal Makassar.

Sinrilik adalah sastra lisan yang masih digemari di Sulawesi Selatan terutama orang orang dari budaya dan berbahasa Makassar. Sinrilik ini biasanya dinyanyikan dengan diiringi oleh alat musik tradisional Makassar yaitu keso-keso (sejenis rebab). Seingat saya, hanya keso-keso inilah satu satunya pengiringnya. Kata Cense (1979) Sinrilik adalah syair yang singkat dan liris, atau panjang dan epis. Sinrilik adalah suatu prosa lirik atau prosa berirama yang dapat dilagukan, kadang diiringi musik tradisional tapi kadang tanpa musik sama sekali.

Di daerah yang berbahasa Makassar di Sulawesi Selatan, ada setidaknya 20an judul Sinrilik yang masih sering dipertunjukkan pada seniman, belum termasuk Sinrilik kreasi baru yang juga kadang dipentaskan. Sinrilik kreasi baru biasanya diciptakan khusus untuk memperkenalkan suatu program pemerintah yang baru, misalnya sinrilik untuk pemilihan umum, keluarga berencana, dan lain lain. Namun diantara sekian banyak sinrilik itu, yang paling terkenal ada 4 judul yaitu :

1.      Sinrilik Kappalak Tallumbatua
2.      Sinrilik I-Datu Museng
3.      Sinrilik I-Madik daeng Rimakka
4.      Sinrilik I-Manakkuk Caddik-Caddik

Buku ini hanya terdiri dari 3 bagian, diawali dengan Prakata dari Muchtar Lubis dan  Kata Pengantar dari penerbit. Kemudian bagian pertama adalah Sinopsis yang berisi isi ringkas Sinrilik Kappalak Tallumbatua.

Kemudian bagian kedua adalah transkripsi Sinrilikna Kappalak Tallumbatua dan bagian keempat adalah Terjemahan Sinrilik kappalak Tallumbatua. Terakhir adalah tentang Editor dan Redaktur Ahli.

Tokoh utama dalam karya sastra ini adalah Andi Patunru yang merupakan putra mahkota dan pewaris tahta kerajaan Gowa, yang diusir dari tanah Gowa bersama saudaranya yang bernama Patta Belo.

Buku ini wajib dibaca bagi siapa saja yang tertarik mengkaji tentang sastra lisan nusantara utamanya Sastra lisan Makassar.


Abdul Hamid Petta Ponggawae



Buku : Abdul Hamid Petta Ponggawae, Profil Panglima yang Pantang Menyerah
Penulis : Muhammad Amir
Editor : Abd Rahman
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar 2015
Jumlah Halaman : xvi + 188 halaman
Ukuran : 14,8 x 21 cm
ISBN : 978-979-3570-81-5

Kisah perjuangan seorang tokoh perjuangan  selalu menarik untuk dibaca, terutama bagi kita yang hidup setelah kemerdekaan. Beruntunglah kita karena cukup banyak penulis yang mau bersusahpayah mengumpulkan informasi dan menuangkannya dalam bentuk tulisan sejarah perjuangan. Demikian pula yang dilakukan oleh penulis buku ini, yang berusaha mengungkapkan dan menjelaskan perlawanan panglima perang kerajaan Bone, Abdul Hamid Petta Ponggawae dalam menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Selatan.

Abdul Hamid adalah putra Raja Bone La Pawawoi Karaeng Segeri dari hasil perkawinannya dengan I Karimbo Daeng Tamene, putri Arung Mangempang, Barru. Ketika terjadi perang antara pasukan kerajaan Bone yang dipimpin oleh sang Panglima Perang Abdul Hamid Petta Ponggawae, pasukan  Belanda berhasil memukul mundur dan akhirnya mengepung pasukan kerajaan Bone. Abdul Hamid dan banyak pasukannya gugur, sedangkan ayahandanya, Raja Bone La Pawawoi Karaeng Segeri, ditangkap dan kemudian dibuang ke Bandung. Pada peristiwa heroik perlawan rakyat Bone pada waktu itu, telah gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa sejumlah kurang lebih 1000 orang dan termasuk didalamnya 100an orang dari kalangan bangsawan kerajaan Bone.

Perjuangan rakyat Bone melawan penjajah Belanda dibawah pimpinan Abdul Hamid Petta Ponggawae pada awal abad ke-20 merupakan suatu rangkaian perlawanan rakyat Sulawesi Selatan. Perlawanan rakyat Bone yang gencar dilakukan pada tahun 1905 dapat dikatakan perlawanan terbesar yang pernah dilakukan oleh rakyat Bone dalam menentang kekuasaan Belanda.

Buku ini terdiri dari 4 bagian dan diawali dengan Pengantar penerbit, pengantar editor, pengantar penulis serta Pendahuluan.

Pada bagian pertama ada Selayang Pandang Kerajaan Bone, dimana terdiri dari beberapa sub bagian yaitu Sejarah Singkat Kerajaan Bone, Geografi dan Demografi, Keadaan Sosial Budaya Masyarakat, dan Kehidupan Ekonomi dan Politik di Bone.

Bagian kedua dibahas Latar Belakang Keluarga dan Perlawanan Abdul Hamid Petta Ponggawae. Pada bagian ini dibahas pula, lingkungan keluarga Abdul Hamid Petta Ponggawae, Hubungan kerajaan Bone dengan pemerintah Belanda, Campur tangan Belanda terhadap Bone, munculnya antipati terhadap Belanda, persiapan dalam menyonsong perang.

Dinamika Perlawanan Abdul Hamid dibahas pada bagian ke-3. Pada bagian ini ada awal perlawan, puncak perlawanan, perjalanan panjang ke utara, dan gugurnya Abdul Hamid Petta Ponggawae.

Bagian terakhir adalah Kesimpulan, Daftar Pustaka, Indeks, lampiran dan tentang penulis.


Aku Bangga Berbahasa Bugis


Buku : Aku Bangga Berbahasa Bugis, Bahasa Bugis dari ka sampai ha
Penulis : Andi M. Rafiuddin Nur
Penerbit : Rumah Ide, Makassar, 2008
Jumlah Halaman: xx + 674
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm
ISBN : 979-98076-2-X

H. Muhammad Jusuf Kalla, pada Kongres Bahasa Daerah Sulawesi Selatan tahun 2007, menyatakan bahwa 30% dari 745 bahasa daerah di Indonesia sudah punah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Sementara itu perkiraan dari UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization), lembaga PBB yang mengurusi pendidikan, Ilmu pengetahuan dan kebudayaan, menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun kedepan, dari 6.000 bahasa di dunia, akan tinggal setengahnya  (50%) saja. Artinya ada sekitar 3.000an bahasa yang akan punah.

Berdasarkan prediksi prediksi inilah sehingga penulis tergerak untuk menuliskan buku ini. Ada kekhawatiran bahwa suatu waktu kelak, bahasa Bugis juga akan punah jika tanpa ada usaha untuk melestarikannya. Salah satu usaha penulis adalah mendokumentasikan segala aspek bahasa Bugis dalam buku ini, sehingga dapat dikatakan bahwa buku ini sangat lengkap membahas unsur unsur kebahasaan Bugis. Selain bisa sebagai Kamus (Bugis – Indonesia) juga dibahas tentang tata bahasa Bugis, sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis misalnya ada Paseng, Elong (Pantun Bugis), Toloq, dan lain lain. Tak lupa pembahasan  tentang aksara atau abjad dan aspek lainnya.

Buku setebal 674 halaman ini diawali dengan Pengantar Penerbit, kemudian Kata Pengantar dari penulis, disusul dengan Pendahuluan. Pada bagian Pendahuluan ini, penulis mengungkapkan kecewaannya pada kenyataannya bahwa banyak generasi muda Bugis yang sudah enggan dan malu menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa pergaulan sehari harinya. Salah satu alasan keengganan orang Bugis untuk menggunakan bahasa Bugis lagi menurut penulis adalah karena nilai nilai luhur bahasa Bugis tidak lagi dipahaminya dengan baik dan benar. Hal ini menyebabkan rasa memiliki serta rasa bangga terhadap bahasanya sendiri menjadi pudar. Hal lain adalah karena kurangnya bimbingan, pembinaan, pengajaran dan pendidikan baik di dalam keluarga maupun di sekolah sekolah.

Selanjutnya dibahas tentang “Bahasa Bugis Baku”. Pada bagian ini penulis tidak menyebut secara tegas, adanya bahasa Bugis baku, karena setiap daerah yang berbahasa Bugis, masing masing menganggap bahasa Bugis merekalah yang baku, sementara yang lain hanya dialek dari daerah lainnya saja. Perlu diketahui bahwa bahasa Bugis yang digunakan di Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Sinjai dan lain lain selalu saja ada perberdaan, baik perbedaan dialek maupun kosa kata.

Pada bagian selanjutnya dibahas tentang Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional. Pada bagian ini, pembahasan utamanya adalah bagaimana bahasa nasional (Indonesia) telah mempengaruhi bahasa Bugis dan juga Makassar. Dijelaskan juga bagaimana orang Bugis dan Makassar berbahasa Indonesia dengan logat Bugis atau Makassar, termasuk akhiran akhiran yang sering digunakan seperti  ‘ki’, ‘di’, ‘mi’, ‘ko’ dan lain lain.

Selanjutnya ada pembahasan tentang “Pangngadereng”. Disebutkan bahwa Orang Bugis tidak bisa lepas dari pangngadereng yang terdiri dari 5 unsur yaitu ; ade’, rapang, bicara, wari, dan sara’. Dibuku ini dijelaskan perbedaan antara pangngadereng dengan ade’. Ada juga dibahas pentingnya menggunakan dan berbicara Bugis yang baik dan benar.

Pada bagian “Seluk Beluk Bahasa dan Aksara Bugis” dijelaskan tentang aksara dan abjad, perbedaan penggunaan aksara lontara  Bugis dengan Lontara Makassar, perbedaan penulisan lontara untuk bahasa Indonesia, sejarah awal terciptanya aksara Lontara, awal mula terciptanya aksara lontara ‘ha’ yang merupakan aksara untuk memenuhi pengucapan bahasa Bugis yang berasal dari kata kata bahasa Arab. Penulisan aksara Lontara untuk nama nama jalan di Makassar juga dijelaskan oleh penulis.

Sastra Bugis dan Paseng. Pada bagian ini dibahas panjang lebar tentang sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis (genre). Ada Sure’, Elong, Tolo’, paseng atau pappaseng to riolo . Banyak contoh jenis (genre) sastra Bugis dalam buku ini.

Pada bagian lainnya dibahas tentang cara penulisan dan pengucapan bahasa Bugis pada buku ini. Bagian ini semacam petunjuk pemakaian buku ini. Ada pembahasan tentang susunan abjad, cara pengucapan dan arti kata, dan  pengaruh dialek daerah.

Bagian terakhir adalah Bahasa Bugis dari ka sampai ha. Bagian ini adalah semacam kamus Bugis – Indonesia yang disusun berdasarkan susunan aksara Lontara Bugis, yaitu ka, ga, nga, ngka dan seterusnya.

Buku ini sangat lengkap membahas berbagai aspek bahasa dan budaya Bugis. Sangat penting untuk dimiliki dan dibaca oleh orang Bugis dan orang bukan Bugis yang tertarik mengkaji bahasa dan budaya Bugis.

Buku ini koleksi pribadi, tapi jika tertarik untuk membacanya, ada di perpustakaan perpustakaan di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan.



Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts