The Old Manuscript of Bugis and Makassar


The Bugis and Makassar ethnic groups in South Sulawesi are including two of the few ethnics in Indonesia who has a tradition of writing. Letters or script used by the Bugis people since hundreds of years ago is the Lontara script. The Lontara is derived from “lontar” or palm (leaves) where the original scripts were written on. Lontara itself is named "uki Ugi'sulapa eppa'" (Dr. Mukhlis Paeni in Nusantara Manuscript Catalogue). Makassar ethnic group is also has its own letter, called script 'jangang jangang' which resemble the original form or shape of the bird, so-called 'jangang jangang'. In further developments jangang-jangang script is rarely used and the Uki Sulapa Eppa is more frequently used for both Bugis and Makassar writing system. According to historians, the script lontara 'Uki sulapa eppa' and 'jangan jangan' script are both derived characters from the Indian's Sanskrit.

A lot of Bugis ancient manuscripts stored in the Library and Archives of South Sulawesi, consisting of a variety of characters, namely lontara Bugis, lontara jangang-jangang script, 'serang' script (written of Bugis or Makassar using the Arabic script), and the manuscripts writteh in Arabic scripts especially for religious purposes. Some of those manuscripts are already difficult to read, both the original manuscript and its microfilm. This is because the manuscripts are already too old and very fragile manuscript, the ink used has also been seep into the paper, there are also a lot pages missing or torn.


In the Regional Library and Archive of South Sulawesi it is also well preserved the ancient Bugis manuscripts written on palm leaves. The manuscript is in the form of palm leaf roll. According to the experts this manuscript was written by using a kind of nail to scratch the letter on the palm leaves carefully due to the nature of palm leaves which are easily torn. After one piece of writing, the scripts then dusted with black powder so that the writing visible and clearly legible. When a strand was finished then connected with the previous piece by stitching using a needle and thread. When a manuscript is considered finished then pieces of palm leaves are rolled up and made the rolls for easy reading. How to read the manuscript? In a position sitting cross-legged with hands palm leaf rollers rotating rolls. The reading usually accompanied by a ritual. Family-tree manuscripts usually read in the evening before the wedding ceremony. The purposes are to make sure that the bride-to-be or groom-to-be are both from the noble blood.


The number of manuscripts lontara of Bugis, Makassar and Mandar stored preserved in the Regional Library and Archive of South Sulawesi is 4049 manuscripts. Those manuscripts all have been microfilmed. Researchers or students who need the manuscripts will only access the microfilmed manuscripts. The original manuscripts are already inaccessible, due to the nature of the paper which is already very fragile. The original manuscripts are usually only for display at an exhibition. The microfilmed lontara manuscripts are now accessible by using the Microfilm reader. Various topics written on Bugis manuscripts such as astrological 'kutika' which described about the good days and bad days to perform wedding ceremony, build and erect new houses (the house building of the Bugis and Makassar people are houses on stilts), beginning the day working the fields, and other forecasts. The using of herbal is written in the manuscript lontara pabbura'. Various types of mixed and herbaceous plants used to treat certain diseases. There's also called lontara Baddili 'Lompoa that is lontara manuscript that discusses the strategies of war and weapons. Another manuscript, talks about different ways of farming called lontara 'Paggalung, tasauf tale story, Syech Yusuf's teachings, religious manuscripts, sex education (lontara akkalaibinengeng), disposition of animals, genealogy (Lontara Pangoriseng), Lontara' alloping- loping which is lontara who investigated the procedures for sailing and fishing. There is also lontara 'pattaungeng which is a diary or chronicles of the ancient Bugis Kingdom and others (Rumpakna Bone, translation by Drs. Muhammad Salim 1991).


Literary works of Bugis usually consists of poetic literature such as the epic I La Galigo, Tolo ', Meongpalo, Sure' Selleyang, Ugi Elong. While lontara 'which consists of example sentences concatenated lontara saga, story, tasauf, and other religious lontara. The number of letters from the lontara type array is different. Elong Ugi usually consists of three lines each number of letters (lontara ') his or syllables in the Latin alphabet 8', 7 and 6. Sometimes it consist of only two rows but the number of syllables will always be 21. The Tolo ', Menrurana, and Meongpalo is composed of lines that connect array consisting of eight syllables or 8 letters of Bugis. I La Galigo and Sure 'Selleyang have amount of lines of 5, 5, 5 or 10, 10, 10.


It is unfortunate that the younger generation seems uninterested in examining the manuscript or lontara Bugis and Makassar. In fact, lontara 'Bugis and Makassar is one aspect of local culture containing noble cultural values of the nation. Without attempts to preserve the manuscript lontara Bugis and Makassar it is feared that the Bugis and Makassar younger generation will lose their identity and works of literature will be extinct.




Monumen Cinta Raffless di Kebun Raya Bogor

Monumen Cinta Raffles untuk Istrinya

Setiap kali kita berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB), jika melalui pintu utama, maka sebuah bangunan bercat putih bergaya Byzantine berbentuk melingkar dengan sejumlah pilar, akan menyambut kedatangan kita ke KRB. Bangunan putih adalah sebuah Monumen kenangan dari Sir Thomas Stanford Raffles untuk mengenang istrinya tercinta. Sebuah monumen yang dibangun sebagai bukti cintanya yang besar kepada istrinya yang wafat di Buitenzorg (nama kota Bogor dulu diera kolonial). Bangunan itu hanya monumen, dan bukan kuburan, karena kuburan istri Raffless ada di Pekuburan Tanah Abang di Batavia (nama Jakarta waktu itu).

Foto saya didepan Monumen

Sir Stanford Raffles adalah Letnan Gubernur Inggris yang bertugas di Pulau Jawa pada awal abad ke 19 yaitu dari tahun 1805 - 1816. Selama bertugas di Jawa, Raffles didampingi oleh istrinya yang bernama Olivia Mariamne Raffless. Olivia dikenal sebagai istri yang sangat membantu karir suaminya. Perannya bukan sekedar istri seorang Letnan Gubernur Inggris, tetapi juga aktif membuat perubahan sosial di pulau Jawa. Olivia selalu mendampingi suaminya setiap kali sang suami berkunjung ke raja raja penguasa lokal di Jawa. Sebelum Olivia, belum pernah ada wanita Inggris maupun Belanda yang ikut bergabung dengan para penduduk lokal setiap kunjungan. Bahkan Olivia sering mengadakan perjamuan makan yang terbuka untuk umum, baik laki-laki maupun perempuan, hal yang sebelumnya dianggap tabu makan bersama antara laki-laki dengan perempuan. Dia juga menganjurkan wanita Eropa untuk menggunakan sarung sebagaimana wanita lokal.

Papan Petunjuk: disebut "Tugu Lady Raffles"

Olivia Mariamne Devenis lahir di India pada 17 Februari 1771, dan wafat di Bogor pada 26 November 1814. Raffles pertama kali bertemu dengan Olivia di London, Inggris saat Olivia mengambil uang tunjangan pensiunan janda. Olivia memang berstatus janda ketika pertama bertemu dengan Raffles. Suami pertamanya adalah Jacob Cassivelaun Fancourt seorang asisten bedah pada perusahaan East India Company di India. Perkawinan pertamanya dengan Fancourt hanya berlangsung selama 7 tahun dan Fancourt wafat pada tahun 1800. Olivia kemudian kembali ke Inggris dan disanalah bertemu dengan Raffles, yang meskipun Olivia lebih tua hampir 10 tahun dari Raffles tapi keduanya mengikat tali pernikahan pada 18 Maret 1805 di Gereja St. George, Bloomsbury.

Monumen pada masa Kolonial Belanda (1930an)


Kedua pengantin baru ini kemudian berlayar dengan Kapal Ganges menuju Penang (Malaysia waktu itu) , karena Raffles yang mendapat jabatan/posisi tinggi pada East India Company. Selama di Penang, Olivia cukup dikenal dan bersahabat dengan beberapa pejabat dan pujangga pada masa itu, seperti Lord Minto, sastrawan John Caspar Leyden yang sering bertukar puisi dengan Olivia, dan juga berteman dengan satrawan dan sejarahwan lokal Munshi Abdullah. Bahkan Abdullah Munshi memujinya sebagai, “istri yang berbakti kepada suami, dan bahkan dialah yang banyak mengajari suaminya, keduanya adalah pasangan yang sangat serasi bagaikan Raja dan penasehatnya”. Di Penang ada satu bukit kecil yang dinamai “Mount Olivia” untuk mengabadikan namanya. Raffles mendirikan sebuah bungalow tempat tinggal disini dekat dengan bukit “Mount St. Mary” yang mengambil nama saudara perempuan Raffles bernama Mary Anne, yang bersama suaminya Quintin Dick Thompson tinggal. Setelah Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur di Jawa, keduanya kemudian pindah ke Buitenzorg (Bogor) dan menetap disana di Istana Bogor sampai akhir hayatnya. Selama mendampingi suaminya, dia sangat dikenal oleh para bangsawan dan raja raja di Jawa, karena dia selalu mendampingi suaminya jika berkunjung ke kerajaan kerajaan lokal. Karena penyakit malaria yang dideritanya, akhirnya Olivia wafat di Bogor dan kemudian dikuburkan di pekuburan Tanah Abang.



Tidak banyak informasi yang ditinggalkan oleh Olivia. Ada yang mengatakan bahwa, istri kedua Raffles yang bernama Sophia Hull yang mungkin telah menghancurkan benda benda kenangan dari Olivia. Juga tidak diketahui apakah dia punya anak dari Raffles atau tidak, tetapi kalau ada, diperkirakan meninggal saat masih bayi. Kematian Olivia begitu menyedihkan bagi Raffles, karena berturut turut wafat pula sahabat dekatnya sekaligus mentornya Leyden dan Lord Minto.

Monumen cinta Sir Thomas Stanford Raffles kepada istrinya Olivia Mariamne Raffles tetap abadi di Kebun Raya Bogor, dan sampai sekarang meskipun sudah ratusan tahun. Sebait puisi yang ditulis oleh Olivia terukir pada monumen itu Oh thou whom neer my constant heart One moment hath forgot Tho fate severe hath bid us part Yet still – forget me not Terjemahan bebasnya kirakira begini: “Oh kekasih yang selalu dihatiku, yang tak sedetik kulupakan, meskipun takdir yang kejam memisahkan kita, namun jangan pernah lupakan daku” (Bahan dari Wikipedia Indonesia dan artikel berbahasa Inggris tulisan dari Bonny Tan) Gambar: Koleksi Pribadi dan Wikipedia.org



Danau Mawang yang Indah namun Terabaikan


Danau Mawang adalah sebuah danau kecil yang terletak di kelurahan Romang Lompoa, kecamatan Bontomarannu, Gowa. Jarak dari rumah tempat tinggal kami hanya sekitar tiga kilometer saja. Karena jaraknya yang dekat itu, maka tempat ini seringkali menjadi tempat alternatif bagi saya sekeluarga untuk dikujungi diakhir pekan. Sebenarnya danau ini tidaklah menarik, karena tidak ada tempat duduk duduk bagi pengunjung misalnya, tidak ada tempat yang cukup lapang dan luas untuk menggelar tikar, tidak ada balai balai yang bisa dijadikan tempat berteduh dan memandang kearah danau. Hal yang paling tepat dilakukan disekitar danau kecil ini hanyalah memancing, olahraga lari atau jogging atau bersepeda.


Saya biasanya datang ke danau ini saat sore hari dihari sabtu atau minggu bersama anak anak. Kadang kadang juga bersama istri kalau dia lagi tidak sibuk dirumah. Kami biasanya hanya datang ke tempat yang indah ini hanya untuk memotret, melihat lihat orang memancing ikan, memandangi bunga bunga teratai putih dan pink. Bunga bunga teratai yang tumbuh didanau Mawang ini sangat indah jika mekar berbunga semua secara bersamaan. Hanya saja, jumlah tumbuhan teratai ini semakin lama semakin berkurang, dan sepertinya terdesak oleh tumbuhan eceng gondok yang juga semakin menguasai danau.


Danau Mawang merupakan serapan air untuk Sungguminasa. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pendangkalan yang semakin luas. Luasnya danau Mawang sekitar 50 hektar, namun semakin hari semakin menyempit. Pemerintah kabupaten Gowa sepertinya tidak peduli dengan danau Indah ini. Kalau saja pemerintah mau berusaha membangun sarana dan prasarana pariwisata disekitar danau, tentulah akan banyak wisatawan yang akan datang.


Pertama-tama, yang harus dilakukan adalah pengerukan danau, terutama pinggirannya. Kalau tidak dikeruk, suatu hari, danau ini akan hilang dari peta Gowa, dan mungkin saja menjadi lokasi perumahan. Kedua perlu dibangun balai balai untuk dijadikan tempat duduk pengunjung. Taman taman kecil tempat menggelar tikar juga sesuatu yang akan menarik pengunjung. Bisa juga dibuatkan rumah rumah ditepian danau khusus bagi pengunjung yang akan memancing. Pemerintah juga bisa menyiapkan perahu perahu bebek seperti yang ada di pantai Losari. Taman kecil, track jogging, track sepeda, sepaturoda juga tentu akan menarik perhatian pengunjung. Dengan ramainya pengunjung, penduduk diwilayah sekitar danau, bisa meningkatkan pendapatannya dengan menjual misalnya souvenir, makanan dan minuman, atau bahkan tempat penyewaan tikar.

Ini hanya pemikiran saya, sebagai orang yang sering berkunjung ke danau Mawang. Semoga saja ada keperdulian dari pemerintah daerah Gowa, atau Provinsi Sulawesi Selatan agar dapat membangun dan menjadikan danau Mawang sebagai salah satu tujuan wisata di Gowa. Semoga saja.


Kisah Kartu Kredit


Beberapa waktu lalu, pada salah satu koran lokal di Makassar, saya membaca berita tentang seorang yang memiliki lebih dari 3.000 kartu kredit. Pemilik kartu kredit tersebut bukan orang Indonesia tapi orang Amerika Serikat. Entah bagaimana orang tersebut mengurus dan mengelola kartu kredit sebanyak itu. Setahu saya, satu atau dua buah kartu kredit saja sudah merepotkan, apalagi sampai lebih dari 3000 buah. Dikoran lokal maupun nasional, hampir setiap hari terungkap lewat surat pembaca tentang permasalahan yang dihadapi para pemegang kartu kredit. Ada yang susah menutup kartu kreditnya, ada yang secara diam diam kartu kreditnya digunakan orang lain, ada yang tertipu dengan cicilannya, ada yang sudah menutup kartu kreditnya tapi tagihannya tetap jalan, bahkan ada yang sampai dianiaya oleh para debt-collector.


Saya salah satu diantara sekian banyak orang yang tidak memiliki kartu kredit sampai sekarang. Entah dimasa depan, tapi sepertinya saya tidak pernah tertarik memilikinya. Hampir setiap hari selalu saja ada dua atau tiga orang SPG (Sales Promotion Girls) datang kekantor kami menawarkan kartu kredit kepada para pegawai dikantorku disalah satu kantor pemerintah. Namun saya tetap bertahan untuk tidak menggunakan kartu kredit untuk segala transaksi keuangan saya. Di kantor kami, rata-rata yang memiliki kartu kredit adalah para pejabat, atau yang bukan pejabat tapi memiliki bisnis diluar kantor.

Mengapa saya sampai tidak tertarik memiliki kartu kredit. Ada kisah nyata yang saya alami sendiri yang terjadi 1997 atau 1998 lalu. Waktu itu saya baru saja diterima bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada salah satu kantor pemerintah. Semua urusan keuangan PNS dikantorku dikelola oleh salah satu Bank pemerintah dikotaku. Jadi sayapun sering bolak balik ke Bank tersebut untuk transaksi keuangan, baik untuk menabung, mengambil gaji, mentransfer uang dan lain lain. Begitu pula teman kantorku sesama PNS lainnya.


Pada suatu hari saya berada di Bank pemerintah tersebut untuk mengurus kartu ATM. Waktu itu belum banyak PNS yang menggunakan kartu ATM. Masih banyak yang lebih suka antri dikasir Bank saat gajian tiba. Saya lebih suka yang praktis dan tidak mau repot repot antri gajian di bank. Setelah urusah kartu ATM selesai, saya didekati oleh salah seorang pegawai wanita bank tersebut dan ditawari untuk memiliki kartu kredit. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik, karena kupikir, jumlah gaji PNS tidaklah mencukupi untuk memiliki kartu kredit. Namun pegawai bank tersebut terus meyakinkan saya tentang segala keuntungan dan kelebihan kartu kredit. Akhirnya sayapun mendaftar, didepan konter kartu kredit dibank tersebut. Semua informasi tentang diri saya sebagai PNS kuisikan pada surat permohonan kartu kredit yang diberikan, dan tentu saja semua kuisi dengan jujur sampai selesai, dan kembali kekantor.


Beberapa bulan kemudian, belum juga saya menerima kartu kredit yang dijanjikan. Saya kemudian berangkat keluarnegeri untuk melanjutkan pendidikan S2 saya setelah lulus tes beasiswa dari salah satu negara maju. Saat diluar negeri saya menelpon ke keluarga di Makassar menanyakan apakah sudah ada diterima kartu kredit dari salah satu bank. Setiap kali saya menelpon, jawaban keluarga selalu “belum ada!”. Namun pada suatu hari saya menelpon lagi, dan keluargaku memberi informasi tentang surat dari Bank. Saat kutanyakan, apakah ada kartu kredit didalam surat tersebut, keluargaku menjawab ‘tidak ada’ dan katanya lagi, “permohonan kartu kreditmu ditolak oleh Bank, karena gajimu tidak mencukupi!”. Terus terang, saya tidak kaget dan malah sudah memperkirakan hal itu, karena kupikir kalau sampai berbulan bulan tidak ada jawaban, pasti permohonan itu ditolak. Lagi pula waktu itu saya hanya PNS baru golongan 3A dengan gaji yang pas-pasan. Akhirnya saya pun melupakan peristiwa itu.


Di luarnegeri, saya kuliah dan menggunakan kartu ATM yang juga berfungsi sebagai kartu Debet. Semua berjalan lancar, bahkan penggunaan kartu ATM sebagai kartu Debet juga sangat praktis. Hampir semua toko dan mall bisa menerimanya. Sampai saya pulang ke Indonesia kembali setelah tinggal 2,5 tahun diluar negeri, saya tetap tidak memiliki kartu kredit.


Sekarang, setelah kembali ke Indonesia (Makassar) dan kembali bekerja di kantor pemerintah yang telah saya tinggalkan untuk belajar, saya masih sering saja ditawari kartu kredit oleh para SPG atau SPB (Sales Promotion Boy) dari berbagai Bank. Ketika saya ungkapkan tentang gajiku yang tidak mencukupi, para sales itu kemudian berkilah, “Oh, itu bisa diatur pak, dengan bendahara gaji!”. Namun saya tetap menolak “mengatur” besaran jumlah gaji dengan bendahara gaji. Kupikir, disinilah awal mula segala permasalahan dengan kartu kredit tersebut. Gaji tidak mencukupi tapi dengan cara bekerja sama dengan bendahara gaji di kantor kantor pemerintah untuk menyebut jumlah gaji yang lebih besar dari sebenarnya pada surat permohonan, untuk mendapatkan kartu kredit.


Saya sudah golongan 4 sebagai PNS tapi sampai sekarang, saya merasa mungkin gaji saya tetap belum mencukupi untuk membayar tagihan tagihan kartu kredit. Para SPG kartu kredit itu sering berkata bahwa dengan memiliki kartu kredit, kita gampang transaksi kalau keluar negeri. Dalam hati saya berkata, saya sudah berkunjung ke beberapa negara dan tanpa menggunakan kartu kredit dan semua lancar lancar saja. Atau mungkin karena saya memang kalau keluar negeri tidak bermaksud memborong semua barang barang mahal. Saya hanya membeli baju kaos atau gantungan kunci untuk oleh-oleh anak-anakku, teman kerja, tetangga dan kerabat hahahahha 


Johanna Sattar, penyanyi idola Ibuku dimasa lalu...



Akhir akhir ini, saya menikmati mendengar lagu lagu lama Johanna Sattar, penyanyi lagu Melayu yang tenar diera 1950an – 1970an. Meskipun saya terlahir ketika ketenarannya sudah mulai memudar namun, saya kenal betul dengan nama Johanna Sattar ini, karena almarhumah ibuku mengidolakan beliau. Ibuku semasa hidupnya, seringkali menceritakan tentang kesukaannya terhadap penyanyi Johanna Sattar. Kata ibuku, meskipun tengah malam, kalau tiba tiba diradio terdengar Johanna Sattar menyanyi, maka dia akan terbangun dan menikmati lagunya sampai habis….. Ibuku ketika itu hanya menikmati lagu lagu Johanna Sattar ini dari Radio, karena masa itu hanya Radio satu satunya sarana hiburan dikampung. Diera 1960an, kasetpun belum ada dikampung. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya menikmati lagu lagu dari penyanyi favorit kita, karena hanya bisa menunggu sampai lagu lagunya diputar di Radio. Karena ibuku sangat hapal lagu lagu Johanna Sattar, maka saya berkesimpulan bahwa radio radio pada masa itu tentu sangat sering memutar lagu lagunya.



Lagu lagu Johanna Sattar yang kunikmati itu berasal dari Youtube yang kuunduh (download) langsung ke dalam laptopku dalam format Mp3. Awalnya saya mencari video lagunya Duo Alfin saat menyanyikan lagu “Untuk Bungaku” pada acara kontes lagu D’Academy 3 pada salah satu stasiun TV. Setelah kutemukan dan kuunduh, kemudian disisi kanan layar, banyak ‘terhidang’ menu lagu lama lama yang sama dan seirama dengan lagu Duo Alfin tersebut. Ternyata lagu “Untuk Bungaku” ini adalah lagu lama dari penyanyi Melayu bernama Muhammad Mashabi. M. Mashabi ini juga ternyata penyanyi tenar diera 1960an. Banyak komentar dari penonton di Youtube yang menceritakan tentang ketenaran M. Mashabi ini. Dari video Youtube M. Mashabi ini baru kutahu kalau lagu lagu “Kecewa” yang populer dinyanyikan oleh Iis Dahlia, berasal dari Album lagu M. Mashabi dan Johanna Sattar ini dan dinyanyikan oleh Johanna Satar.



Di Youtube ada satu Album (aslinya dalam bentuk Kaset) yang berisi lagu lagu M. Mashabi dan Johanna Sattar. Dalam album ini, M. Mashabi menyanyikan 11 lagu pada side A, dan Johanna Sattar juga menyanyikan 11 lagu pada side B. Bagusnya lagi karena keseluruhan lagu ini bisa diunduh sekaligus. Sayangnya ada 2 lagu yang kurang bagus kualitasnya, yang jika diputar keseluruhan berlangsung sekitar 44 menit. Selain itu, juga banyak lagu tunggal (single) Johanna Sattar yang dapat diunduh misalnya lagu, ‘Ditinggal Pergi’, ‘Keluhan Anak Yatim’, ‘Ketjewa’, ‘Pudjaanku’, ‘Rintihan Sukma’, ‘Usah kau Kenang’, ‘Tinggal Kenangan’, ‘Putus Asa’, ‘Tiada Guna’, ‘Qais dan Laila’, ‘Sesal dan Derita’, dan lain lain.



Johanna Sattar ini ternyata ejaan namanya bermacam macam di dunia maya (web). Ada yang menulis Juhana Satar, Djuhana Satar, Juana Sattar, Djohana Satar. Ibuku menyebut namanya dengan nama Johanna Sattar, dengan 2 ‘n’ dan 2 ‘t’. Orkes musik yang mengiringi Johanna Sattar menyanyi juga ada beberapa misalnya, Orkes Bukit Siguntang, OM (Orkes Melayu) Chandralela, Orkes Kelana Ria dan OM Pantjaran Muda. Kalau kita mendengar lagu lagunya, kedengaran sendu dan serasa mengharukan. Mungkin jenis vocal-nya memang seperti itu, apalagi lagu lagunya memang lagu sendu dan sedih.
Yang membuat saya penasaran adalah, mengapa Johanna Sattar ini benar benar ‘hilang’ dalam pemberitaan media selama periode 1970-an – 1990-an? Kalau misalnya Johanna Sattar begitu tenar diera 1950an dan 1960an, almarhum ibuku dulu begitu mengidokan beliau, lalu mengapa saya tidak pernah menemukan satu artikelpun tentang dia? Bahkan disalah satu sampul kasetnya di Youtube, penyanyi ini berdampingan dan menyanyi satu Album dengan Elvi Sukaesih yang menjadi ratu Dandut saat ini. Kemunculan Johanna Sattar baru ada di web pada situs Youtube, dimana selain banyak video lagu lagunya, juga ada video wawancaranya saat beliau menghadiri acara Festifal Lagu Melayu di Jakarta. Ternyata beliau masih segar bugar, meski sudah berusia 70an tahun. Ada yang mengatakan beliau saat ini tinggal di Bogor ada juga yang menyebutnya di Garut. Entah yang mana yang benar.



Yang membuatku sedih dan haru adalah kenyataan bahwa saya baru menemukan lagu lagu Johana Satar di Youtube setelah ibuku wafat 5 tahun lalu. Saya bisa membayangkan betapa gembiranya ibuku kalau saja beliau sempat mendengar kembali lagu lagu kesayangannya diera 1950an dan 1960 yang dinyanyikan penyanyi idolanya; Johanna Sattar, kalau saja masih hidup bersama kami saat ini. Akan kuperdengarkan kepada ibuku lewat laptop-ku dengan menggunakan speaker besar. Ibuku pasti akan ikut bersenandung…..

“ ♪ ada kalanya ♫ hatiku ingin tahu,
♫ dimasa dikau ♫ membisu ♪ tak berkata,
♪ bagaikan ♫ menyimpan ♫rahasia…♪… (lirik lagu “Pudjaanku”)

(Sumber Gambar : dari Google dan youtube)



Kuil Hadrian di Kota Kuno Ephesus, Turki

Kuil Hadrian adalah salah satu gedung yang terindah yang masih tersisa di kota kuno Ephesus di   Provinsi Izmir, Turki. Kuil yang terletak d...

Popular Posts