Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik



Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpustakaan dapat memenuhi kriteria perpustakaan berstandar nasional. Peran perpustakaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sangatlah penting, terutama dalam mendorong peningkatan literasi masyarakat melalui penguatan fungsi dan kualitas layanan perpustakaan, baik ditingkat provinsi, kabupaten/kota sampai ketingkat desa.

Pemerintah melalui Perpustakaan Nasional RI akhir akhir ini gencar mempromosikan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Program ini berusaha meningkatkan penguatan literasi masyarakat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Penguatan literasi masyarakat bukan hanya untuk kalangan dewasa saja, tetapi juga bagi anak anak TK, SD, SMP maupun remaja.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan telah membentuk Tim Pembinaan Perpustakaan (TPP) dalam rangka peningkatan kualitas layanan perpustakaan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Ada 8 (delapan) tim masing masing terdiri dari 10 dan 11 orang anggota. Masing masing tim akan melaksanakan pembinaan di 3 (tiga) kabupaten/kota dan juga membina perpustakaan pada 2 (dua) kecamatan tiap tim.

Adapun jenis perpustakaan yang masuk dalam kerjasama pembinaan yaitu Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah SLTA dan yang sederajat, Perpustakaan Desa dan Kelurahan, dan Perpustakaan Khusus (Instansi). Selain mendata dan membina Perpustakaan, Tim juga akan melaksanakan tugas pendampingan dalam bidang teknologi Informasi (TIK) serta pendataan Karya Cetak (KC) dan Karya Rekam (KR) dan karya elektronik (digital).

Tim 5 Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan telah melaksanakan tugas pertama pembinaan pada lokus Perpustakaan Pendidikan Usia Dini (PAUD TAS/KB) Rusunawa Pannambungan, Kecamatan Mariso, Kota Makassar. Selain anggota tim, kegiatan ini juga melibatkan pustakawan dari Dinas Perpustakaan kota Makassar, para pegiat literasi, dan Duta Baca Sulawesi Selatan.

Lokasi PAUD ini berada di tengah kompleks rumah susun sederhana di kawasan pesisir pantai di Makassar. Aksesnya agak susah, karena melewati jalan yang sempit. Hal ini menyebabkan beberapa anggota tim terlambat datang di lokasi. Meskipun kemajuan teknologi telah digunakan dengan cara berbagi lokasi (share location) melalui piranti lunak google maps, namum tetap saja membingungkan arah yang disebutkan.

Jumlah peserta didik PAUD ini sekitar 50 orang, namun yang hadir hanya sekitar 30 orang. Program pertama yang dilakukan adalah mendongeng (Story telling) oleh pustakawan DPK Sulawesi Selatan dan juga dari Pegiat Literasi. Kami juga membagikan bingkisan makanan ringan (snack) untuk setiap anak anak peserta didik, bernyanyi bersama. Terakhir adalah acara intinya yaitu pembinaan perpustakaan. Perpustakaan PAUD ini memiliki koleksi buku anak anak misalnya buku buku dongeng, kisah kisah nabi, pengenalan huruf, buku membaca menulis dan berhitung (calistung) dan lain lain. Tim kemudian memberikan petunjuk petunjuk teknis pengelolaan perpustakaan kepada pengelola perpustakaan PAUD. Petunjuk teknis tersebut tertuang dalam bentuk instrument yang seragam dari lembaga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, sehingga semua perpustakaan binaan akan menerima arahan dan petunjuk teknis yang sama dan seragam.

Program ini nantinya diharapkan akan dapat meningkatkan layanan kepada masyarakat, peserta didik, mahasiswa, ASN dan pegawai lainnya, sehingga kedepannya akan terjadi penguatan literasi menuju terciptanya masyarakat yang sejahtera.


Grey Literatur (Literatur Kelabu)



Grey Literature atau Gray Literature, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah Literatur Kelabu atau Literatur Abu-Abu. Mungkin tidak banyak pemustaka atau pengguna / pengunjung perpustakaan yang kenal dengan istilah ini, meskipun mereka sering menggunakannya. Grey Literature termasuk salah satu jenis koleksi penting dalam perpstakaan yang banyak digunakan oleh pemustaka. Jenis koleksi ini seringkali direkomendasikan untuk dialihmediakan (transmedia) ke media digital. Selain karena sering digunakan, alasan lainnya adalah terbitan Grey Literature juga terbatas jumlahnya.

Lalu apa yang dimaksud Grey Literature (Literatur Kelabu)? Pada Konferensi Internasional ke-4 tentang Grey Literature di Washington DC, Amerika Serikat Oktober 1999 disimpulkan bahwa Grey Literature adalah  semua materi baik cetak mapun elektronik oleh pemerintah, akademisi, bisnis dan industri lainnya yang tidak dipublikasi oleh penerbit yang memiliki ijin.       Atau dalam bahasa Inggrisnya disebutkan Grey Literature is that which is produced on all levels of government, academics, business and industry in print and electronic formats, but which is not controlled by commercial publishers.  Dengan kata lain, Literatur Kelabu adalah salah jenis koleksi perpustakaan yang tidak diterbitkan oleh penerbit resmi.

Apa sajakah jenis koleksi perpustakaan yang masuk kategori Grey Literature? Ada berbagai macam jenis materi bahan perpustakaan yang dikategorikan sebagai Literatur Kelabu, misalnya: skripsi/thesis/disertasi, dokumen-dokumen pemerintahan, laporan-laporan, terjemahan, data data ekonomi dan hasil sensus, hasil hasil penelitian, laporan teknis, dokumentasi video, bulletin, pamflet, hasil hasil survey, hasil rapat dengar pendapat, dan hasil hasil wawancara.

Diera digital dan internet sekarang ini, koleksi Grey Literature bertambah lagi. Kini, blog pun sudah masuk kategori Literatur Kelabu. Selain itu, video dokumentasi di Youtube, Podcast, Google Scholar, dan lain lainnya, juga sudah termasuk dalam kategori ini.

Jika anda misalnya membutuhkan informasi tentang suatu lembaga atau organisasi, misalnya apa saja yang terjadi dalam lembaga tersebut selama setahun terakhir, maka yang anda butuhkan adalah sebuah Laporan Tahunan. Laporan Tahunan selalu diterbitkan oleh lembaga atau perusahaan, sebagai suatu dokumentasi kegiatan dan tugas pokok lembaga atau perusahaan tersebut selama setahun. Laporan tahunan biasanya memuat tugas pokok, jumlah pegawai, keadaan pegawai, jumlah anggaran dan penggunaannya, realisasi capaian kinerja dan lain lain.

Selain itu sebagian buku bermuatan lokal yang ada diperpustakaan juga termasuk kategori ini. Buku buku tersebut biasanya diterbitkan oleh lembaga lembaga sebagai suatu hasil penelitian. Jumlah buku buku semacam itu biasanya terbatas (sedikit saja) jumlahnya. Banyak buku koleksi lokal yang telah saya tuliskan resensi, sinopsis, atau abstraknya dan menyebarkan informasinya di web. Buku buku tersebut biasanya menjadi koleksi langka, karena terkadang menjadi koleksi satu satunya diperpustakaan dan disimpan di deposit atau referensi. Salah satu buku kategori Literature adalah buku berjudul “Resep Resep Tradisional Sulawesi Selatan” yang diterbitkan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan beberapa tahun silam. Buku tersebut adalah hasil penelitian yang kemudian dibukukan. Resep tradisional yang dimuat didalamnya sangat lengkap, memuat resep makanan tradisional 4 suku di Sulawesi Selatan, sehingga banyak orang yang mencarinya.  Masalahnya karena hanya 1 eksemplar koleksi perpustakaan kami, itupun adanya di Perpustakaan khusus Unit Kearsipan, dan tidak terpinjamkan. Hanya bisa dibaca ditempat.

Alasan kelangkaan jumlah suatu koleksi Grey Literature ini yang menjadikannya prioritas dalam proses alihmedia (transmedia). Buku buku yang telah dialihmediakan ke digital dapat dengan mudah diakses oleh pemustaka lewat pojok baca digital. Selain itu, dengan membaca hasil digitalisasinya, maka akan memperpanjang usia pemakaian fisik bukunya, karena tidak perlu lagi dilayankan ke pemustaka.

Beberapa Universitas terkemuka di dunia, termasuk di Indonesia, juga telah mengalihmediakan koleksi skripsi/thesis/disertasi, dan dikelola sebagai bagian dari koleksi perpustakaan digital. Karya karya ilmiah tersebut adalah hasil kerja otak. Menurut  Moya K. Mason (2010) dalam bukunya berjudul  Grey Literature : history, definition, acquisition and cataloguing bahwa sel sel otak manusia itu berwarna kelabu, makanya disebut dengan nama sel kelabu (grey cell), dan dari sinilah awal mula munculnya nama Literatur Kelabu atau Grey Literarture.  





Buku: SUMPAH PENA, Motivasi Diri untuk Menulis

Buku: Sumpah Pena; Why, How, and What Generation Write

Penulis: Ruslan Ismail Mage & Kuspriyanto

Penerbit: Elfatih Media Insani

Tempat Terbit: Cimahi, Jawa Barat

ISBN: 978-623-96247-7-4

Jumlah Halaman: 300

Buku “Sumpah Pena” adalah salah satu buku tentang seluk beluk penulisan yang terbaik yang pernah saya baca.  Keluasan pembahasan, keseimbangan antara tulisan dan illustrasi, tata letak (layout), ukuran font dan berbagai aspek lainnya semua dikemas dengan baik. Pembaca buku ini tak hanya menerima ilmu pengetahuan tentang bagaimana teknik menulis tetapi juga akan termotivasi untuk menulis. Mungkin karena penulisnya juga seorang motivator sehingga selain teknik menulis, juga membahas tentang motivasi diri untuk menulis. Apapun bentuk tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi semua dibahas dalam buku ini.

Buku ini diawali dengan ‘Persembahan’ dari kedua penulis yang berisi ucapan terimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses penulisan. Selanjutnya ‘Prakata’ yang mengulas bagaimana sampai buku ini dapat tersusun dan tercetak, serta ‘Kata Pengantar’ dari Prof. Dr. Alfitri, M.Si., Guru Besar Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial Universitas Sriwijaya, Palembang.

Terdiri dari 3 bagian utama, dan setiap bagian masing masing terbagi lagi dalam beberapa bagian, dan sub bagian. Ketiga bagian utama yaitu Why yang membahas tentang mengapa perlu menulis, kemudian How yaitu bagaimana menulis. Pada bagian ini berbagai teknik penulisan diuraikan dengan lengkap. Hambatan yang sering dialami oleh penulis dan ragam metode penulisan. Sedangkan bagian terakhir What yaitu tentang ‘apa’ yang ditulis, fiksi atau non-fiksi, termasuk genre apa yang dikuasai oleh seorang penulis. Pada bagian terakhir ini juga dibahas tentang bagaimana menerbitkan tulisan.

Pada bagian pertama ‘Why’ (mengapa menulis), penulis membagi menjadi 8 bagian dan setiap bagian dibagi lagi menjadi beberapa sub-bagian. Dijelaskan pada bagian pertama tentang bagaimana dalam Al-Quran ada yang disebut Sumpah Pena yaitu Surah Al-Qalam Ayai 1 yang berbunyi, “Nun, wal-qalami wamaa yasthuruun” yang artinya, “demi Pena dan apa yang ditulisakannya”.  Selain dalam kita Suci Al-Quran, juga diuraikan beberapa pendapat para ulama dan  ahli sufi tentang pentingnya dan keutamaan menulis dan membaca hasil tulisan. Sub-bagian lainnya adalah bagaimana seorang penulis akan berada dalam dunia yang abadi melalui karya karya yang ditulisnya. Budaya baca dan Daya baca orang Indonesia, dan beberapa alasan mengapa harus menulis, serta manfaat menulis juga diuraikan secara lengkap pada bagian ini.

Tentang bagaimana menulis (How) pada bagian kedua, diuraikan dan dijabarkan dalam 12 sub bagian. Dimulai dengan bagaimana menghadapi hambatan menulis dan solusinya, ragam teknik menulis dengan 2 metode yang unik; metode ATM dan metode Hollywood. Sumber sumber Ide, Mind Mapping, pengorganisasian bahan tulisan, penyusunan kerangka tulisan sampai pada pemanfaatan software dan applikasi untuk pengelolaan tata letak dan penulisan dibahas tuntas pada bagian ini.

Bagian terakhir ‘What’ tentang apa yang ditulis. Buku apa saja yang menarik dan berkualitas, adalah pembahasan awal bagian ini. Selanjutnya dijelaskan teknik menulis artikel dan opini, pola penulisan Fiksa dan Non-Fiksi, serta bagaimana menerbitkan hasil tulisan. Nah pada akhir bagian ini ada sesuatu yang menarik yaitu bagaimana membangun Personal Branding dengan menulis.  Jika anda senang menulis di media apa saja secara rutin dan konsisten dengan tema atau topik yang anda kuasai, maka akan terciptalah kesan dan citra individual anda dimata para pembaca tulisan anda. Cara membangun Personal Branding juga diuraikan dengan gamblang pada bagian ini.

Ayo Menulis….. ! 

Buku ini koleksi pribadi.





Buku Cerdas Sulawesi Selatan, Bunga Rampai Pengetahuan tentang Sulawesi Selatan

Judul:                         Buku Cerdas Sulawesi Selatan Penulis:                       Shaff Muhtamar Penerbit:                     ...

Popular Posts