1001 Kisah Baharuddin Lopa


Buku : 1001 Kisah Baharuddin Lopa
Penyusun : Tim Litbang SAUDAGAR
Editor  : Alif We Onggang
Penerbit : Majalah Saudagar, Jakarta 2001
Jumlah Halaman : vii + 264
ISBN : 979-96690-0-6

Ketika Baharuddin Lopa wafat di Saudi Arabia tahun 2001 lalu, begitu banyak kenangan akan kejujuran dan kehebatan beliau dalam memberantas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme di negeri ini, dibahas di berbagai media cetak dan elektronik. Harian Suara Pembaruan waktu itu menulis, “Masih sangat segar diingatan kita berbagai pertanyaan dan sikap tegasnya untuk menggulung habis segala bentuk KKN beberapa hari sebelumnya. Tidak heran apabila kemudian berkembang optimism dalam masyarakat, pelaku KKN terutama yang tergolong “kakap” satu persatu akan terseret ke meja hijau. Gebrakannya menegakkan hokum dan keadilan masih terngiang-ngiang di telinga kita”.  Sedangkan ibu Ana, salah seorang penjual kue di Pondok Bambu, Jakarta mengatakan, “Saya tak punya hubungan apa apa dengan beliau, namun saya tahu betapa hebat dan bersih pak Lopa”. 

Buku ini bukanlah biografi atau perjalanan hidup Baharuddin Lopa, tetapi sesuai judulnya, sekumpulan kisah kisah menarik, menggelitik dan mengharukan Baharuddin Lopa selama menjadi pejabat publik di berbagai daerah di Indonesia. Beliau banyak disebut sebagai “Pendekar Hukum” oleh media.

Terdiri dari 4 bagian, bagian pertama “Pendekar dalam Laku dan Kata” yang membahas tentang figure Baharuddin Lopa yang bersahaja, berani, jujur, lurus baik dalam  perilaku maupun dalam kata katanya. Ada kisah misalnya ketika beliau terpaksa meminjam sepatu ajudannya karena terburu buru ke Senayan untuk mengikuti acara KTT G-15, beliau kelelahan dan tidak sempat memakai sepatu sebelum berangkat karena mengira ajudannya yang membawakan, ternyata ajudannya juga terburu buru. Dan banyak kisah lainnya.

Bagian kedua “Bertarung  Lewat Pena” berisi tulisan tulisan Baharuddin Lopa di berbagai media cetak nasional yang pernah dipublikasikan. Misalnya tulisan dengan judul “Bebas dari Rasa Takut” yang membahas tentang the four freedom yang pernah dicanankan oleh Presiden Amerika Serikat Roosevelt 1941. Keempat kebebasan itu adalah kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat (freedom of speech and expression), kebebasan menganut agama (freedom of every person to worship God in his own way), kebebasan dari kekurangan (freedom from want) dan kebebasan dari rasa takut (freedom from fear). Dan berbagai tulisan lainnya. 

Pada bagian ketiga, “Menakar Jurus Pendekar” membahas tentang tanggapan, testimony, pengakuan para tokoh dan masyarakat umum lainnya tentang Baharuddin Lopa.  Ada Adi Sasono, Adnan Buyung Nasution, Achmad Ali, Albert Hasibuan, AM Fatwa, Anhar Gonggong, Bismar Siregar, Laica Marzuki, Hendardi, Mochtar Pabottingi, Rahman Arge dan lain lain. 

Bagian ke 4 yaitu “Arena Bebas” berisi ucapan ucapan para tokoh dan anggota masyarakat lainnya tentang sosok Baharuddin Lopa. Juga ada kata kata Baharuddin Lopa sendiri yaitu, “kalaupun esok langit akan runtuh, maka saya akan berusaha untuk menegakkan hukum”.  Ada juga perempuan bernama Titin Dewi, seorang public relations di Jakarta mengatakan, “Penerangan itu kini padam, dengan kepergian pak Lopa, sungguh menyedihkan”. Sementara itu Muhammad Yusuf Kalla yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat waktu itu, mengatakan, “Meninggalnya Lopa berarti menguapnya sebuah harapan penegakan hokum” Ada juga beberapa ulasan kesaksian dari beberapa media cetak tentang Baharuddin Lopa pada bagian akhir ini. 

Sangat menarik dan informative untuk dibaca. Buku ini koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts