Etika Bertelepon Seluler yang Terabaikan


Saat ini hampir semua orang memiliki telepon selular atau telepon genggam (HP). Telepon seluler bukan lagi barang mewah. Tukang becak yang sering bergerombol diujung jalan menunggu penumpangpun hampir semua memilikinya. Malah pernah saya melihat salah satu diantara mereka memainkan Hp-nya yang qwerty-pad sambil menunggu penumpang. Hp-nya g lebih canggih dari Hp-ku yang hanya Nokia Classic 3110 dan bukan qwerty-pad.
Karena hampir semua orang memiliki, maka orang cenderung menggunakannya tanpa melihat situasi dan kondisinya. Pokoknya begitu berdering, angkat, bicara (kalau perlu dengan keras) tanpa peduli tatapan orang. Begitu banyak orang yang tidak tahu etika menggunakan Hp. Saya, meskipun bukan pejabat di kantor, tapi sering diutus mengikuti pertemuan, rapat, seminar atau workshop yang dihadiri oleh pejabat pejabat eselon 2, 3, dan 4 atau bahkan Gubernur, Wakil Gubernur dan Ketua DPRD. Pada pertemuan itu, seringkali saya melihat orang, saat pejabat sedang berbicara, mereka tetap saja menerima telepon dan berbicara, meski mereka berusaha mengecilkan suaranya dan menunduk agar tidak terlihat, tapi tetap saja mengganggu. Seakan akan dia mengatakan bahwa, telepon itu lebih penting dari pembicara didepan. Mungkin juga dia berpikiran bahwa dia lebih penting dari pembicara.
Pernah pula dikantor saya (salah satu kantor pemerintah), pada acara sosialisasi yang dihadiri oleh pejabat eleson 2, 3 dan 4, sementara pembicaranya adalah pejabat eselon 1 dari Jakarta. Salah seorang pejabat eselon 2 dengan santainya menerima dan bertelepon dengan volume suara besar dan cukup lama. Orang orang didekatnya sudah ber “shsh” kepada sang tamu, dia (seorang pejabat perempuan) tetap saja berbicara, sampai sampai pejabat eselon 1 itu menghentikan pembicaraannya untuk sementara.
Ada beberapa tempat dimana sangat tidak sopan melakukan pembicaraan di Hp, misalnya saat rapat, seminar, dikelas, ditempat ibadah, dikendaraan umum atau sambil berkendaraan kecuali menggunakan handsfree. Kalau berkendaraan, bukan hanya tidak sopan, tapi juga berbahaya, karena konsentrasi terbagi. Di Singapura, orang mengemudi mobil sambil bertelpon seluler meskipun menggunakan handsfree tetap saja kena denda. Di Indonesia, orang bahkan naik motor sambil ber-SMS. Di Australia dulu semasa kuliah disana, dikelas ada tanda larangan menggunakan Hp, tapi siapa yang paling sering berdering Hp-nya? Ternyata mahasiswa Asia dari China, Indonesia, Thailand, Vietnam. Orang bule tidak pernah berdering Hp-nya dikelas dan malah banyak bule yang tidak memiliki Hp. Pernah dikelas ada mahasiswa bule asli Australia, kebetulan istrinya di rumahsakit bersalin. Ketika pelajaran akan dimulai, dia meminta izin ke dosen agar dibolehkan menghidupkan Hp-nya, tetapi tetap silent, hanya getar saja, karena sedang menunggu kabar dari rumahsakit. Kalau orang barat, meskipun sedang menunggu kabar penting tapi tetap men”silent’kan Hp-nya, lalu mengapa kita kebanyakan orang Indonesia sangat susah menon-aktifkan Hp, apalagi mematikannya disaat sedang mengikuti acara penting?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts