Don’t Judge a Book by its Movie...

Film “Sang Penari” akhir tahun lalu meraih pengharghaan sebagai film terbaik Festival Film Indonesia 2011. Banyak penonton film tersebut yang tidak mengetahui bahwa film tersebut sebenarnya adalah interprestasi visual dari buku novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Cukup serimg kita menyaksikan banyak film di Bioskop yang diadaptasi dari sebuah novel. Kalau bukunya laris para pekerja film akan mengangkatnya kelayar lebar. Rata rata film yang diadaptasi dari sebuah buku novel laris manis dibioskop. Buku novelnya juga terlebih dahulu laris sehingga menarik para produser untuk membuat filmnya. Bahkan dulu tahun 1990-an ada film yang diadaptasi dari sebuah lagu, yaitu lagu Isabella yang dinyanyikan grup penyanyi “Search” dari Malaysia. Filmnya kerjasama Indonesia dan Malaysia dan cukup laris di bioskop dikedua negara. Film film Indonesia seperti “Ayat Ayat Cinta”, “Laskar Pelangi”, “Sang Penari”, “Perempuan berkalung Sorban” dan masih banyak lagi adalah adaptasi dari novel novel laris. Sejak tahun 1970-an sampai sekarang banyak film yang diangkat kelayar lebar. Novel karya Mira W. dan Marga T., banyak yang diangkat menjadi film. Novel berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya juga banyak yang dijadikan film. “Harry Potter” misalnya yang baik bukunya maupun filmnya sangat laris diseluruh dunia. Buku dan filmnya bersequel sampai tujuh (7). Kebanyakan penonton film film adaptasi tersebut belum pernah membaca novel sumbernya. Mengapa? Karena kebanyakan orang tidak punya waktu untuk membaca atau memang karena minat bacanya kurang. Kalau membaca bukunya mungkin butuh waktu berhari hari supaya bisa tamat, sementara menonton filmnya paling lama 2 jam saja selesai.

Membaca buku juga merupakan kegiatan yang menyendiri (kecuali pada “reading club” yang ada dinegara maju) sedangkan pergi kebioskop untuk menonton film adalah kegiatan sosial yang menyenangkan apalagi jika menonton berdua atau bertiga dengan dengan teman atau keluarga. Kegiatan menonton juga relatif lebih mudah dan tidak butuh konsentrasi tinggi, sedangkan membaca buku, perlu konsentrasi agar isi buku (cerita) dapat dipahami dengan baik. Membeli buku novelnya lebih mahal daripada membeli tiket nonton dibioskop, tetapi tiket bioskop tidak bisa digunakan berkali kali. Buku novel yang dibeli, bisa disimpan dan dikelola sebagai Perpustakaan Pribadi dan dapat diwariskan kepada anak anak dan cucu dan dikemudian hari dibaca oleh anak anak kita, anggota keluarga lain, tetangga dan teman teman dan sahabat. Saya pribadi lebih suka membaca bukunya dan tidak menonton filmnya. Sampai sekarang saya belum pernah menonton film “Laskar Pelangi” baik yang diputar di Bioskop, maupun setelah diputar di TV maupun dari DVD sewaan. Ketika buku tersebut terbit pertama kali dan saya membacanya sampai tuntas, dalam pikiran saya secara otomatis telah terbentuk suatu gambaran tersendiri, gambaran suatu cerita yang tuntas dan selesai, tentang bagaimana wajah wajah dan karakter para pelaku cerita, keadaan kampung, alam sekitar dan sekolahnya. Kalau saya kemudian menonton filmya, tentu itu adalah gambaran pemikiran dan adaptasi visual sutradaranya terhadap cerita itu. Pasti gambaran di film berbeda dengan gambaran yang ada dalam pemikiran saya tentang kisah Laskar Pelangi ini. Saya tidak mau pemikiran sutradara “merusak” gambaran cerita yang telah ada dipikiran saya setelah selesai membaca novel itu.

Buku Harry Potter edisi pertama saya baca edisi aslinya (dalam bahasa Inggris) karena waktu itu saya sedang diluarnegeri melanjutkan studi. Tetapi kemudian ketika muncul film sequel pertamanya, saya sempatkan pergi ke bioskop nonton bersama teman kuliah. Mengapa saya tonton juga, alasan pertama, karena bukunya berbahasa Inggris, tentu gambaran yang ada dalam pemikiran saya tidak sesempurna kalau saja saya baca edisi bahasa Indonesianya. Bahasa Inggris adalah bahasa ke-4 yang kukuasai dan termasuk bahasa asing. Saya berusaha menyelaraskan antara gambaran yang ada dalam pikiran saya yang berhasil saya tangkap dari bacaan, dengan gambaran yang disuguhkan di film. Alasan kedua saya, karena di negara bagian New South Wales, Australia, pelajar dan mahasiswa mendapat diskon 50% jika membeli tiket hiburan, baik di Bioskop, maupun ditempat hiburan lainnya. Edisi kedua dan ketiga Harry Potter yang saya baca juga dalam bahasa Inggris. Edisi ke-4 sampai ke-7 saya baca setelah di Indonesia dan hanya terjemahannya saja.

Sebaiknya, baca dulu bukunya baru nonton filmya kalau memang berminat. Tapi sebenarnya jauh lebih baik kalau setelah membaca bukunya, tidak usah menonton filmnya. Buku novel yang ditulis oleh pengarangnya (author) kalau sudah difilmkan pasti akan berbeda penggambarannya, karena sudah ada campur tangan sutradara. Dengan kata lain, buku novel adalah sumber cerita pertama, dan filmnya adalah cerita yang diceritakan kembali dan tentu dengan perbedaan perbedaan disana sini. Kalau seorang yang sudah membaca bukunya lalu menonton filmnya ditanya, bagaimana filmnya? Biasanya seorang pembaca (reader) akan menjawab, “dibuku novelnya ceritanya tidak begitu.” Nah, loh…….. Makanya, don’t judge a book by its movie (bukan by its cover). Jangan menilai sebuah buku dari film adaptasinya. Selamat Membaca!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts