Nostalgia Musim Mangga Di Kampung

Suatu hari diawal Desember 2013 saat pulang kantor, saya singgah untuk membeli mangga ditepi jalan disekitar Samata, Sombaopu, Gowa. Entah apakah lagi musim atau bukan, akhir akhir ini banyak penjual mangga ditepi jalan jalan di Makassar. Mungkin didaerah lain juga demikian di seluruh Indonesia, karena sewaktu saya dan beberapa teman ke Yogyakarta, disana juga banyak mangga dijajakan ditepi jalan. Di Makassar dan Gowa dimana mana dipinggir jalan terdapat penjual mangga. Hanya saja kalau saya perhatikan, sepertinya hanya satu atau dua dan paling banyak tiga jenis mangga yang dijual, yaitu mangga yang bentuknya agak lonjong memanjang, dan bagian dekat tangkainya berwarna kekuning kuningan. Saya tidak melihat banyak jenis mangga lain yang dijual. Saya memperkirakan, sumber asal mangga ini berasal dari satu perkebunan entah dimana.
Tumpukan mangga ditepian jalan itu mengngatkan saya pada era 1980an saat saya masih sekolah di SD dan SMP di Palattae, Bone bagian Selatan, Sulawesi Selatan. Kalau musim mangga tiba, kami biasa pergi mencari mangga pada malam hari. Biasanya malam hari banyak mangga yang jatuh. Terkadang dijatuhkan oleh kelelawar (kalong) atau jatuh sendiri karena sudah sangat matang atau karena tertiup angin kencang. Bahkan saat gelap gulita sekalipun, kalau angin bertiup kencang, dan buah mangga berjatuhan dan menimpa atap seng rumah rumah penduduk, kami juga biasa turun mencarinya dengan menggunakan senter atau lampu minyak. Pada malam hari kami bertiga atau berempat membawa lampu senter atau obor atau lampu minyaktanah. Mencari mangga dimalam hari disebut ‘massulo fao’ yaitu menyusuri pohon pohon mangga dimalam hari yang kami tahu banyak buahnya. Terkadang kami bisa membawa pulang satu karung mangga yang masak maupun yang masih mengkal.
Dulu di Palattae, didepan rumah saya adalah rumah pak Sultan Ahmad seorang guru SD di Cakkela, persis dibelakang rumah pak Ahmad ini, ada pohon mangga yang dinamai ‘fao galongkong’ atau Mangga Galongkong. Entah darimana nama aneh itu diberikan, tapi sejak saya meninggalkan Palattae, saya belum pernah menemukan mangga seperti itu ditempat lain, baik di Sulawesi Selatan, di Indonesia maupun diluarnegeri. Mangga ini warna kulitnya hijau keputihan saat masih muda, dan hanya sedikit kekuningan saat matang. Rasanya sama sekali tidak kecut, meskipun masih muda, dan saat matang rasanya menjadi tidak terlalu manis. Mangga ini paling enak saat masih mengkal, karena untuk dibikin rujak atau salad buah. Ukurannya buahnya lebih besar dari rata rata jenis mangga lainnya.
Di Palattae waktu itu ada berbagai jenis mangga, yang tidak pernah saya temui ditempat lain. Ada yang namanya ‘fao bolong’ (mangga hitam) yang rasanya agak manis manis kecut kalau matang dan kulitnya hijau kehitam hitaman, meskipun sudah sangat matang warnanya tetap hijau kehitaman. Aroma mangga ini khas, harum saat sudah matang. Pohon mangga jenis ini ada tumbuh di dekat sumur Kanneng ditepi sungai dibelakang rumahku. Jenis mangga ini cukup banyak di Palattae waktu itu. Ada jenis mangga ‘fao lando’ ukuran buahnya agak kecil kecil, sedikit lebih besar dari buah kedondong, rasanya pun sangat manis dan aromanya harum saat matang. Ada juga jenis mangga ‘fao baku’ yang tumbuh disamping rumah pak Lannai, guru mengajiku waktu itu. Daging buah mangga ‘fao baku’ ini sangat berserat sehingga meskipun sudah matang, tidak mudah tersayat meskipun dengan pisau tajam sekalipun. Malah lebih enak kalau sudah matang, buah mangga ini diremas remas sampai lunak lalu dilubangi bagian bawahnya dan kemudian diisap, rasanya seperti minum jus mangga. Ada juga jenis mangga yang namanya ‘fao syusho’ bentuknya kecil kecil bulat, yang paling besar paling sebesar buah kedondong, meskipun sudah matang. Jenis mangga ini banyak dijual dipasar Palattae yang masih mentah, biasanya dibikin rujak atau racak rajak mangga (semacam lalapan).
Kemudian ada mangga ‘macang’ yang banyak pohonnya tumbuh di Palattae bahkan dihalaman rumahku dan ditepi jalan banyak tumbuh. Yang paling khas dari jenis mangga ‘fao macang’ ini adalah baunya yang menyengat kalau sudah matang. Baunya hampir sama menyengatnya dengan aroma bau buah durian, sehingga terkadang susah disembunyikan. Karena saking menyengat aromanya, meskipun satu biji saja yang disimpan, aromanya bisa tercium seisi rumah. Ada yang mengatakan inilah rajanya mangga. Ciri khas lainnya dari buah ini adalah kulit buahnya yang tebal, mungkin kulit mangga yang paling tebal.
Saya teringat puluhan tahun lalu kalau pulang dari kampung kembali ke Makassar, dengan kendaraan umum, kalau ada penumpang yang membawa mangga macang, biasanya akan banyak penumpang yang pusing dan muntah muntah dalam perjalanan. Jenis mangga ini jarang saya temukan di Makassar dan sekitarnya. Di daerah Samata (Gowa) pernah saya lihat dijual dilapak dipinggir jalan. Di Sydney, di Paddy’s Market, saya melihat hanya sedikit jenis mangga. Yang masih saya ingat mangga Kensington dan mangga Calipso. Ukuran buahnya lebih besar dari rata rata buah di mangga di Indonesia. Warna kulitnya saat matang hijau tua dan bagian atasnya merah tua. Rasanya cukup manis. Sumber Gambar:khalidabdullah.com, allimagesphotos.com,id.wikipedia.org., cni.sidoarjo.blogspot.com, bangjotours.com

2 komentar:

  1. Banyak nama buah mangga yang sudah saya lupa, tapi yang pasti bahwa begitu banyak jenis mangga yang ada di kampung, di PalattaE, Bone.

    BalasHapus

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts