Taman Sari, Yogyakarta

Berkunjung ke Yogya rasanya tidak lengkap jika tidak mengunjungi Taman Sari. Taman Sari adalah tempat pemandian Raja raja Yogyakarta ratusan tahun silam dan sekaligus merupakan benteng pertahanan pada masa perang melawan penjajahan Belanda. Taman Sari sekarang sudah tidak dipergunakan sebagai tempat mandi namun menjadi salah satu destinasi wisata di daerah Yogyakarta yang ramai dikunjungi oleh para turis baik domestik maupun asing. Taman ini terletak disebelah barat daya Kraton Yogyakarta, dan berada didalam benteng Kraton.
Saya dan teman teman kantor berkesempatan mengunjungi Taman ini dua kali ditahun 2013 ini. Bulan Juni lalu, saat kami mendapat tugas dinas ke Yogya, kami berkunjung ketempat ini juga, kemudian akhir November 2013 kembali kami mendapat tugas ke Yogya, dan kami sekali lagi berkunjung kesini. Kalau berbicara soal keindahan, Taman ini tidaklah terlalu istimewa, dibanding dengan taman taman lain di Indonesia. Namun nilai sejarahnya yang luar biasa, membuat kami memutuskan untuk kembali berkunjung ketempat ini kedua kalinya.
Taman Sari dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758. Pada masa itu tujuan pembangunannya untuk kepentingan rekreasi atau permandian keluarga raja Yogya, dan juga sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Masa itu Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya masih dalam masa pendudukan / penjajahan kolonial belanda. Pembangunan taman permandian ini berlangsung selama 4 tahun dari tahun 1758 sampai tahun 1762.
Taman pemandian ini dibangun diatas bekas pemandian Pachetokan, yang sumber airnya berasal dari alam. Kalau dilihat sekarang ini, ketiga kolam pemandian dalam Taman ini dikelilingi oleh rumah rumah dalam kompleks kraton Yogyakarta. Saya perkirakan ketika pemandian ini digunakan oleh raja, kemungkinan belum ada rumah atau bangunan disekelilingnya. Kemungkinan hanya hutan atau padang rumput saja.
Ternyata dari buku “Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat” yang ditulis oleh Mas Fredy Haeryanto, disebutkan bahwa hanya dua raja berserta keluarganya yang pernah menggunakan pemandian ini. Kedua raja itu adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan Sri Sultan Hamengkubuwono II dimana terakhir kali digunakan pada tahun 1812 pada masa akhir pemerintahannya. Taman Sari hanya sempat digunakan oleh dua generasi Raja Yogyakarta.
Konon kabarnya, Taman Sari dibangun seakan akan Istana Air tempat rekreasi Raja dan keluarganya. Sebagai Istana Air, ada laut buatan yang disebut Segaran dan pulau buatan yang disebut Kenanga. Dipulau buatan ini dulunya ditumbuhi oleh bunga bunga kenanga yang wangi baunya. Diatas pulau Kenanga, terdapat bangunan bertingkat dua dengan nama Majethi atau sering juga disebut Cemethi. Tempat ini digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I untuk melakukan Semedi/Meditasi.
Di dalam kompleks Taman Sari terdiri dari 3 kolam pemandian dengan tujuan yang berbeda beda yaitu : 1. Umbul Sari, letaknya disebelah selatan, dipergunakan khusus untuk Sultan dan Permaisurinya. 2. Umbul Binangun adalah kolam besar yang terletak ditengah dirangcang untuk permaisuri dan juga selir selir Sultan. 3. Umbul Muncar, terletak diesebelah utara untuk putra putri dan Sentana Sultan. Bangunan lainnya adalah gapura megah. Taman Ledoksari (tempat tidur Raja), Sumur Gumuling atau Mesjid dibawah tanah, dimana kita dapat mencapainya dengan melewati terowongan bawah tanah) yang menghubungkan dengan tempat ibadah tersebut. Bangunan ini berbentuk bulat melingkar dengan sumur dibagian tengahnya. Sebagian dari bangunan di Taman Sari ini hanya reruntuhannya saja. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti gempa bumi, perang, cuaca (curah hujan dan panas matahari) dan juga akar tumbuhan yang menjalar ke dinding. Kondisi Taman Sari sudah tidak lagi seperti semula saat pertama kali digunakan. Namun demikian sebagian masih sempat diselamatkan untuk dipugar kembali dan dipertahankan seperti kolam pemandian raja, Sumur Gumuling, Taman Ledoksari, terowongan bawah tanah, pintu gerbang serta pot pot bunga berukuran besar. Orang orang yang memegang peranan dalam pembangunan Taman Sari ada beberapa sebagai pelaksananya, seperti Pangerang Notokusumo (Paku Alam I), Tumenggung Mangundipuro, Prawirosetika (Bupati Madium) serta orang orang Portugis (Demang Tegis). Arsitektur Taman Sari ini dipengaruhi oleh beberapa unsur kebudayaan, yaitu Jawa Asli, Hindu, Budha, Islam, eropa serta China. Semuanya itu dalam teknik bangunan yang sederhana, tanpa sistem beton bertulang sepeerti sekarang ini. Struktur baanguna terdiri dari batu bata dan semen, dan campran adukan lepanya (perekatnya) dari air legen (air kelapa) dan putih telur. (disarikan dari buku “Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” tulisan Mas Fredy Heryanto) Foto foto: koleksi pribadi. Berita Lain tentang Taman Sari: http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/historic-and-heritage-sight/tamansari/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts