Elong Ugi, Kajian Naskah Bugis


Buku : Transliterasi dan Terjemahan ELONG UGI (Kajian Naskah Bugis)
Penulis : Drs. Muhammad Salim (Ketua Tim)
Editor : Drs. H. Andi Abubakar Punagi
Penerbit : Bagian proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Makassar, 1990
Jumlah Halaman : vi + 97
ISBN : -

Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki karya karya sastra lokal sendiri dan menggunakan aksara sendiri seperti daerah Sulawesi Selatan. Elong (Bugis) atau Kelong (Makassar) adalah salah satu genre sastra dalam kebudayaan Bugis dan Makassar. Didalam buku ini hanya Elong Bugis yang dibahas. Elong ini juga terdiri dari berbagai macam bentuk dan ragam. Elong Ugi ini adalah salah satu aspek budaya daerah yang dapat dijadikan bahan penelitian, pengkajian, dan pengembangan budaya bangsa Indonesia.

Elong ini dapat diartikan sebagai puisi, pantun atau nyanyian dalam bahasa Indonesia. B. F. Matthess, seorang missionaris Belanda yang pernah bermukim di Sulawesi Selatan pada abad ke-19, yang juga pernah mengumpulkan dan mendokumentasikan Elong Ugi, menyebutnya sebagai “poetzie” atau puisi. Tapi kalau dilihat dari jumlah suku kata dan barisnya, mirip pantun. Elong Ugi, hampir semua setiap satu bait terdiri dari 3 baris dengan jumlah suku kata 8 pada baris pertama, 7 pada baris kedua dan 6 pada baris ketiga, dan 21 suku kata pada setiap baitnya. Namun pada beberapa Elong, ada juga yang hanya 2 baris, tetapi jumlah suku katanya tetap 21 suku kata.

Fungsi dari Elong ini juga bermacam macam. Ada yang digunakan oleh kaum muda mudi untuk dijadikan semacam ungkapan cinta dan curahan hati, ada yang digunakan untuk menina-bobokkan anak bayi, nasehat orangtua kepada anak anaknya, dan pemuka agama pun menjadikannya bahan untuk memberikan nasehat nasehat agama (Islam) kepada umat.  Ada juga Elong yang berfungsi sebagai mantra mantra dalam pengobatan dan penyembuhan orang sakit dan bahkan Elong dapat dijadikan sebagai pemberi semangat kepada para prajurit dimedan perang.

Tantangan terbesar dalam memahami Elong adalah karena banyak yang masih menggunakan kosa kata Bugis kuno / lama yang sudah tidak digunakan dalam percakapan sehari hari. Ada pula banyak naskah lontara yang berisi Elong, namun sudah susah dibaca dan dipahami artinya.Termasuk juga kendala adalah banyak kata kata kiasan, atau kata kata perumpamaan dan bahkan menggunakan nama lokasi atau daerah tertentu.

Buku ini diharapkan kedepan, akan membantu para pembaca, utamanya generasi muda Bugis dalam memahami dan mengembangkan jenis karya sastra Elong ini.

Terdiri dari 3 bab (bagian), diawali dengan Prakata dan Kata Sambutan kemudian bab 1 Pendahuluan yang membahas secara umum tentang Latar Belakang dan Masalah, Tujuan dan hasil yang diharapkan, Kerangka teori, penjelasan tentang Elong Ugi, dasar suntingan naskah, transliterasi dan terjemahan, serta sumber data.

Pada bagian kedua, adalah pokok pembahasan dalam buku ini, berisi Transliterasi dan Terjemahan . Bagian ini dibagi menjadi dua sub bagian, pertama yaitu Elong Berlarik Tiga yang terdiri dari 13 sug-sub bagian :

1.      Pammulang Elong
2.      Elong Assimellereng (mappuji, maccacca, parere, malebba)
3.      Assiwolongpolongeng (pangaja, pappaita, padodo anak)
4.      Elong Toto’ (toto’ biu, toto’ peddi, toto’ maruddani)
5.      Elong Sibali (pangaja, maccacca, sibali bawang)
6.      Elong Madduta
7.      Elong Topanrita
8.      Elong Caddiorio
9.      Elong Sikai-kai
10.  Elong Mappong ri anak sure’e
11.  Elong Mappong ri aseng essoe
Bagian B terdiri dari Elong Sagala Rupa yaitu :
1.      Elong Osong (Osong Besse Langelo, Osong Andi Mandacini, Osong Makkuwaseng, osong I Patimang Daeng Makketti, Osong La Mappabali Daeng Tulolo, Osong La Makkarodda, Osong I Rannu Basse Balubu, Osong I Banynyak Daeng Sila,   Osong I Tolerang Daeng Pawolong, Osong I Sanre Daeng Palinge, Osong Lain-lainna Sidenreng, Osong Bawi Mabbosanna Maniangpajo, Osong Sidenreng)
2.      Elong To Panrita (Onronna Sempajang Lima Wettue, Pangajan Panrita Sulesanae)
3.      Elong Padodo Ana’-ana’
4.      Elong Mabbatangpatang
5.      Elong Eja-eja
6.      Elong Caddiorio
7.      Elong Sagala

Bab ke-3 adalah Penutup dimana yang terdiri dari 2 sub bagian yaitu Kesimpulan dan Saran-Saran.

Buku ini sangat bagus dijadikan bahan rujukan untuk penelitian dan pengkajian tentang Sastra Bugis, Elong, Tradisi Lisan, pantun Bugis, puisi Bugis dan  lain lain. Koleksi Perpustakaan Khusus, Dinas Perpustakaan dan Arsip Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts