Sejarah Budaya Soppeng

Buku : Sejarah Budaya Soppeng
Penulis : Dr. Suriadi Mappangara dan Andi Ahmad Saransi
Penerbit : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar 2017
Jumlah Halaman : x + 169
ISBN : 978-602-2631-27-2

Buku ini ditulis dalam rangka peringatan Hari Jadi Soppeng ke-756 tahun 2017 lalu. Selain sebagai suatu hadiah ulang tahun, buku ini juga diharapkan akan menggugah kesadaran sejarah para generasi muda, khususnya generasi muda Soppeng. Ditangan para generasi mudalah, masa depan suatu daerah dipertaruhkan. Tanpa adanya kesadaran sejarah pada suatu generasi, maka berbagai kendala akan timbul dalam menentukan kebijakan kebijakan pembangunan suatu daerah dimasa depan. Soppeng yang berusia 756 tahun (pada saat buku ini ditulis) telah mengalami dinamika kesejarahan yang teramat panjang, yang tentunya sangat bernilai jika nilai budaya dan sejarah itu dijadikan pertimbangan dalam membangun dan memajukan Soppeng dimasa depan.   

Buku ini terdiri dari 6 bagian (bab), dimana sebelum bab pertama, ada sambutan dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, kemudian Sambutan Bupati Soppeng.
Pada bagian pertama, dibahas “Prasejarah Kerajaan Soppeng”. Pada bagian ini diuraikan asal mula kehidupan di Soppeng, munculnya Soppeng menjadi kerajaan, sistem kepemimpinan dan pemerintahan, stratifikasi sosial dan kekerabatan, sistem perkawinan dan sistem kepercayaan sebelum Islam.
Bagian kedua dibahas tentang “Perjanjian Tellumpoccoe 1582”, dimana diuraikan latar belakang perjanjian Tellumpoccoe, perjanjian 1582, dan reksi Gowa dan Persekutuan Tellumpoccoe.

Pincara Lopie Ri Attang dan Akibat Bagi Soppeng” dibahas pada bagian selanjutnya. Yang terutama dibahas disini adalah bagaimana Kerajaan Soppeng bersekutu dengan Kerajaan Bone.

Bab IV, membahas tentang Bansawan, Jaringan Bangsawan, dan Sirkulasi Elite di Kerajaan Soppeng. Pembahasan utama pada bagian ini adalah munculnya kelompok kelompok Bangsawan, dan sirkulasi Elite bangsawan Kerajaan Soppeng.

Bagian ke-5 menguraikan panjang lebar tentang “Kedatuan Kerajaan Soppeng Setelah Perjanjian Bungaya 1667”. Pada bagian ini, daftar urutan para Datu’ (Raja dan Ratu) Soppeng dibahas. Mulai dari Beowe yang mulai memerintah tahun 1601 -1620. Tercatat pada bagian ini ada 21 Datu (ada yang diangkat 2 kali) yang pernah memerintah di Kerajaan Soppeng dari tahun 1601 dan terakhir tahun 1895. Banyak hal yang menarik pada bagian ini menyangkut kehidupan para Datu Soppeng ini. Misalnya, Datu Soppeng ke-14 yang bernama La Mappajanci Daeng Massuro Sultan Musa, dikenal sebagai Datu Soppeng yang suka membaca buku. Beliau memerintah dari tahun 1747 – 1765. Pembawaannya tenang, lebih suka berpikir daripada bicara, tidak suka menghadiri acara yang tidak penting dan lebih banyak berada di Istananya. Satu hal yang menarik lainnya adalah, sang Datu suka memelihara burung dan kucing tapi sangat takut pada ular.  Datu lainnya juga punya keunikan tersendiri dan diuraikan dibagian ini.

Bagian terakhir adalah Bagian Kesimpulan dari buku ini, dan kemudian dibahas riwayat singkat dua orang penulis buku ini yaitu Dr. Suriadi Mappangara dan Andi Ahmad Saransi.

Buku ini dapat dijadikan bahan rujukan untuk pengkajian sejarah Soppeng atau sejarah Sulawesi Selatan pada umumnya. Buku Koleksi Perpustakaan Khusus, Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kuil Hadrian di Kota Kuno Ephesus, Turki

Kuil Hadrian adalah salah satu gedung yang terindah yang masih tersisa di kota kuno Ephesus di   Provinsi Izmir, Turki. Kuil yang terletak d...

Popular Posts