Hampir setiap hari saya melewati masjid ini. Seringkali ada bus pariwisata yang membawa rombongan wisatawan yang singgah ke masjid ini. Kampung Katangka di Gowa termasuk kawasan dimana banyak obyek wisata religi dan dan wisata kelam. Ada Masjid Tua Al-Hilal, ada makam Syech Yusuf, ulama besar dan pahlawan nasional, ada juga makam Sultan Hasanuddin dan makam raja Gowa lainnya.
Bentuk bangunan utama masjid ini masih asli. Hanya beberapa bagian yang sudah di renovasi atau direhabilitasi. Pintu gerbang utama bercat putih dan ada tambahan lantai dibagian belakang masjid yang tidak berdinding. Mungkin digunakan oleh anak anak mengaji, atau tempat jamaah buka puasa dan bisa juga tambahan tempat jamaah shalat jika ruang utama tidak muat.
Sebelum masuk keruang utama, ada ruang lain semacam teras di belakang. Pada dinding belakang ada plakat tahun pembangunan dan peresmian rehabilitasi gedung.
Ada plakat peresmian rehabilatasi masjid tahun 1981 yang ditangdatangani oleh Direktur Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Haryati Subadio. Ada juga plakat rehabilitasi yang ditanda tangani oleh keempat pengurus Imam Katangka tahun 2007-2008.
Masjid tua ini dulunya tak sekedar tempat ibadah, tapi juga benteng pertahanan. Tembok dindingnya sangat tebal, yaitu 1,2 meter. Diatas pintu dan diatas mihrab masuk ada kaligrafi beraksara Arab, namun ternyata berbahasa Makassar. Menurut informasi dari koran tua yang pernah saya baca, tulisan kaligrafi tersebut adalah informasi kapan dan oleh siapa renovasi masjid dilaksakan. Juga ada informasi tentang genteng masjid yang berasal dari Belanda.
Didalam masjid ada 4 pilar utama yang nampak menggembung, bercat putih dan terhampar karpet merah dan hijau dilantai masjid. Lampunya masih menggunakan lampu antik. Jumlah pilar utama itu melambangkan 4 sahabat nabi yang disebut khulafaurrasyidin. Juga ada 6 jendela yang melambangkan 6 rukun imam, 5 pintu melambangkan rukun Islam dan atap masjid yang bersusun dua dimaksudkan sebagai 2 kalimat syahadat.
Berada dalam masjid ini, kita bisa membayangkan dulunya pernah menjadi tempat para raja, bangsawan, dan rakyat Gowa shalat di masjid ini. Ketiga Datuk dari Minang yaitu Datuk di Tiro, Datuk ri Bandang dan Datuk Patimang yang menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan, juga kemungkinan pernah menunaikan shalat di masjid tua ini.
Kalau anda berkunjung ke Makassar dan Gowa, sempatkanlah ke masjid tua ini, merasakan suasana masa lalu. Apalagi sekeliling masjid banyak makam raja atau keluarga raja dan bangsawan Gowa. Makam makam itu ada yang dengan kubah diatasnya, namun banyak pula kuburan biasa. Ketika saya berkunjung, pas musim hujan dan ternyata banyak makam yang terendam air. Mungkin sebaiknya pemerintah Gowa mengusahan perbaikan saluran air yang ada di sekeliling masjid.
Masjid Tua Al-Hilal Katangka adalah salah satu cagar budaya, dan obyek wisata religi yang ada di Gowa dan Sulawesi Selatan.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar