Tentang Gelar Akademik


Sejak saya pulang dari Australia dengan membawa gelar akademik S2 yaitu MIM (Master of Information Management) dari University of New South Wales, hampir semua undangan yang saya terima selalu mencantumkan gelar akademik saya itu dibelakang namaku. Masalahnya adalah bahwa 90% gelar akademik yang diundangan salah. Ada yang menulis namaku “Suharman Musa, S.S., MBA”, ada juga yang memberi gelar MA, MSi, MM, MPH dan bahkan ada yang pernah menulis namaku diundangan “Suharman Musa, S.S., Min.” Padahal meskipun tidak mencantumkan gelar akademik saya, saya akan tetap akan datang menghadiri undangan kalau memang tidak ada halangan.



Gelar akademik atau gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel. Gelar akademik terdiri dari sarjana (bachelor), magister (master), dan doktor (doctor). Sebenarnya, gelar akademik tidak perlu dicantumkan pada undangan yang bersifat pribadi dan untuk acara keluarga seperti undangan pesta pernikahan, pesta sunatan, Aqiqah, syukuran wisuda atau masuk rumah baru. Gelar akademik itu baru perlu dicantumkan kalau misalnya undangan untuk mengajar, membawakan makalah, pembicara pada seminar, atau kegiatan keilmuan lainnya. Setidaknya dengan mencantumkan gelar akademik, maka audiens, peserta diklat atau peserta seminar dapat mengetahui kemampuan seseorang dengan gelar akademik yang dimilikinya. Kalau dipikir, apa hubungannya antara gelar akademik dengan pernikahan? Alasan orangtua dulu, karena kita mengundang mereka dan mengharapkan kedatangan mereka maka semua gelar yang dimilikinya, baik gelar akademik, gelar kebangsawanan, gelar keagamaan harus dicantumkan. Artimya, pihak yang mengundang sangat mengharapkan kedatangan orang yang diundang dan berusaha menyenangkan mereka dengan mencantumkan pada undangan gelar gelar yang dimilikinya. Kenyataan, semasa dikampung dulu, kalau seorang Haji diundang tapi tidak atau lupa dicantumkan gelar H. atau Hj. maka dia tidak datang. Begitu juga dengan gelar kebangsawanan Bugis seperti Andi dan Petta. Banyak yang menolak datang kesuatu acara jika pada undangan tidak dicantumkan gelar kebangsawanannya.

Sekarang ini, kalau saya amati, sepertinya gelar akademik begitu mudah diperoleh. Ada seseorang yang saya kenal baik, bertemu hampir tiap hari dan tidak pernah saya melihatnya sibuk dengan tugas tugas kuliah, eh tiba tiba undangan syukuran wisuda S2 (magister)nya sudah ada diatas meja kerjaku. Heran! Banyak lembaga pendidikan ditanah air yang kualitasnya dan legalitasnya meragukan, tapi tetap dengan royalnya memberi gelar gelar akademik baik tingkat Magister (S2) maupun gelar Doktor atau PhD (S3). Di Makassar ada universitas yang kampusnya hanya terdiri dari beberapa petak ruko (rumah toko) tapi mendidik ribuan mahasiswa, mulai dari Diploma 2 dan 3 Keperawatan dan Kebidanan, S1 dengan belasan jurusan dan fakultas, sampai program magister dan doktor. Entah bagaimana kualitasnya. Entah bagaimana pengawasan dari dinas pendidikan dan DIKTI. Mengapa begitu banyak orang ingin memakai gelar akademik dibelakang namanya, tapi tidak mau bersusah payah belajar? Dengan uang mereka bisa membeli gelar akademik. Tanpa buang waktu, tanpa repot kerja tugas. Resikonya? Banyak orang terkait dengan ijazah palsu, baik pejabat maupun anggota dewan. Begitulah pendidikan kita….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts