Kisah Benno (Popcorn) Cemilan Kesukaanku....

Jagung letup atau lebih dikenal dengan istilah Popcorn (Bahasa Inggris), Benno’ (Bugis), Lappo’ (Makassar) termasuk makanan cemilan favorit saya saat masih kanak kanak di kampung dan bahkan saampai sekarang. Semasa kecil dulu dikampung, saya dan teman teman kalau ingin menikmati jagung letup, kalau bukan hari pasar, kami akan membuat sendiri dengan cara mengaduk aduk jagung dalam sekam panas. Proses pembuatan jagung letup ini disebut “maggoce”. Kami mengumpulkan sekam dari tempat penggilingan padi, kemudian membuatnya seperti gunungan kecil, lalu membakar bagian bawahnya. Setelah terjadi pembaraan, lalu dibuatkan semacam liang kecil sebagai tempat pembuatan jagung letup. Jagungnya harus selalu diaduk. Tidak berapa lama, jagung berubah menjadi jagung letup alias ‘benno’ putih melompat keluar dari sekam. Tangan harus lincah mengeluarkan jagung letup dari sekam, karena kalau agak terlambat bisa hangus.
Kalau dipasar dikampungku dulu, setiap hari pasar yaitu Minggu, Rabu dan Jumat ibuku selalu membelikan saya dipasar. Biasanya dibungkus dengan plastik transparan lalu kemudian ujung plastiknya direkatkan dengan cara dibakar. Perkembangan selanjutnya penjual jagung Letup hanya menggunakan plastik kresek sebagai pembungkusnya. Proses pembuatannya jagung letup menggunakan tabung besar, yang ukurannya sekira kira sebesar tabung gas LPG 3 kg. Mula mula biji jagung kering dimasukkan ke mulut tabung dengan ukuran tertentu, kemudian lubang tabung ditutup erat dan kemudian tabung itu dibakar atau dipanggang dengan api dari kompor minyak sambil tabungnya diputar terus menerus. Setelah 15 – 30 menit (saya tidak tahu persis berapa lama) maka tabung akan diturunkan dari kompor dan kemudian penutupnya dibuka. Nah, pada saat penutup tabung ini dibuka akan terdengar suara ledakan yang cukup besar kalau kita berada dalam radius 10-20 meter. Bersamaan dengan suara ledakan itu, berhamburan pula jagung letup berwarna putih dari mulut tabung. Saat jagung letupnya masih panas dan hangat, sipenjual segera membungkusnya perliter, atau per ½ liter. Masih kuingat saat hari pasar, meskipun saya dirumah, yang berjarak sekitar satu kilometer dari pasar, ledakan tabung pembuat jagung letup itu masih saja terdengar. Sekarang ini diera lebih moderen, begitu banyak alat elektronik ataupun alat masak biasa pembuat jagung letup. Kalau dirumah, istriku biasanya menggunakan panci anti lengket yg ukurannya agak besar, diolesi dengan sedkit mentega, masukkan biji jagungnya (di toko swalayan banyak dijual biji jagung khusus untuk dijadikan jagung letup) kemudian ditutup, tinggal tunggu beberapa menit jagungnya akan meletup letup semua. Tinggal memberi rasa yang disukai, misalnya rasa coklat, caramel, vanilla dll.
Lain lagi ceritanya saat saya tinggal di Australia, ada alat pembuat jagung letup elektronik yang ukurannya sedikit lebih kecil dari blender, cara pengoperasiannya gampang, tinggal masukkan jagung, sedikit mentega, dan gula kalau mau agak manis, colok kelistrik…beberapa menit kemudian jagung letup akan keluar sendiri kewadah yang telah disiapkan disamping Popcorn maker itu. Sungguh praktis. Tidak ada suara ledakan yang memekakan telinga, tidak ada asap dan kita bisa berkreasi dengan berbagai macam rasa. Di Mall juga seringkali kita lihat stand penjual jagungletup (popcorn) yang menjualnya dalam bungkus plastik atau wadah kertas persegi seperti yang ada di bioskop. Rasanya bermacam macam, ada rasa coklat, stroberi, vanilla dll. Kalau saya, yang paling enak adalah yang ‘plain’ tanpa rasa, kecuali rasa jagung itu sendiri. (Sumber Gambar: us-machine.com dan Simplyrecipes.com, foto milik Andi Rahmat Munawar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts