Villa Yuliana Watansoppeng

Villa Yuliana di Watansoppeng, Kabupaten Soppeng adalah salah satu bangunan tua peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Letaknya ada di Jalan Pengayoman no. 1 kota Watansoppeng. Villa ini dapat dikatakan sebagai Landmark kota Watansoppeng. Penduduk setempat lebih mengenalnya dengan nama “Mess Tinggi”, yaitu tempat menginap yang lokasinya di ketinggian perbukitan Watansoppeng. Letaknya dekat dengan rumah jabatan Bupati Soppeng, dan Masjid Raya Kota Soppeng. Secara administratif, lokasinya di Desa Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng.
Ditempat inilah dilaksanakan pameran Naskah Lontara dan Benda Pusaka Kerajaan dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Soppeng yang ke-753. Pameran berlangsung selama 3 hari dari 24 -26 Maret 2014 lalu. Kantor kami turut berpartisipasi dalam pameran tersebut, terutama untuk pameran naskah naskah lontara Bugis kuno. Bangunan berlantai dua ini sekarang difungsikan sebagai museum Latemmamala yang bisa dikunjungi setiap hari kerja. Harga karcis tanda masuknya cukup murah, Rp.2000 untuk dewasa dan Rp.1000 untuk anak anak termasuk anak sekolah. Tetapi selama pameran berlangsung, tidak dipungut biaya tanda masuk.
Dari catatan sejarah yang terpajang diruang belakang gedung, Villa Yuliana dibangun tahun 1905 pada masa pemerintahan Gubernur General Belanda Mr. C. A. Kroesen. Awalnya dimaksudkan sebagai tempat menginap atau beristirahat Ratu Wilhelmina (Ratu Belanda yang berkuasa waktu itu) yang akan berkunjung ke Soppeng. Namun ternyata Ratu Wilhelmina batal berkunjung karena alasan keamanan yang belum stabil selama perang, akhirnya Villa tersebut dinamai dengan nama Putri Mahkota Belanda; Yuliana (Juliana) yang kemudian menjadi Ratu Belanda setelah Wilhelmina.
Villa Yuliana adalah gedung berarsitektur campuran Eropa dan Bugis, terdiri dari dua lantai bercat putih dan hijau. Ada du tangga naik kelantai dua, satu tangga kayu dibagian depan, dan satu tangga permanen dibagian belakang. Luas pekarangannya 6.754 meter persegi, sedangkan bangunannya berukuran 23 x 14 meter persegi. Sejak dibangun tahun 1905, arsitekturnya masih asli, hanya taman disekelilingnya yang sudah ditata ulang dan diperindah (dipaving), dan atapnya yang dulu berbahan asbes sekarang diganti dengan atap sirap sebagaimana aslinya saat dibangun.
Ada empat kamar, masing masing 2 kamar di lantai dasar dan 2 dilantai atas. Kamar disebelah kiri lantai dasar diisi dengan pajangan fosil fosil binatang purba yang pernah hidup di lembah Walanae, Soppeng ribuan atau jutaan tahun lampau. Misalnya ada fosil gading gajah purba (Stegedon Sompoensis) yang bergading 4 masing masing 2 gading dibagian atas dan dua gading kecil dibagian bawah, juga fosil gajah kecil (Elephas Celebensis) yang mirip dengan gajah yang ada sekarang di Sumatra namun ukurannya sebesar kerbau pada umumnya. Juga terpajang fosil binatang sejenis babi rusa raksasa (Celebochoerus Heekereni). Fosil lainnya adalah kura kura raksasa, anoa dan juga replika fosil manusia purba dari Sangirang. Kamar sebelah kanan dilantai dasar dipajang beberapa peralatan manusia purba seperti kapak, pisau batu dan peralatan lainnya yang disimpan dalam kotak kaca.
Ruang bagian belakang lantai dasar dipajang maket gedung dan peralatan tenun, serta peralatan pembuatan rokok dari tembakau. Dulu kabupaten Soppeng terkenal sebagai penghasil tembakau terkemuka di Sulawesi Selatan, namun sekarang sudah tidak lagi berproduksi. Juga terdapat lemari pajangan yang berisi buku buku tentang Soppeng, diantaranya buku Pappaseng Arung Bila’ (Nasehat Raja Bila’), Lontara Soppeng dan lain lain.
Dilantai dua ruangan sebelah kiri dibiarkan kosong dan biasa dijadikan tempat menjamu tamu, sementara ruangan bagian kanan dipajang benda benda peralatan manusia purba lainnya serta uang kuno dan peralatan adat istiadat suku Bugis. Lantai dua berstruktur kayu dan dilapisi dengan karpet merah. Di ruang bagian belakang berisi lemari kaca yang memajang guci, piring, mangkok, vas bunga dan keramik kuno dari zaman VOC dan beberapa guci berhiaskan huruf arab dan bergambar bunga bunga. Ada teras kecil dibagian belakang, juga dibagian depan terdapat teras yang jika kita berdiri dan memandang kebarat, kita bisa melihat deretan pegunungan (perbukitan) serta kehijauan kota Soppeng, dan sejumlah pohon tempat bergelantungan kelelawar. Selama bertahun tahun sejak dibangun, tempat ini menjadi tempat penginapan pejabat pemerintahan kolonial Belanda yang datang ke Watansoppeng. Pada tahun 1950-an gedung ini juga digunakan oleh para bangsawan Soppeng sebagai tempat pesta pernikahan. Selain itu juga pernah dijadikan Istana Kerajaan Soppeng. Namun sejak tahun 1957 gedung dibiarkan kosong, terbengkalai dan tidak terurus sampai tahun 1992. Mungkin karena lama tak berpenghuni, akhirnya beredar cerita cerita mistik yang menakutkan tentang gedung ini. Pada awal difungsikan kembali, yaitu dari tahun 1992 – 1995, gedung ini dijadikan semacam rumah bujang bagi pegawai Pemerintah Soppeng, termasuk pegawai Pamong Praja dan pegawai Pemadam Kebakaran. Konon banyak pegawai yang tidak tahan tinggal digedung ini, karena sering mendengar suara suara aneh, seperti suara anak anak menangis, atau tertawa. Para pegawai itu juga sering kali meskipun tidur dilantai dua, namun saat terbangun berada dilantai satu, atau sebaliknya, atau bahkan terbangun dibawah pohon yang ada didekat Villa.
Villa Yuliana dijadikan museum “Latemmamala” sejak tahun 2008 lalu, dan diresmikan oleh Pejabat Gubernur Sulawesi Selatan waktu itu, Ahmad Tanribali Lamo dalam rangka peringatan hari jadi kabupaten Soppeng ke 747. Bagi anda yang datang ke Soppeng, terutama jika anda pemerhati gedung gedung tua berarsitektur klasik kolonial, jangan lupa berkunjung ke gedung Villa Yuliana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts