Upacara 17 Agustus 2015 di Istana Negara

Tahun ini adalah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia. Alhamdulillah, setelah usia ke-70 tahun proklamasi kita, saya akhirnya mendapat kesempatan mengikuti Detik detik Proklamasi di Istana Negara Jakarta. Berawal dari terpilihnya saya sebagai juara I Arsiparis teladan tingkat provinsi Sulawesi Selatan 2015, yang dilaksanakan di kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada Juli 2015. Dengan kemenangan tersebut, saya mewakili provinsi Sulawesi Selatan dalam pemilihan Arsiparis Teladan pada tingkat nasional di Jakarta yang dilaksanakan bertepatan dengan pemilihan Lembaga Kearsipan Teladan dan pemilihan Teladan lainnya selama Agustus 2015.
Kami berlima, saya, seorang pendamping dan 3 teman lainnya yang juga mendapat tugas kedinasan, berangkat ke Jakarta pada Minggu / Ahad 16 Agustus 2015 pukul 8 pagi. Setiba di Jakarta kami menuju hotel Permai tempat rekan kerja kami menginap dan kemudian ke hotel RedTop dikawasan Pecenongan, tempat kami peserta Pemilihan Arsiparis Teladan menginap. Pelaksanaan pengujian Pemilihan Arsiparis Teladan Nasional juga dilaksanakan dihotel ini, di ruang Grand Emerald Lt. 3.
Registrasi peserta dimulai pada pukul 1 siang, kemudian kami makan siang bersama, istirahat sebentar lalu pada pukul 3 sore, acara pembukaanpun dimulai. Diawali dengan pengarahan dari ketua panitia, dilanjutkan dengan wawancara peserta Arsiparis tingkat terampil. Saya sendiri masuk kategori Arsiparis Ahli dan wawancara dilaksanakan keesokan harinya setelah Upacara Peringatan detik detik proklamasi di Istana Negara. Waktu menunjukkan pukul 4.45 katika alarm telepon selulerku berbunyi. Waktunya bangun dan mandi, shalat subuh, sarapan dan siap siap ke Istana Negara. Kami berkumpul di lobby hotel RedTop pada pukul 6 pagi. Semua berpakaian resmi, yang laki laki mengenakan stelan Jas warna gelap, dasi bernuansa merah dan wanita mengenakan kebaya dan kain. Sebagian diantaranya menyematkan tanda satya lencananya didada, karena memang disebutkan di Undangan, supaya mengenakan tanda kehormatan yang ada. Suasana masih agak gelap ketika dua bus membawa rombongan Arsiparis Teladan dan Panitia dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) meninggalkan tempat parkir hotel RedTop. Namun perjalanan ternyata sudah tidak lancar seperti yang saya perkirakan, karena menurut salah seorang peserta yang dari Jakarta, jarak hotel dengan Istana Negara tidak terlalu jauh.
Setelah menempuh perjalanan dengan bus selama sekitar 30 – 45 menit, akhirnya kamipun sampai di Istana Negara. Sekitar satu kilometer sebelum Istana, jalan jalan dipenuhi oleh prajurit TNI AD yang bertugas mengamankan jalannya upacara nanti. Karena banyaknya bus dan kendaraan lain peserta upacara, bus kami parkir agak jauh dari halaman istana, dan jalan kaki menuju pintu gerbang istana. Sepanjang perjalanan dari parkir bus ke pintu gerbang istana, kami dikerumuni oleh para “paparazzi” alias para photografer jalanan. Ada teman peserta yang dengan sengaja bergaya saat difoto tapi kebanyakan tidak menghiraukan para fotografer tersebut, termasuk saya.
Memasuki pintu gerbang Istana dari arah Jl. Medan Merdeka Utara para peserta upacara dari berbagai kalangan antri menunggu pemeriksaan dari para petugas Istana. Entah mereka dari kesatuan mana, tapi saya perkirakan dari Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres. Atau mungkin juga dari staf Sekretariat Negara. Setelah menunjukkan undangan, kami kemudian diperiksa dengan metal detector, dan barang bawaan juga discan (seperti alat scanner barang di bandar udara) oleh petugas, diantaranya prajurit wanita atau polisi wanita yang berpakaian batik. Setelah melewati pemeriksaan dan memasuki halaman istana, hiburan musik tradisional menyambut kami para peserta upacara. Tiga orang pria berpakaian tradisional suku Dayak, memainkan alat musik petik Sampe dari Kalimantan Barat pada panggung disamping gerbang pemeriksaan barang bawaan. Sebenarnya banyak pertunjukan musik dijadwalkan pada hari itu, karena acara sampai sore yaitu Upacara penurunan pusaka. Tapi kami diundang hanya untuk upacara dipagi hari jadi acara musik yang kami saksikan hanya musik Sampe itu.
Dihalaman istana, dekat airmancur didepan kantor Wakil Presiden berjejer tenda tenda tempat pengambilan souvenir kemerdekaan. Stand dari berbagai media juga ada, dan membagikan goodie bag (tas berisi berbagai cenderamata) bagi para peserta upacara. Souvenir kemerdekaan didapatkan dengan cara menukarkan kupon yang ada pada undangan Upacara. Demikian pula dengan snack. Sementara goodie bag dari para sponsor diperoleh secara gratis. Ada juga stand yang menjual souvenir kemerdekaan, misalnya, pin, kaos, topi, payung, pulpen, pin garuda, dan benda lainnya yang bertuliskan 70 tahun Indonesia Merdeka.
Setelah menukarkan kupon dengan tas souvenir, kami pun mencari tempat duduk di tribun B dan C sesuai yang tertera di undangan. Masih lebih dari 2 jam lagi acara dimulai, namun setengah baris tempat duduk yang bagian depan sudah penuh. Ternyata kursi kursi terdepan menjadi rebutan para peserta upacara. Saya langsung mengambil tempat duduk dibagian tengah. Kami Arsiparis teladan berdampingan dengan para Keluarga Sakinah Teladan duduk di tribun B dan C sesuai undangan. Selama menunggu acara dimulai, kami ngobrol dengan sesama teladan, ada juga yang asyik membaca koran dan majalah yang diperoleh gratis ditenda dekat pintu gerbang. Sebagian peserta lainnya sibuk berfoto diri (selfie). Semua kegiatan persiapan Upacara penaikan bendera pusaka, dapat disaksikan dilayar monitor besar yang ditempatkan diberbagai tempat. Layar TV besar tersebut juga merupakan hiburan tersendiri bagi para peserta upacara yang bosan menunggu. Beberapa kali ada peserta yang dishoot dan dizoom close up, tanpa mereka sadari, saat mereka misalnya memperbaiki dasi, memoles make-up, sehingga menimbulkan gelak tawa para peserta. Beberapa menit sebelum pukul 10.00 pagi, bunyi terompet menggema diseputar Istana, pertanda akan segera dimulainya Upacara Detik Detik Peringatan HUT ke-70 Proklamasi RI. Para pasukan bersiap siap, disana sini terdengar derap langkah para militer dan kepolisian mengatur posisi, memasuki tempat yang telah ditentukan. Para pasukan militer tersebut memasuki lapangan upacara melalui dua pintu gerbang istana. Dari layar monitor terlihat ada 4 prajurit perempuan yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC), masing masing dari 3 angkatan TNI dan 1 dari POLRI. Ketika Presiden dan Wakil Presiden serta pejabat lainnya tiba di Istana, dan naik ke panggung kehormatan, hadirin para peserta yang ada di tribun dimohon berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dari tempat duduk saya di Tribun C, saya bisa melihat langsung kepala negara dan wakilnya beserta ibu dan pejabat lainnya. Selanjutnya adalah acara detik detik peringatan HUT Proklamasi yang ditandai dengan bunyi dentuman meriam dan bunyi sirene. Moment inilah yang paling mengharukan bagi saya, sampai merinding buluroma dan mataku berkaca-kaca. Ingatanku adalah detik detik itulah 70 tahun lalu, ketika Soekarno dan Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia dan lepas dari segala bentuk penjajahan. Foto momen proklamasi pertama ini masih tersimpan di Arsip Nasional RI, dan sering kita lihat dibuku buku sejarah maupun media lainnya. Selanjutnya adalah acara pembacaan Teks Proklamasi oleh ketua DPR, lalu kemudian hening cipta dan pembacaan Doa oleh Menteri Agama.
Kemudian acara inti lainnya adalah Pengibaran sang saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang terdiri dari siswa siswi pilihan dari berbagai provinsi beserta pasukan pengaman presiden (Paspampres). Kalau saya perhatikan, sepertinya formasi para pasukan pengibar bendera itu nampak rumit, kadang ada pasukan bersatu dengan pasukan lain, kadang berpencar. Saya juga melihat cara jalan para paskibraka ini nampak aneh, terkadang kaki kanan dan tangan kanan bersamaan diangkat, tapi mungkin memang begitulah seharusnya untuk paskibraka. Pembawa baki untuk bendera pusaka pagi itu adalah seorang siswi bernama Maria Felicia Gunawan, siswi keturunan Tionghoa dari kelas XI SMAK Penabur, Gading Serpong, Provinsi Banten. Tugas yang tentu sangat berat karena tidak boleh ada kesalahan sedikitpun, namun berhasil diemban sehingga pastilah orangtua dan keluarganya bangga akan pencapaiannya. Secara umum, acara pengibaran bendera pusaka berjalan sukses. Yang sedikit agak mengganggu, yaitu banyaknya peserta upacara yang mengabadikan momen itu dengan kamera digital atau handphone mereka sambil berdiri dan tanpa peduli orang yang ada dibelakangnya. Setelah pengibaran bendera selesai, berturut turut acara pelepasan pesawat tempur TNI, yang melintas diatas Istana Negara. Kami yang duduk ditribun bagian tengah hanya mampu menyaksikannya lewat layar monitor. Suara mesin pesawat TNI itu memekakan telinga. Acara selanjutnya dua orang murid SD kemudian membacakan “mimpi anak Indonesia”, lalu paduan suara dari Gita Bahana Nusantara yang menyanyikan lagu lagu nasional seperti (Aubade) ; Hari Merdeka, Mari Kita Bangun Nusa dan Bangsa, Gebyar Gebyar, Pancasila Rumah Kita, dan lagu medley Nusantara dari berbagai daerah dan ditutup dengan lagu Syukur. Ketika lagu Aubade ini dimulai, para peserta sudah mulai banyak yang meninggalkan tempat duduknya, untuk mengambil snack atau untuk ke toilet. Pengambilan snack-nya perlu antri dan menggunakan kupon yang ada pada undangan, karena banyaknya peserta upacara, sementara petugas dibagian snack itu kurang. Snack yang dibagikan satu kantong plastik putih berhiaskan logo 70 tahun Indonesia Merdeka, berisi dua dos kue donat, masing masing 2 buah donat tiap dos, 2 botol air mineral 750ml, dan 2 teh kemasan atau kopi kemasan. Satu kantong snack itu memang berlaku untuk dua orang peserta upacara.
Keluar dari pintu gerbang istana, kami disambut para paparazzi yang tadi memotret kami. Yang bergaya saat difoto, nampak tersenyum puas dengan foto fotonya. Saya sendiri diperlihatkan dan sedikit ‘dipaksa’ beli 4 foto ukuran 5R seharga Rp.100.000. Meskipun sebenarnya saya kurang suka dengan foto foto tersebut –sedikit menyesal tidak berpose dengan baik saat tiba pagi pagi sebelum upacara- tapi saya bayar juga dengan niat baik. Para fotografer tersebut mungkin hanya mendapat kesempatan ini setahun sekali. Rezeki mereka. Selain para tukang foto itu, juga berjajar penjual batu akik (deman batu akik belum surut rupanya), penjual makanan dan minuman, penjual souvenir pulpen dan pin KORPRI dan ASN, gantungan kunci, kacamata gelap (sun glasses) dan lain lain. Sebagian barang yang dijual itu ditulisi dengan kata kata “Para Teladan Tingkat Nasional”, dan “Istana Kepresidenan Republik Indonesia”. Kami yang dari daerah tentu saja membeli barang barang tersebut untuk dijadikan oleh-oleh untuk teman kantor. Sementara teman yang berasal dari Jakarta, nampak tidak menghiraukan para pedagang tersebut. Keseluruhan acara berlangsung selama 2 jam lebih. Para teladan yang telah mengikuti Upacara kemudian kembali ke hotel masing masing untuk melanjutkan program acara yang telah dijadwalkan sebelumnya. Keesokan harinya, kembali kami harus bangun subuh untuk berangkat ke Bogor. Para Teladan kembali dibagikan undangan Ramah Tamah dengan Presiden dan Wakil Presiden serta pejabat negara lainnya di Istana Bogor. Pada undangan bertuliskan acara “SILATURAHMI DENGAN PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA, PASUKAN KEHORMATAN TARUNA AKADEMI TNI DAN AKPOL, PADUAN SUARA DAN ORKESTRA GITA BAHANA NUSANTARA, DAN PARA TELADAN NASIONAL”. Pada acara ini , peserta silaturahmi duduk dialam terbuka Kebun Raya Bogor, sebagian mendapat tempat yang teduh karena dekat dengan pepohonan, sebagian lagi terpaksa berpanas panas. Namun demikian panasnya mentari tidak terlalu terasa, karena mungkin udara sejuk kota Bogor.
Acara utama di halaman belakang Istana Bogor ini, selain perbincangan antara presiden dengan wakil para teladan dan pasukan juga ada sessi foto bersama dengan Presiden, Wakil Presiden dan para pejabat negara lainnya. Pengambilan foto ini berbeda dengan foto para teladan tahun tahun sebelumnya, yang biasanya didalam ruangan Istana Negara. Tahun ini, dilaksanakan diluar ruang, yaitu di halaman belakang Istana Bogor yang ada di Kebun Raya Bogor. Seusai acara Silaturahmi, kami kemudian berkumpul di Pusat pendidikan dan Pelatihan ANRI di Bogor. Disitu kami makan siang dan shalat Dhuhur lalu kemudian balik ke Jakarta. Di Jakarta, kami berkunjung ke Diorama ANRI di Jl. Ampera Raya, Cilandak, dan juga gedung Arsip di Gajah Mada. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Kesempatan langka yang tidak semua orang mendapatkannya yaitu mengikuti acara Peringatan HUT Proklamasi di Istana Negara dan menyaksikan secara langsung, Presiden (Sumber gambar: koleksi pribadi, national.tempo.co., dan dari google image)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts