Selayar dan Pergerakan A.G.H. Hayyung


Buku :  Selayar dan Pergerakan A.G.H. Hayyung
Penulis : Firmansyah
Editor : M. Thamrin Mattulada
Penerbit : Pustaka Sawerigading, Makassar 2015
Jumlah Halaman : xx + 230
Ukuran : 20,5 x 14 cm
ISBN : 978-6029248-29-6

Buku ini adalah satu diantara sedikit buku yang membahas tentang sejarah perjuangan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Sejarang perjuangan rakyat Selayar adalah bagian dari sejarah pejuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Sejarah perjuangan bangsa telah berlangsung sejak datangnya bangsa penjajah di berbagai pulau di Indonesia. Para pejuang berusaha mengusir penjajah untuk merebut kemerdekaan dan harga diri bangsa. Bahkan ketika bangsa Indonesia sudah merdekapun, penjajah asing masih saja berusaha untuk tetap mencengkeram bangsa Indonesia. Pada masa masa inilah para pejuang kemerdekaan semakin gigih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah direbut dengan susah payah dan penuh pengorbanan harta dan jiwa. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki pejuang kemerdekaan, termasuk kabupaten Kepulauan Selayar di Sulawesi Selatan.

Salah satu tokoh pejuang kemerdekaan dan ulama besar dari Kepulauan Selayar adalah Anre Gurutta Haji (A.G.H) Hayyung. Nama sebenarnya adalah Abdul Hay dilahirkan pada tanggal 18 November 1892 di Barugaiya, distrik Bonea, Onderafdeling Selayar. Keluarganya adalah keluarga bangsawan dari Pammana (Wajo) yang kaya raya dan menetap di Selayar. Usia 11 tahun beliau dikirim ayahandanya ke tanah suci Mekkah untuk menuntut ilmu. Beliau tinggal di Mekkah dan belajar ilmu agama selama 11 tahun, lalu kembali ke Selayar. Hanya setahun di Selayar dan setelah menikah, beliau kembali ke Mekkah bersama istrinya untuk melanjutkan lagi pendidikannya. Kunjungan kedua ini lamanya sekitar 3 tahun (1916-1919).

Sekembalinya dari Mekkah, beliau berusaha mengembalikan kemurnian ajaran Islam di Selayar yang selama itu dianggapnya bahwa masyarakat Selayar telah terbelenggu oleh takhyul, bi’dah, dan khurafat. Beliau juga berusaha menumbuhkan kesadaran umat Islam bahwa mereka memiliki hak yang sama dengan bangsa lain didunia. Selanjutnya beliau mendirikan Perserikatan sebagai wadah pendukung gerakan pembaharuannya. Wadah yang didirikannya adalah Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah.

Buku ini terdiri dari 8 Bab, diawali dengan Pengantar Penerbit, Pengantar Penulis, dan Pengantar Editor.  Bab pertama membahas tentang Selayar Selayang Pandang, mulai dari penamaan Selayar, letak geografis, bahasa, perekonomian, pelapisan masyarakat, tata aturan kekerabatan dan adat istiadat. Bab 2 dibahas tentang Islam dan Perkembangannya, mulai dari masa masa pra-Islam, dan kemudian masuknya Islam di Selayar.

Bab ke-3 dibahas masa masa Pra-Pembaharuan Islam. Pada bagian ini dibahas tentang aliran Muhdi Akbar yang dipelopori oleh seorang ulama Selayar yang berasal dari kampung Batang Mata (bagian utara Selayar), bernama H. Abdul Gani. Dijelaskan disini tentang corak kepercayaanya, pokok pokok ajaran Muhdi Akbar antara lain, ajaran tentang tuhan, nabi, akhirat, syariat, tentang penyelenggaraan mayat, dan jalan keselamatan. Juga dibahas pada bagian ini tentang masuknya ajaran Kristen di Selayar yang dibawah oleh misionaris Belanda.

Pada bab keempat tentang Politik dan Pemerintahan, mulai dari pemerintahan adat, masa masa pemerintahan Hindia Belanda dan masa pendudukan Jepang.
Bab kelima adalah Perjalanan Panjang A.G.H. Hayyung, tentang latar belakang keluarganya, masa kanak kanaknya, latar pendidikannya, dan kehidupan keluarganya.

Bab keenam adalah Gerakan Pembaharuan Islam. Pada bagian ini dibahas tentang semangat pembaharuan, pembentukan lembaga dakwah, pendirian Cabang Muhammadiyah, gerakan pembaharuan, gerakan pemurnian ajaran Islam, dan membangun kesadaran berfikir.

Perjuangan Revolusi, mulai dari Perang Dunia II dan runtuhnya Jepang, pemberntukan kelasykaran, proklamasi kemerdekaan di Selayar, pemerintahan darurat, kekuatan pemuda dan rakyat, rapat persiapan perampasan senjata polisi Belanda, perampasan senjata, pertempuran melawan NICA, dan A.G.H. Hayyung dan nasib pasukannya.

Bab terakhir membahas tentang Pasca Revolusi, dimana dijelaskan tentang kehidupan pasca revolusi, saat saat terakhir dan penerus cita cita perjuangan.
Buku ini ditutup dengan Bibliografi dan narasumber.

Buku ini koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kuil Hadrian di Kota Kuno Ephesus, Turki

Kuil Hadrian adalah salah satu gedung yang terindah yang masih tersisa di kota kuno Ephesus di   Provinsi Izmir, Turki. Kuil yang terletak d...

Popular Posts