Kajao La Liddong, Pemikir Besar dari Tanah Bugis


Buku : Kajao La Liddong, Pemikir Besar dari Tanah Bugis
Penulis : Asmat Riadi L.
Pengantar : H. Ajeip Padindang, S.E.
Penerbit : La Macca Press, Makassar 2004
Jumlah Halaman : xiv + 114
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-97452-3-3

Kajao La Liddong adalah seorang pemikir besar dari Tanah Bugis tepatnya dari kerajaan Bone. Beliau hidup pada abad ke-16 sampai abad ke-17, pada masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Botee dan Raja Bone ke-7 La Tenri Rawe Bongkangnge. Kajao La Liddong, bukan sekedar pemikir ulung, namun juga dikenal sebagai seorang negarawan, cendekiawan, dan diplomat. Hasil pemikiran Kajao La Liddong didokumentasikan lewat lontara lontara dan menjadi suatu konsep yang digunakan dalam pemerintahan kerajaan Bone.

Belum banyak buku yang membahas tentang kehidupan Kajao La Liddong, meskipun ajarannya, nasehatnya dan ucapan ucapannya cukup banyak dituliskan dalam lontara kerajaan. Buku ini salah satu diantara yang sedikit yang mengungkap kehidupan Kajao La Liddong, mulai dari masa kanak kanaknya sampai akhir hidupnya. La Mellong, nama masa kanak kanak Kajao La Liddong cendekiawan Bugis yang jalan hidupnya membawanya menjadi penasehat kerajaan Bone.

Terdiri dari 4 bagian, diawali dengan Pengantar dari Penerbit, Pengantar dari Penulis, dan Pengantar dari H. Ajiep Padindang. Bab pertama diberi judul Sang Pabbicara dan ihwal La Liddong. Disebutkan pada bab ini bahwa Kajao La Laliddong pertama kali diangkat sebagai penasehat raja pada masa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenri Rawe BongkangngE. Selain sebagai penasehat raja, beliau juga sebagai juru bicara dan diplomat kerajaan Bone. Kajao La Laliddong memegang peranan penting saat terjadi perundingan antara kerajaan Bone dengan kerajaan Gowa, juga pada perjanjian persekutuan antara Bone, Soppeng dan Wajo. Pada bagian ini dapat kita jumpai berbagai ajaran Kajao La Liddong dalam lontara.

Bagian kedua adalah Kajao La Liddong sebagai seorang Cendekiawan dan Negarawan. Nama aslinya adalah La Mellong, lahir dan besar di kampung La Liddong di Wanua Cina, dari keluarga sederhana, bukan bangsawan namun terpandang dikampungnya. La Mellong adalah pemuda panutan di kampungnya karena sifatnya yang jujur, cerdas, pemberani, tidak pernah berbohong, tegas dan rendah hati. Selain masa kecil dan masa remajanya, La Mellong juga dikisahkan disini ketika diundang ke Istana Raja Bone. Beliau diundang oleh Raja Bone La Uliyo Botee ke istana, karena sang raja membutuhkan seorang pabbicara yaitu orang yang pintar memutuskan perkara perkara hukum. Akhirnya setelah La Mellong di istana kerajaan, beliau pun menjadi pabbicara kerajaan. La Mellong juga berhasil mempersatukan tiga kerajaan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo.

Pada bagian ketiga, dibahas tentang Kajao La Liddong sebagai ahli pikir. Ada kisah tentang sang Raja yang marah, ada juga kisah Dongi’na to Wajo’e, istana Wajo geger, memperoleh empat Wanua, ada siasat melawan Lattobaja.
Bagian terakhir adalah Diplomat yang cerdik dan sederhana. Pada bagian ini ada pembahasan tentang adu kerbau adu siasat, lolos dari perangkap Tali Abu, memerah susu sapi jantan, dan melerai sengketa. Kisah kisahnya semua menarik dan membuktikan kecerdikan pola pikir La Mellong.

Buku ini koleksi Perpustakaan Umum Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts