Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan

Buku : Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin SeorangPerempuan Bangsawan
Penulis : Colli’ Pujie
Penerjemah : H.A. Ahmad Saransi & Mullar
Editor :  H.A. Ahmad Saransi & Idwar Anwar
Penerbit : Pustaka Sawerigading
Jumlah Halaman : xxiii + 126
Ukuran : 19 x 13 cm
ISBN : 979-98372-3-5

Colliq Pujié atau lengkapnya Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé, adalah seorang perempuan bangsawan Bugis yang hidup pada abad ke-19. Beliau bukan hanya bangsawan, tetapi juga pengarang dan penulis, sastrawan, negarawan, politikus yang pernah menjalani tahanan politik selama 10 tahun di Makassar, Datu’ (Ratu yang memerintah) Lamuru IX, sejarahwan, budayawan, pemikir ulung, editor naskah Lontara Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris (jurutulis) istana kerajaan Tanete (di Kabupaten Barru sekarang). Menurut sejarahwan Edward Polinggoman, dalam diri Colliq Pujié mengalir darah Melayu dari Johor. Sejak abad ke-15 sudah ada orang Melayu yang menetap dan berdagang di Barru dan akhirnya kawin mawin ditanah Bugis.

Tidak banyak catatan sejarah yang membahas tentang diri pribadi Colliq Pujié. Mungkin saja beliau tidak dikenal sampai sekarang kalau saja, beliau tidak menyalin naskah kuno I La Galigo yang menjadi salah satu karya sastra (epos) yang monumental dari suku Bugis yang mendunia. Colliq Pujié-bekerjasama dengan B.F. Mathes, seorang missionaris Belanda yang fasih berbahasa Bugis waktu itu, selama 20 tahun menyalin naskah Bugis dan epos I La Galigo yang panjang lariknya melebihi panjang epos Ramayana maupun Mahabrata dari India. Selain epos I La Galigo yang terdiri dari 12 jilid, ada ratusan naskah Bugis kuno lainnya yang disalin oleh B.F. Mathes dan kemudian dibawa dan tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda sampai sekarang. Penyalinan sebagian besar naskah tersebut dibantu oleh Colliq Pujié, sehingga riwayat hidup Colliq Pujié sedikit demi sedikit terkuak oleh tulisan B.F. Mathes. Colliq Pujié bahkan juga menyadur karya sastra dari Melayu dan Parsi. Colliq Pujié juga menciptakan aksara bilang-bilang yang terinspirasi dari huruf Lontara dan huruf Arab.

Salah satu karya sastra Colliq Pujié berupa kumpulan pantun Bugis yang ditulis dalam aksara bilang-bilang berjudul “Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan” telah diterjemahkan dan ditransliterasi oleh H.A. Ahmad Saransi telah diterbitkan oleh Komunitas Sawerigading. Dalam buku tersebut setiap kelong (pantun Bugis) ditulis dalam aksara bilang-bilang, aksara Lontara, transliterasi dalam aksara latin, dan kemudian pengertian dan penjelasan makna kata kata dalam pantun tersebut. Pantun Bugis selalu terdiri dari 3 baris, dimana baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris ke-2 ada 7 suku kata dan baris ke-3 terdiri dari 6 suku kata. Terkadang juga hanya 2 baris namun jumlah huruf lontara-nya tetap 21, atau 21 suku kata dalam transliterasi huruf latin. Pantun Bugis dalam buku ini adalah ungkapan curahan hati Colliq Pujié.

Buku ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, kemudian Sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Pengantar dari Editor, dan Pengantar dari Penerjemah. Selanjutnya berisi 122 bait puisi (kelong) Bugis yang ditulis dalam 3 aksara, yaitu aksara yaitu, “Lontara Bilang”, “Lontara Sulapa Eppa” dan “latin”Selain diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, juga di transliterasi dari aksara lokal (Bilang Bilang/Lontara Sulapa Eppa) ke aksara Latin. Selain diterjemahkan, juga di tafsirkan, sehiangga pembaca bisa dengan mudah memahami semua kelong Bugis tersebut.

Membaca buku ini, seakan akan membawa kita kea bad ke19 lalu saat Colli’ Pujie masih hidup. Kita seakan dapat menyelami kedalaman bathin seorang sastrawati, mencoba memahami kegalauannya, kegembiraannya, kesepiaannya, ketidaksetujuannya dengan komunitasnya dan ungkapan perasaanya yang lain. Tapi bisa jadi kita tidak paham sepenuhnya bait bait kelong dalam buku ini, meskipun sudah dijelaskan oleh penerjemah, karena tingginya bahasa sastra yang digunakan oleh Colli’ Pujie.

Semoga buku ini dapat menambah khasanah sastra dan budaya Budaya Bugis dan menjadi bahan rujukan penting dalam pengkajian sastra Bugis terutama kelong.

Buku Koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Issu Kesetaraan Gender tenaga Pendidik Pra-sekolah

Setiap tingkatan pendidikan selalu ada tenaga pendidik atau guru laki laki. Namun ada tingkat pendidikan yang dapat dikatakan hampir pasti t...

Popular Posts