Sejarah Gowa


Buku : Sejarah Gowa
Penulis : Abdul Razak Daeng Patunru
Penerbit : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar 1993
Jumlah Halaman : iv + 152 + 4
ISBN : -

Gowa adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia bagian timur pada masa lalu. Sejarahnya sangat panjang, dari masa kejayaan dan keemasaannya sampai masa keruntuhan dan masa bergabungnya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca kemerdekaan. Tahun ini, tepatnya pada tanggal 17 November 2020, Gowa akan memperingati hari jadinya yang ke-700. Gowa merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara.

Buku ini sebenarnya ditulis pada tahun 1967 oleh Abdurrazak Daeng Patunru, seorang pensiunan Residen Sulawesi pada waktu itu. Sebelumnya beliau juga telah menulis “Sejarah Wajo” pada tahun 1965 (akan saya bahas pada review buku selanjutnya). Kemudian buku ini diterbitkan tahun 1969, dan diterbitkan ulang pada tahun 1993. Pada waktu itu Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara dipimpin oleh Andi Pangerang Daeng Rani yang juga mantan Gubernur Sulawesi. Beliau sangat mendukung penerbitan buku buku sejarah daerah di Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan.

Buku ini terdiri dari 17 bab (bagian) dan diawali dengan Pendahuluan pada bagian pertama. Pada bagian ini dijelaskan tentang 4 raja/ratu yang memimpin Gowa pada awal berdirinya. Yang pertama disebutkan bahwa yang pertama memimpin Gowa adalah seorang perempuan yang disebut “Tumanurung” atau orang yang turun dari Kahyangan. Namun tidak diketahui dari masa asal muasal para raja dan ratu Gowa tersebut.  Gowa pada masa itu terdiri dari 9 kerajaan kecil yaitu Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-Parang, Data, Agang-Jeqne, Bisei, Kalling dan Sero. Pada bagian pertama ini juga dibahas tentang awal mula penunjukan Tumanurung sebagai pemimpin kerajaan Gowa yang pertama.

Kemudian bab bab selanjutnya membahas :

Bab ke-2 : Bagaimana Tallo menjadi sebuah kerajaan berotonomi di dalam kerajaan Gowa
Bab ke-3 : Perkembangan Kerajaan Gowa setelah Tallo menjadi sebuah kerajaan di dalam lingkungan kerajaan Gowa
Bab ke-4 : Permulaan masuknya bangsa bangsa Asing di Sulawesi Selatan
Bab ke-5 : Masa Pemerintahan Raja Gowa yang ke-15; Sultan Malikussaid
Bab ke-6 : Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Pada bagian ini dibahas isi Perjanjian Bungayya (Cappaya Ri Bungayya) atau dalam bahasa Belanda di sebut Het Bongaisch Verdrag, yang menjadi dasar pendudukan Belanda yang semakin kokoh di Sulawesi Selatan dan Tenggara dan wilayah timur Nusantara pada umumnya.
Bab ke-7 : Perkembangan Kerajaan Gowa kemudian dari Sultan Hasanuddin
Bab ke-8 : Batara Gowa II  Amas Madina. Amas Madina ini dibuang ke Sailan (Ceylon) atau Srilangka sekarang, dan beliau berkali kali meminta kepada penguasa Belanda dan Inggris agar dikembalikan ke tanah airnya Gowa, namun ditolak sampai beliau wafat disana pada tahun 1795.
Bab ke-9 : Perang Batara Gowa I-Sangkilang. Tentang I-Sangkilang, ada satu buku yang juga membahasnya dan saya telah review beberapa waktu lalu.
Bab ke-10 : Usaha usaha dari Kerajaan –kerajaan di Sulawesi melepaskan diri dari kekuasaan Belanda
Bab ke-11 : Masa pemerintahan I-Kumala Sultan Abdul Kadir Muhammad
Bab ke-12 : Masa pemerintahan Sultan Muhammad Idris I-Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka. Pada masa ini, Perjanjian Bungayya diperbarui. Isi perjanjian itu semakin membatasi dan mempersempit daerah kekuasaan kerajaan Gowa.
Bab ke-13 : Masa pemerintahan Sultan Husain  I-Makkulau Karaeng Lembang Parang (1895-1906)
Bab ke-14 : Akhir kerajaan Gowa setelah perang berakhir tahun 1905-1906
Bab ke-15 : Susunan Pemerintahan di Gowa dahulu kala mulai dari zaman raja Gowa yang pertama, “Tumanurung”.
Bab ke-16 : Kasta kasta di Gowa
Bab ke-17 : Watak orang Gowa.

Pada bagian akhir juga dilampirkan ;

1.      Nama nama raja yang pernah memerintah di Gowa
2.      Literatur yang dipergunakan didalam menyusun buku  Sejarah Gowa ini
3.      Catatan
4.      Peta peta
5.      Silsilah Raja Raja Gowa.

  Buku ini wajib dibaca dan menjadi bahan rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mengkaji atau meneliti tentang kerajaan Gowa secara khusus dan kerajaan kerajaan lain di Sulawesi selatan pada umumnya.

Buku koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kuil Hadrian di Kota Kuno Ephesus, Turki

Kuil Hadrian adalah salah satu gedung yang terindah yang masih tersisa di kota kuno Ephesus di   Provinsi Izmir, Turki. Kuil yang terletak d...

Popular Posts