Manusia Bugis Makassar


Buku : Manusia Bugis Makassar
Penulis : Hamid Abdullah
Penerbit : Inti Idayu Press, Jakarta, 1985
Jumlah halaman : viii + 191
Ukuran : 21 x 15 cm
ISBN : 959.8631

Masih ingat buku Manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis (1977)? Buku yang cukup menghebohkan dunia perbukuan diera 1970an – 1980an, karena mengungkap secara terus terang segala karakteristik manusia Indonesia. Buku ini yang berjudul Manusia Bugis Makassar kemudian ditulis dan diterbitkan menyusul buku seri lainnya seperti, Manusia Sunda (Ajip Rosidi), Manusia Jawa (Drs. Marbangun Hardjowirogo), dan Manusia daerah daerah lainnya di Indonesia. Seri buku manusia dari berbagai daerah ini banyak dijadikan rujukan dalam penulisan karya ilmiah yang bersifat psikologis, ras, suku (ethnicity), adat istiadat, budaya, tradisi, maupun tentang karakter bangsa Indonesia.

Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk membina kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama yang juga disertai adanya bermacam macam adat istiadat dan budaya daerah. Dengan membaca buku ini, orang orang non-Bugis dan non-Makassar tentu akan lebih memahami bagaiman karakteristik orang Bugis dan Makassar, sehingga dalam pergaulan sehari hari, mereka akan lebih mampu memahami dan terhindar dari terjadinya konflik konflik kesukuan.

Satu hal yang sangat penting dipahami tentang orang Bugis dan Makassar adalah adanya konsep Siri’ dalam diri dan menjadi semacam jati diri setiap orang Bugis Makassar. Ada ungkapan dalam bahasa Bugis sebagai berikut;

Siri’emmi rionroang ri lino                              (hanya untuk siri’ kita hidup  
                                                                    didunia)
Utettong ri Ade’e                                           (aku setia kepada Ade’)
Najagainnami Siri’ta                                       (Karena dijaganya siri’ kita)
Naiya siri’e sunge’naranreng                           (adapun siri’, jiwa imbalannya)
Nyawa na kira kira                                         (nyawa perkiraannya)  

(dikutip dari buku Mattulada)

Buku ini terdiri dari 6 bagian (Bab), diawali dengan “Kata Pengantar” dari penerbit, kemudian bab pertama “Pendahuluan” dimana dibahas tentang pengalaman penulis saat bermukim di suatu kawasan bernama Linggi dimana beliau banyak berinteraksi dengan orang orang keturunan Bugis yang telah ada dikawasan tersebut sejak tahun 1800an. Ada juga dikisahkan tentang orang orang Bugis yang terusir dari Riau oleh penguasa Belanda karena kekalahan perang, yang akhirnya menyebabkan orang Bugis tersebut berimigrasi ke Malaysia di kawasan yang bernama Penajis di Negeri Sembilan.

Pada bagian kedua, “Peranan Adat dalam Kehidupan Masyarakat Bugis Makassar”. Bab ini diawali dengan kutipan dari Leonard Y. Andaya, yang intinya adalah bahwa kehidupan masyarakat Bugis Makassar selalu menempatkan “adat” sebagai faktor yang sangat menentukan. Juga ada kisah tentang orang Bugis yang melakukan amuk (Jallo) di kawasan Johor Malaysia pada tahun 1982 yang menyebabkan 6 korban jiwa, hanya karena persoalan “siri’” dan membela kehormatan dan harga dirinya. Banyak kisah kisah heroik orang Bugis dibahas pada bagian kedua buku ini.

Bagian ketiga adalah “Konsep Siri Sebagai Pandangan Hidup”. Pada bagian ini pembahasan diawali dengan subyektifitas orang dalam menilai karakter suku suku tertentu yang menurut penulis, tak lepas dari politik pecah belah antar etnis di Indonesia yang dijalankan oleh penjajah Belanda. Juga dibahas pendapat seorang Orientalis Belanda bernama A. J. A. F. Eerdmans tentang orang Gowa (Makassar). Yang juga menarik pada bagian ini, adalah pembahasan tentang perkawinan “silariang” dan segala konsekwensi dan sanksi adat yang sering menyertainya. Bagian ini adalah inti dari buku ini.

Struktur Sosial dibahas pada bagian keempat. Ada pembahasan tentang Tomanurung dan kontrak sosial, tentang kepemimpinan, tentang pelapisan sosial, dan juga tentang sistem kerabat.

Bagian kelima adalah tentang “Perubahan Sosial”. Penulis menyebutkan ada dua jenis perubahan sosial yang biasa terjadi dalam masyarakat, yaitu perubahan sosial yang datang secara tiba tiba dan perubahan sosial yang terjadi secara perlahan lahan. Kemudian perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Bugis Makassar terutama yang diawali dengan situasi politik pada pertengahan abad ke-17 sampai masa perang kemerdekaan 1945, dimana pada kurun waktu tersebut telah terjadi perubahan sosial manusia Bugis Makassar. Mulai dari perubahan sistem sosial, perubahan sistem pemerintahan, perubahan sistem pendidikan, perubahan nilai, pergeseran status sosial, dan munculnya kelompok sosial baru dalam masyarakat dan perubahan sosial lainnya.

Bagian keenam adalah Penutup dimana penulis membahas secara ringkas inti isi buku dan sekali lagi membahas secara detail tentang “siri”.

Buku koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kuil Hadrian di Kota Kuno Ephesus, Turki

Kuil Hadrian adalah salah satu gedung yang terindah yang masih tersisa di kota kuno Ephesus di   Provinsi Izmir, Turki. Kuil yang terletak d...

Popular Posts