Sejarah Bone


Buku : Sejarah Bone
Penulis : Abdurrazak Daeng Patunru, dkk.
Penerbit : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar 1995
Jumlah Halaman : vii + 276
ISBN : -

Satu lagi buku sejarah yang ditulis oleh Abdurrazak Daeng Patunru dan kawan kawan, yaitu buku “Sejarah Bone”. Buku ini ditulis oleh tim yang diketuai oleh Abdurrazak Daeng Patunru dengan anggota masing masing adalah : La Side, Andi Makkarausu Amansjah Daeng Ngilau, dan Andi Abu Bakar Punagi. Pertama kali terbit tahun 1968, oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, yang waktu itu ketua Dewan Quratornya adalah Andi Pangerang Daeng Rani, mantan Gubernur Sulawesi.

Kerajaan Bone, termasuk daerah yang banyak ditulis dalam penelitian sejarah. Saya telah membahas dua buku tentang Bone sebelumnya yaitu “Arung Palakka Datu Tungke’na Tana Ugi’E (Mengenal Sejarah Bone dan Pahlawannya), 2010, yang ditulis oleh H. Abdul Qahhar, dan satu lagi buku “Sejarah Kerajaan Tanah Bone” yang ditulis oleh Andi Palloge, 1990. Ini adalah buku ketiga tentang Sejarah Bone. Meskipun sama sama membahas tentang Sejarah Bone, namun ada perbedaan antara ketiga buku ini. Buku yang ditulis oleh Andi Palloge, membahas Bone berdasarkan urutan pemerintahan raja dan ratu Bone yang bertahta, sedangkan pada buku ini, lebih menekankan pada sejarah sebelum Tomanurung, masa La Galigo, masa pergolakan, masa sebelum dan sesudah masuknya Islam, dan masa masa Bone masih dalam taklukan Gowa. Ada juga nama nama raja dan ratu yang  berkuasa tapi tidak sedetail yang ada pada buku karangan Andi Palloge.  Sementara itu yang ditulis oleh H. Abdul Qahhar, lebih fokus ke sosok Arung Palakka, mulai dari masa kecilnya, masa ketika Bone dibawa kekuasaan Gowa, saat menjadi tawanan perang, saat berada di negeri Buton sampai keadaan Bone  saat perang melawan kerajaan Gowa. Ketiga buku sejarah Bone ini semuanya menarik dibaca.

Buku setebal 275 halaman ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, kemudian Kata Pendahuluan dari tim penyusun. Terdiri dari 8 bab, dimana bab pertama yaitu keadaan Bone sebelum Tomanurung. Ada dua sub bagian yaitu Bone pada masa  La Galigo dan Bone pada masa Peralihan. Masa peralihan yang dimaksud  oleh penulis adalah masa sebelum Tomanurung dan raja raja dan ratu selanjutnya berkuasa di tanah Bone.

Bab kedua, tentang masa sejak Tomanurung Ri Matajang sampai dengan masa pemerintahan Ratu We Benrigau Makkalempie.  Ada dua sub bagian yang dibahas disini, yaitu masa Tomanurung sebagai masa pembaharuan dan masa masa perluasan wilayah. Perluasan wilayah terjadi pada masa La Saliu, dan beliau memperluas wilayahnya dengan jalan persahabatan dan juga peperangan. Kerajaan kecil yang ditaklukkan dan diajak bergabung dengan kerajaan Bone antara lain: Pallengoreng, Sinri, Anrobiring, Lembae Ri Melle, Sancore, Apala, Bakke, Tanete, Attang Salo’, Parippung, Lompu dan lain lain.

Pada bab ketiga, dibahas tentang masa masa bergolak sebelum datangnya Islam. Mulai dari masa pemerintahan Raja Bone ke-5 La Tenri Sukki Mappajungnge. Pada masa beliau memerintah, kerajaan Bone berperang melawan kerajaan Luwu yang melahirkan suatu perjanjian bernama Mula Ulu-Ada dengan nama Malela’E Ri Unynyi.  Isi perjanjian antara lain, bahwa Kerajaan Bone selanjutnya akan bersahabat dengan Kerajaan Luwu. Ada 6 pasal dalam perjanjian ini. Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’e, beliau juga membuat suatu perjanjian (Mula-Ulu Ada) atau dalam bahasa Makassar disebut (Ulu Kanaya) dengan Raja Gowa ke-9 Daeng Matanre To Maparrisi Kallonna. Perjanjian itu namannya Mula Ulu-Ada Ri Tamalate. Ada 4 pasal dalam perjanjian ini.

Bab keempat tentang Tanah Bugis menerima Islam, diawali dengan pembahasan tentang suku Bugis dan Makassar menerima Islam. Dijelaskan pula masa masa ketika Gowa dan Tallo menerima Islam dan disusul oleh raja raja Bugis yang juga pada akhirnya memeluk Islam.Pada bab ini dibahas pula sejarah perdagangan antar negara, antara pedagang Arab, India, Cina dan kepulauan Nusantara. Pada bagian lain, kedatangan bangsa Portugis yang justru semakin memperkuat penerimaan dan pemahaman tentang Islam dikalangan raja raja Bugis dan rakyatnya. Kerajaan Gowa sebagai pelopor penyebaran Islam  dan perkembangan Islam di Kerajaan Bone juga dibahas pada bagian ini. La Tenri Ruwa Sultan Adam, raja Bone pertama yang memeluk Islam.

Pada bab kelima, masa masa pemerintahan Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng Arung Timurung.  La Maddaremmeng beristrikan Da Senrima, putri Arung Matowa Wajo, To WaliE. Putra La Madderemmeng yang bernama La Pakokoe yang akhirnya memangku jabatan Ranreng Tua di kerajaan Wajo. Pada masa pemerintahan La Maddaremmeng inilah, para budak budak di merdekakan karena banyak menimbulak masalah dalam kerajaan. Kisah  sang raja ini sangat menarik karena memicu perang dan konflik dengan kerajaan Gowa.

Bab  keenam tentang Arung Palakka MalampeE Gemme’na. Bagian ini yang paling panjang pembahasannya dalam buku ini. Mulai dari masa kecil La Tenritatta (Arung Palakka), saat beliau dibawa ke Gowa sebagai tawanan perang, namun tetap diperlakukan dengan baik dan diberi nama Daeng Serang. Di Gowa, Daeng Serang belajar ilmu bela diri, cara menggunakan tombak dan pedang, dan beliaulah yang paling mahir bermain sepak raga. Selama di Gowa, La Tenritatta bekerja pada Karaeng Pattingalloang dan Karaeng Pattingalloang membebaskannya bergaul dengan para pemuda bangsawan kerajaan Gowa. Bagian ini secara panjang lebar membahas tentang kerajaan Bone dibawa kekuasaan Kerajaan Gowa, dan bagaimana perang besar terjadi antara kedua kerajaan.

Bab ketujuh dibahas tentang Kerajaan Bone setelah wafatnya “MalampeE Gemme’na”, mulai dari raja Bone La Patau MatinroE ri Nagauleng, kemudian ada Ratu Bataritoja MatinroE Ri Tippulunna, ada La Padassajati, La Pareppa, La Panaongi dan ada pembahasan tentang La Temmassonge Arung Baringeng Sultan Abdul Razak Jalaluddin. La Temmassonge ini selain pernah berkuasa di kerajaan Bone, juga pernah menjadi Raja (Datu) Soppeng. Beliau memiliki banyak istri dan anak anaknya berjumlah kuranglebih 80 orang. Diantara sekian banyak istrinya, yang diakui sebagai permaisuri adalah Sitti Habibah dan Sitti Aisyah, keduanya adalah cucu Syech Yusuf Tuanta SalamaE Ri Gowa.

Bab terakhir (bab kedelapan) adalah masa masa pemerintahan Raja Bone La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin MatinroE Ri Rompegading. Selanjutnya masa pemerintahan Raja Bone To Appatunru, Ratu I Benni (I Manneng) Arung Data, Arumpunna La Mappasiling Arung Panyili, La Parenrengi Arungpugi, Arungpone I Tenriawaru Besse Kajuara Sultana Ummulhadi, Arungpone Singkerrurukka Arung Palakka, Arumpone I Benrigau Daeng Marowa Arung Timurung,  Arungpone La Pawawoi Karaeng Segeri dan terakhir kedahsyatan peperangan antara pasukan kerajaan Bone melawan pasukan Belanda.

Bagian akhir dari buku ini membahas tentang keadaan Bone setelah kemerdekaan dan pembagian wilayahnya.

Buku ini cukup lengkap membahas kerajaan Bone. Koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tim Pembinaan Perpustakaan Untuk Layanan Lebih Baik

Pembinaan Perpustakaan adalah salah satu upaya pemerintah meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum, sehingga layanan perpust...

Popular Posts