Besse Kajuara, Srikandi Tangguh Dari Timur


Buku: Besse Kajuara, Srikandi Tangguh dari Timur
Penulis: Harun Rasyid Djibe
Penerbit: PT. Media Fajar
Tempat : Makassar
Tahun 2007
Halaman: 170

Besse Kajuara adalah Ratu Kerajaan Bone XXVIII (ke-28). Nama lengkapnya adalah Tenriawaru Pancai Tana Besse Kajuara, berkuasa di Bone dari tahun 1857 1860. Beliau menggantikan suaminya yang wafat, yaitu La Parenrengi Arumpugi Sultan Ahmad Saleh Muhiddin, Matinroe ri Ajangbenteng (Raja Bone XXVII). Meskipun hanya memimpin kerajaan Bone selama 3 tahun, namun namanya dikenang sebagai pemimpin Bone yang gigih melawan penjajah Belanda. Besse Kajuara tak sekedar sebagai pemimpin kerajaan, tapi juga panglima perang yang memimpin pasukannya sendiri melawan pasukan kompeni Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Mayor Steimetz. Perang Bone melawan Belanda berlangsung selama setahun, yang akhirnya demi rakyat Bone, sang ratu menyingkir ke daerah Passempe....

Buku ini terdiri dari 10 bagian (Bab), dimana bagian awal buku membahas tentang keadaan geografis dan etnografis kerajaan Bone sebelum perang tahun 1859, berbagai permasalahan yang dihadapi kerajaan Bone dan kerajaan Gowa, serta bagaimana kerajaan Bone bangkit kembali.

Selanjutnya pembahasan tentang pemerintah kerajaan Bone dibawah pimpinan Besse Kajuara, yang tidak mau tunduk pada tekanan pemerintah kolonial Belanda yang akhirnya menimbulkan ketegangan. Sang penguasa Bone (Besse Kajuara) tetap kukuh tunduk pada pemerintahan Belanda, bahkan dikatakan menghina pemerintah Belanda. Akhirnya pasukan Belanda mendarat di Bajoe, dan terjadilah pertempuran sengit bahkan berlangsung selama satu tahun (1859). Pertempuran sering terjadi di Sungai Cenrana dan pasukan Belanda sering bertahan di Bajoe. Bahkan kata sang Ratu, "Setiap Jengkal Tanah Bone harus dipertahankan."

Bagian akhir buku mengisahkan saat  Besse Kajuara diiringi dengan 800 pasukan berkuda menuju daerah, dan juga tentang nasehat nasehatnya kepada para prajuritnya, sampai kematiannya di kampung kerabanya, sehingga diberi gelar anumerta Ratu Matinroe ri Asseajingenna (Ratu yang wafat di kampung kerabatnya). Besse Kajuara dikenang sebagai pemimpin kerajaan Bone yang tidak pernah tertangkap, tidak pernah mau diajak berunding oleh Belanda.

Sayang sekali karena buku ini banyak cacatnya, padahal satu-satunya yang saya temukan dalam koleksi. Ada beberapa halaman kosong, dan ada lembaran yang lepas.

Buku ini sangat relevan dijadikan bahan rujukan penulisan sejarah Bone, atau tentang Besse Kajuara, atau perang Bone - Belanda di abad ke-19 lalu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kuil Hadrian di Kota Kuno Ephesus, Turki

Kuil Hadrian adalah salah satu gedung yang terindah yang masih tersisa di kota kuno Ephesus di   Provinsi Izmir, Turki. Kuil yang terletak d...

Popular Posts