H. Maulwi Saelan, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66

Buku : H. Maulwi Saelan, Dari Revolusi ’45 Sampai Kudeta ’66, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa.

Penulis: H. Maulwi Saelan

Penerbit: Yayasan Hak Bangsa, Jakarta

Tahun: 2001

Jumlah Halaman: xxii + 410

ISBN : 97696535-0-9

Buku ini diterbitkan dalam rangka peringatan 100 tahun Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia. Ditulis sendiri oleh Maulwi Saelan, seorang ajudan pribadi Presiden Soekarno, yang mendampingi beliau pada hari hari terakhirnya. Maulwi Saelan juga adalah Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa.  Menurut Maulwi Saelan, buku ini bukanlah buku autobiografi, namun hanya sekadar catatan perjalan hidup dengan segala romantikanya, terutama saat terjadinya revolusi fisik bangsa Indonesia, dan keterkaitannya dengan pemimpin besar revolusi : Bung Karno.

Terdiri dari 410 halaman dan terbagi dalam 24 bab, diawali dengan daftar isi, pengantar redaksi dan seulas pengantar dari penulis. Pada bagian awal buku, juga menarik disimak beberapa foto hitam putih kegiatan Maulwi Saelan saat menjadi pemain sepakbola nasional, yang awalnya merupakan pemain Jakarta, lalu kemudian menjadi pemain PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), dan bahkan pernah menjadi Ketua Umum PSSI.

Maulwi Saelan lahir di Makassar 8 Agustus 1926, dan sejak kecil sudah bercita cita jadi pemain sepak bola meskipun olah raga lain juga digemarinya seperti atletik dan tennis. Pada Olympiade XVI 1956 di Melbourne Australia, Maulwi Saelan adalah kiper PSSI dan berhasil menahan tim Uni Sofyet 0-0, meskipun pada akhirnya kalah 0-4 setelah perpanjangan waktu. Menjadi pemain sepak bola yang bisa tampil di Olympiade adalah cita citanya sejak kecil.

Bab bab selanjutnya membahas tentang masa masa perang kemerdekaan, sejak penjajahan Belanda lalu kemudian masuknya Jepang. Perjuangan Emmy Saelan yang juga adik kandung Maulwi Saelan juga dibahas dalam buku ini, termasuk perjuangan Wolter Mongisidi di Makassar. Peristiwa lainnya seperti Peristiwa Madiun, Invasi Belanda ke Yogyakarta, merebut kembali Sulawesi Selatan, rencana Belanda untuk membunuh Bung Karno yang gagal,  juga diuraikan secara detail dalam buku ini.

Pembelaan terhadap Bung Karno juga diuraikan pada buku ini. Ada bab yang berjudul, “sesudah dinista lalu digulingkan”, “Bung Karno tinggalkan Istana pakai piyama dan kaos oblong”, “Coup D’tat”. Ada uraian tentang pemikiran, tentang manuver dan strategi Bung Karno, Konferensi Asia Afrika, gerakan Non-Blok dan Nefo, penyelamatan presiden dari peristiwa G-30-S, penemuan Sumur Lubang Buaya, kesaksian ibu Hartini, perlakuan terhadap Bung Karno, dan kesehatan beliau .

Gagasan dan pemikiran Bung Karno dibahas juga pada salah satu sub bab. Gagasan dan pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme, Trisakti dan Character and Nation Building.

Bagian akhir dicantumkan lampiran lampiran terdiri dari piagam Bintang Gerilya Maulwi Saelan, selebaran tentara Belanda, daftar Doktor Honoris Causa  yang diberikan kepada Ir. Sukarno, daftar negara peserta Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, surat surat Keputusan Presiden Republik Indonesia dan terakhir daftar Harta Kekayaan milik Bung Karno.

Buku ini dilengkapi dengan foto foto dokumentasi yang cukup banyak, foto Maulwi Saelang saat menjadi pemain sepakbola (PSSI), saat masih bertugas sebagai ajudan Bung Karno, foto Bung Karno dalam berbagai acara, bendera kepresidenan dan lambang Duaja Resimen Tjakrabirawa dan lain lain.

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku : Menemukan Makassar di Lorong Waktu

Buku : Menemukan Makassar di Lorong Waktu Penulis : Ahmadin Penerbit : Pustaka Refleksi Tempat terbit : Makassar Tahun : 2008 Jumlah Halaman...

Popular Posts